Home >> April, 2006

Highly needed: Text Analysis for Indonesian Language

Posted on: Thursday, April 27th, 2006 in: Idea

Perhatianku tertuju pada sebuah posting di milis Jurnalisme pagi ini, tentang keberpihakan media. Mbak Sirikit menulis begini:

Sabili, Suara Hidayatullah, Suara Pembaruan, Republika, Christian Science Monitor, adalah media yang berani “terus terang” tentang ideologinya, dan tak takut ambil risiko menjadi “terbatas segmentasinya”.

Sama sekali bukan media serudak seruduk seperti yang Anda labelkan. Kalau Sabili one-sided, so be it, segmennya amat terbatas. Yang jelas, mereka “berani terbuka”, tak merasa perlu “pura-pura netral”.

Sedangkan Kompas, Tempo, yang Anda puji “punya cara halus dan cerdas”, saya setuju pendapat Anda. Saya juga pembaca setia dua media itu. Namun tidak jarang media seperti Kompas yang lazimnya netral itu tiba-tiba sangat kentara biasnya/berpihak pada isu-isu khusus. Contoh terakhir adalah penolakan RUU APP dan pembatalan/penundaan eksekusi Tibo. Sangat-sangat kentara melebihi batas kewajaran standar Kompas sendiri. One-sided.

Onno W. Purbo: Applause Meriah di Yale University Bagi Para Pejuang Frekuensi Indonesia

Posted on: Wednesday, April 26th, 2006 in: Story

Di hari minggu pagi 23 April 2006, saya memperoleh bagian untuk berbicara di planery session conference Access to Knowledge yang di selenggarakan oleh Yale Law School di Yale University Amerika Serikat. Konference ini fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan berbagai isu yang berkaitan dengan akses kepada pengetahuan bagi bangsa-bangsa di dunia yang di hadiri oleh peserta lebih dari 40 negara di dunia.

Sebetulnya topik yang di ajukan kepada saya adalah limitasi bagi access to knowledge, yang sebetulnya cukup sederhana di Indonesia, seperti, bahasa inggris, mahalnya infrastruktur, rakyat yang tidak kaya, dan peraturan yang terlalu ketat di tambah korupsi.

Dengan Menyebut Nama Allah

Posted on: Tuesday, April 25th, 2006 in: Renungan

“Jori look at this,” kataku kepada Jori, temen kerjaku (mahasiswa PhD asli Belanda). Layar monitorku menampilkan Google Image dengan beberapa gambar awan dan sarang lebh bertuliskan ‘Allah’ (dalam tulisan Arab). Setelah duduk di kursinya, dia mencoba sendiri. Dia ketikkan kata kunci ‘tulisan Allah’ sesuai petunjukku. Ternyata dia mendapatkan hasil gambar yang berbeda, bahkan lebih banyak. Ada pola ‘Allah’ di awan yang lain serta dalam buah tomat yang telah dikupas.

Pagi ini aku memang iseng-iseng mencari gambar-gambar tersebut, setelah membaca berita di Waspada Online (25 April 2006) tentang tulisan Allah dan Muhammad yang membuat heboh Medan. Aku belum mendapatkan gambar yang kucari, namun di bawah ini beberapa gambar yang kudapat dari peristiwa-peristiwa serupa sebelumnya.

Mensyukuri Keseimbangan

Posted on: Sunday, April 23rd, 2006 in: Renungan, Story

“Masya Allah, salah jalan juga? Jadi sekarang baru mau kembali ke tempat semula?” tanya Eko kepada seorang penelepon. Sekira jam 10 malam kami dalam rombongan keluarga (2 keluarga dengan masing-masing 2 anak, serta 1 keluarga dengan 1 anak dan ibu hamil) baru tiba di Hotel Alecsia setelah sempat salah jalan. Total jendral kami harus nambah 1 kilo meter jalan kaki. Ternyata si penelepon dan rombongannya (para bujang dan keluarga tanpa anak) juga salah jalan. Bahkan lebih parah. Harusnya ke Berlin utara, tapi yang malam itu malah ke Berlin selatan.

Ketidaknyamanan ini bukan yang pertama kali terjadi dalam acara jalan-jalan deGromiest ke Berlin musim ini. Sebelumnya sudah ada cerita HP hilang dan salah locker. Dan hingga akhir perjalanan, tampaknya hampir setiap orang telah mendapat ujiannya masing-masing, seperti kaki yang terkilir, kaki kram, hingga harus tertinggal kereta.

