Home >> Story

Chat dengan Telfort

Posted on: Thursday, December 21st, 2006 in: Oprekan, Story

Salah satu pekerjaan di Internet yang saya sangat kurang frekuensinya adalah chatting. Saya tahu, kadang manfaatnya sangat besar. Namun sering itu menyita waktu. Mungkin saya masih agak tradisional. Mending nelepon atau ngimel. Jadi hampir tidak pernah saya online, kecuali ada janjian untuk konference. Sayang sekali ya, saya lewatkan kemudahan internet ini.
Namun, malam ini saya ingin […]

Kecil dan sepele untuk semua

Posted on: Tuesday, May 2nd, 2006 in: Wisdom, Story

(Tulisan ini dari Mbak Mia)

Beberapa tahun yang lalu, saya berkesempatan berkenalan dengan salah seorang warga pedalaman Nusa Tenggara Timur. Namanya, Vincent. Dia datang ke Jakarta untuk protes terhadap pelaksanaan salah satu proyek pertanian di NTT. Proyek ini adalah proyek penanaman jambu mete yang didanai oleh organisasi tempat saya bekerja. Jambu mete merupakan komoditi yang sangat cocok untuk wilayah kering dan tandus. Semakin kering dan tandus, semakin banyak produksinya. Aneh ya?

Menurut pengakuan Vincent, proyek jambu mete telah masuk ke wilayah adat dimana masih ada perseteruan antara warga dan pemerintah daerah. Menurut ketentuan yang berlaku, proyek tidak boleh dilaksanakan sebelum perseteruan ini selesai. Namun, nampaknya pemerintah daerah dikejar oleh target proyek dan mengambil jalan pintas: langsung menanam di wilayah itu. Jelas saja, warga marah dan terjadilah kontak fisik yang menyebabkan salah seorang warga meninggal dan lainnya luka-luka.

Onno W. Purbo: Applause Meriah di Yale University Bagi Para Pejuang Frekuensi Indonesia

Posted on: Wednesday, April 26th, 2006 in: Story

Di hari minggu pagi 23 April 2006, saya memperoleh bagian untuk berbicara di planery session conference Access to Knowledge yang di selenggarakan oleh Yale Law School di Yale University Amerika Serikat. Konference ini fokus pada hal-hal yang berkaitan dengan berbagai isu yang berkaitan dengan akses kepada pengetahuan bagi bangsa-bangsa di dunia yang di hadiri oleh peserta lebih dari 40 negara di dunia.

Sebetulnya topik yang di ajukan kepada saya adalah limitasi bagi access to knowledge, yang sebetulnya cukup sederhana di Indonesia, seperti, bahasa inggris, mahalnya infrastruktur, rakyat yang tidak kaya, dan peraturan yang terlalu ketat di tambah korupsi.

Mensyukuri Keseimbangan

Posted on: Sunday, April 23rd, 2006 in: Renungan, Story

“Masya Allah, salah jalan juga? Jadi sekarang baru mau kembali ke tempat semula?” tanya Eko kepada seorang penelepon. Sekira jam 10 malam kami dalam rombongan keluarga (2 keluarga dengan masing-masing 2 anak, serta 1 keluarga dengan 1 anak dan ibu hamil) baru tiba di Hotel Alecsia setelah sempat salah jalan. Total jendral kami harus nambah 1 kilo meter jalan kaki. Ternyata si penelepon dan rombongannya (para bujang dan keluarga tanpa anak) juga salah jalan. Bahkan lebih parah. Harusnya ke Berlin utara, tapi yang malam itu malah ke Berlin selatan.

Ketidaknyamanan ini bukan yang pertama kali terjadi dalam acara jalan-jalan deGromiest ke Berlin musim ini. Sebelumnya sudah ada cerita HP hilang dan salah locker. Dan hingga akhir perjalanan, tampaknya hampir setiap orang telah mendapat ujiannya masing-masing, seperti kaki yang terkilir, kaki kram, hingga harus tertinggal kereta.

Galiro (Gerakan Lima Euro)

Posted on: Sunday, April 23rd, 2006 in: Story

Jamu apa ini? Galian Rogo? Biar badan yang capek bisa segar bugar? Dugaan anda tidak terlalu salah. Meskipun jauh berbeda namun ada miripnya. Yang satu ini untuk obat hati. Hati yang sempit karena belitan ekonomi semoga sedikit menjadi lebih lapang. Juga sebaliknya, hati yang tidak tenang karena terlalu banyak uang semoga bisa lebih bahagia setelah mendermakannya. Itulah Galiro, singkatan dari Gerakan Lima Euro.

