Home >> June, 2006

And now I choose JSF

Posted on: Wednesday, June 28th, 2006 in: Oprekan

Setelah lumayan memahami Struts, dan siap-siap untuk mulai membuat aplikasi menggunakan framework Struts, saya dihadapkan oleh satu pilihan lagi: JSF (JavaServer Faces). Awalnya saya pikir JSF ini akan melengkapi layer View dari framework Struts. Ternyata, JSF dan Struts adalah dua framework yang berbeda, dan memiliki irisan khususnya pada layer View.

JSF adalah “future”. Dalam memilih framework mana yang akan digunakan, sebagian saran menunjuk ke JSF, khususnya jika aplikasi yang akan dibuat adalah aplikasi baru. Hanya gunakan Struts jika: aplikasinya sudah ada dan dibuat menggunakan Struts, atau anda hanya memiliki waktu singkat untuk membangun aplikasi baru sementara tim developer anda hanya menguasai Struts. Selebihnya, gunakan JSF!

Java, Servlet, JSP, Struts in 1 day? Oh nooooo!

Posted on: Thursday, June 22nd, 2006 in: Oprekan

Tugas utamaku di perpustakaan RUG ini adalah membangun aplikasi Semantic Web untuk domain sejarah (history). Beberapa subtask sudah dilalui seperti membangun Ontology, Term dan Name Entity Extraction, Framework aplikasi web menggunakan PHP, dan sekarang sedang ngoprek Relation Extraction.

Sebuah pertanyaan yang mengusikku sejak awal membangun aplikasi ini: apakah aku akan menggunakan PHP full, atau PHP-Java 50-50, atau Java full? Pertanyaan ini muncul karena ada dua kondisi yang saat ini sulit dijinakkan. Aku tidak bisa Java (object oriented language) sama sekali, dan selama ini aku membangun aplikasi web menggukana PHP (procedural language). Di sisi lain, tools untuk membangun semantic web hampir semuanya berbasis Java, seperti GATE (framework natural language processing), Sesame (RDF/OWL storing and querying), dan Weka (machine learning). Akan mudah sekali menggunakan semua tool ini jika aplikasi webnya dibangun menggunakan Java.

Bagaimana Google Mengeruk Uang?

Posted on: Saturday, June 17th, 2006 in: Best Practices

“Don’t Be Evil” adalah motto yang diambil Larry dan Sergey untuk perusahaannya. Mereka tidak ingin memasukkan iklan ke dalam hasil pencarian yang akan membuat search engine mereka menjadi bias, seperti yang dilakukan oleh beberapa search engine yang ada. Oleh karena itu, sejak awal, perusahaan yang dibuat tanpa BISNIS PLAN ini tidak tertarik dengan ikan sebagai sumber pendapatan. Sebagai gantinya, mereka mengharapkan kontrak lisensi search engine dengan perusahaan lain yang menjadi bisnis utama mereka. Namun, pendapatan dari sektor ini tak kunjung naik.

Adalah Danny Sullivan, editor Search Engine Watch, yang memberi pandangan sebagai ekspert kepada mereka tentang bagaimana memasukkan iklan tanpa merusak objektifitas hasil search engine. Apakah Google kemudian akan mengsubkontrakkan urusan iklan ini kepada perusahaan lain seperti Overture atau ditangani sendiri? Hasilnya, Google kemudian memasang “Sponsored Links” dan “targetted text” dalam halaman hasil pencarian. Mereka bisa memiliki kontrol penuh atas iklan yang ditampilkan, dan tak perlu membagi penghasilan dengan perusahaan lain. Google secara jelas membuat pembedaan, sehingga pengguna bisa membedakan mana link yang paling relevan berdasarkan sponsor dan mana yang berdasarkan algoritma search engine Google.

Saatnya menambah ‘Semantic Language’ pada HTML

Posted on: Saturday, June 17th, 2006 in: Semantic Web

Tim Berners-Lee, penemu Web, dalam sebuah konferensi WWW 2006 di Endiburgh, Scotland, mengatakan bahwa kini sudah tiba saatnya bagi pengembang web untuk menambahkan ’semantic language’ pada HTML. Lima tahun yang lalu, Semantic Web baru berupa diagram kue lapis. Sekarang, semua lapisan kue tersebut sudah terbangun. Dulu kita bilang butuh RDF, bahasa Ontology, dan bahasa query. Lapisan terakhir ini sekarang sudah mendekati final, dengan SPARQL yang memasuki fase rekomendasi.

Bagaimana menghubungkan Web lama dengan Web baru (semantic web)? Lapisan terakhir tersebut yang akan membuat perbedaan. “SPARQL is going to make a huge difference, because behind a SPARQL server you can put a huge amount of existing data and then serve it up to the Semantic Web,” kata Berners-Lee.