Galiro (Gerakan Lima Euro)

Posted on: Sunday, April 23rd, 2006 in: Story

Jamu apa ini? Galian Rogo? Biar badan yang capek bisa segar bugar? Dugaan anda tidak terlalu salah. Meskipun jauh berbeda namun ada miripnya. Yang satu ini untuk obat hati. Hati yang sempit karena belitan ekonomi semoga sedikit menjadi lebih lapang. Juga sebaliknya, hati yang tidak tenang karena terlalu banyak uang semoga bisa lebih bahagia setelah mendermakannya. Itulah Galiro, singkatan dari Gerakan Lima Euro.

Ide gerakan yang dimulai oleh mahasiswa Indonesia di Groningen ini sebenarnya sangat sederhana. Siapapun bisa memikirkan dan menjalankannya. Setiap bulan, secara rutin kita menyisihkan (bukan hanya disisihkan saja, tapi kemudian dikumpulkan ya) sebagian uang ke sebuah pundi. Jumlahnya tidak terlalu besar, hanya seharga satu porsi kebab. Sebuah angka satu digit tanpa nol, lima Euro saja. Jumlah ini kalau ditransfer ke Indonesia berubah jadi besar sekali, tambah empat nol di belakangnya. Di sana bisa digunakan untuk membeli lebih banyak kebab (kalau ada), atau agar lebih berguna, untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak bisa membayar biaya sekolah, atau yang terkena musibah seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Yang terakhir ini sepertinya sudah menjadi langganan yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun.

Jangan tulis sesuatu yang menarik, tulis sesuatu yang menggugah

Posted on: Wednesday, April 19th, 2006 in: On Writing

Ada dua hal yang kupikirkan selama perjalanan dari rumah ke kantor tadi pagi. Pekerjaan dan tulisan. Apa yang aku targetkan dua hari ini untuk proyek Semantic Web, dan apa yang akan aku tulis di waktu senggangku. Aku berencana memanfaatkan setengah atau satu jam sebelum bekerja untuk menulis apapun yang aku suka. Dan khusus untuk hari ini, aku ingin menulis salah satu catatan dari perjalanan ke Berlin.

Sesampai di kantor, aku buka halaman terakhir log-book Semantic Web untuk memastikan target hari ini. Minggu lalu aku belum selesai membuat program penyusun corpus for a specific domain. Ini yang harus aku hasilkan. Oke beres. I’ll do it.

Ketemu Evangelist Mormon

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

“Hai,” sapa dua orang pemuda berbaju jas necis ketika aku berjalan di belakang katedral Trento. Cahaya lampu jalanan cukup terang untuk memperlihatkan wajah mereka yang masih muda, kupikir usianya di bawahku.

“Hai,” jawabku. Aku terus berjalan bersisipan sambil terus menatap mereka.

“Can you speak in English?”

“Yes, I can.” Aku berhenti sejenak dan menghadapkan tubuhku ke arah mereka. Biasanya aku tak berminat berbicara dengan orang asing di jalan. Apalagi malam-malam sekitar jam 9 dengan perut keroncongan. Namun aku ingin tahu mengapa mereka bertanya begitu.

Poligami, Social Dinner, dan Vegetarian Food

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

Babi dan Poligami

Mijail (baca Migoul) temanku dari Essex sangat ramah dan baik. Waktu makan siang, dia bilang mau bergabung dengaku. Ya aku oke saja, karena memang sendirian. Aku sengaja tidak ingin selalu bersama supervisorku atau teman dari Groningen. Biar dapat teman baru.

Waktu itu cuaca mendung, sedikit gerimis, dan dingin sekali. Aku malas cari restoran yang jauh. Akhirnya, untuk ketigakalinya aku ke restoran dekat tempat konferensi, Restoran Padevana.

Setelah membolak-balik daftar menu yang ada gambarnya, aku jatuhkan pilihan pada menu vegetarian. Salad dan jamur. Mau makan pizza lagi? Tidak deh. Sudah bosan. Mijail sendiri pesan menu daging. Aku bilang ke dia, sebenarnya aku bisa makan daging kambing atau sapi, tapi tidak babi.

Tutorial Mantap dan TKI

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

Overview yang luar biasa

Satu-satunya tutorial yang aku akan ikuti, dan aku juga bayar untuk itu, adalah Ontology Learning from Text. Diberikan oleh Paul dan Phillipe dari DFKI Jerman. Riset tentang ontology, semantic web, dan segala yang berhubungan dengan ini memang sedang getol dilakukan di institusi mereka. Dan mereka termasuk salah satu yang terdepan dalam riset ini.

Apa yang bisa kukatakan tentang tutorial ini adalah: sangat terstruktur, lengkap, dan bermanfaat sekali bagiku. Itu yang penting. Mereka mengidentifikasikan lalu menstrukturkan proses pembuatan ontology melalui beberapa lapisan. Setiap lapisan dijelaskan dengan cukup jelas, dilengkapi referensi, dan implementasi (tools) yang merealisasikan layar tersebut.