Ide gerakan yang dimulai oleh mahasiswa Indonesia di Groningen ini sebenarnya sangat sederhana. Siapapun bisa memikirkan dan menjalankannya. Setiap bulan, secara rutin kita menyisihkan (bukan hanya disisihkan saja, tapi kemudian dikumpulkan ya) sebagian uang ke sebuah pundi. Jumlahnya tidak terlalu besar, hanya seharga satu porsi kebab. Sebuah angka satu digit tanpa nol, lima Euro saja. Jumlah ini kalau ditransfer ke Indonesia berubah jadi besar sekali, tambah empat nol di belakangnya. Di sana bisa digunakan untuk membeli lebih banyak kebab (kalau ada), atau agar lebih berguna, untuk membantu saudara-saudara kita yang tidak bisa membayar biaya sekolah, atau yang terkena musibah seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan. Yang terakhir ini sepertinya sudah menjadi langganan yang tidak pernah diharapkan oleh siapapun.

Ketemu Evangelist Mormon

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

“Hai,” sapa dua orang pemuda berbaju jas necis ketika aku berjalan di belakang katedral Trento. Cahaya lampu jalanan cukup terang untuk memperlihatkan wajah mereka yang masih muda, kupikir usianya di bawahku.

“Hai,” jawabku. Aku terus berjalan bersisipan sambil terus menatap mereka.

“Can you speak in English?”

“Yes, I can.” Aku berhenti sejenak dan menghadapkan tubuhku ke arah mereka. Biasanya aku tak berminat berbicara dengan orang asing di jalan. Apalagi malam-malam sekitar jam 9 dengan perut keroncongan. Namun aku ingin tahu mengapa mereka bertanya begitu.

Poligami, Social Dinner, dan Vegetarian Food

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

Babi dan Poligami

Mijail (baca Migoul) temanku dari Essex sangat ramah dan baik. Waktu makan siang, dia bilang mau bergabung dengaku. Ya aku oke saja, karena memang sendirian. Aku sengaja tidak ingin selalu bersama supervisorku atau teman dari Groningen. Biar dapat teman baru.

Waktu itu cuaca mendung, sedikit gerimis, dan dingin sekali. Aku malas cari restoran yang jauh. Akhirnya, untuk ketigakalinya aku ke restoran dekat tempat konferensi, Restoran Padevana.

Setelah membolak-balik daftar menu yang ada gambarnya, aku jatuhkan pilihan pada menu vegetarian. Salad dan jamur. Mau makan pizza lagi? Tidak deh. Sudah bosan. Mijail sendiri pesan menu daging. Aku bilang ke dia, sebenarnya aku bisa makan daging kambing atau sapi, tapi tidak babi.

Tutorial Mantap dan TKI

Posted on: Thursday, April 13th, 2006 in: Story, Traveling

Overview yang luar biasa

Satu-satunya tutorial yang aku akan ikuti, dan aku juga bayar untuk itu, adalah Ontology Learning from Text. Diberikan oleh Paul dan Phillipe dari DFKI Jerman. Riset tentang ontology, semantic web, dan segala yang berhubungan dengan ini memang sedang getol dilakukan di institusi mereka. Dan mereka termasuk salah satu yang terdepan dalam riset ini.

Apa yang bisa kukatakan tentang tutorial ini adalah: sangat terstruktur, lengkap, dan bermanfaat sekali bagiku. Itu yang penting. Mereka mengidentifikasikan lalu menstrukturkan proses pembuatan ontology melalui beberapa lapisan. Setiap lapisan dijelaskan dengan cukup jelas, dilengkapi referensi, dan implementasi (tools) yang merealisasikan layar tersebut.

Interview di Pictogram

Posted on: Thursday, February 23rd, 2006 in: Semantic Web, Story

Pictogram adalah majalah bulanan yang diterbitkan oleh Rekencentrum (computer center) dan Universiteit Bibliotheek (perpustakaan universitas) Universitas Groningen. Di setiap isu, selalu ditampilkan wawancara dengan salah satu staf dari RC atau UB, serta isu-isu lain seputar perkembangan infrastruktur teknologi informasi dan layanan informasi.

Saya diwawancara Pictogram mungkin karena saya sudah lebih dari 2 tahun bekerja di sini dan sedang mengerjakan proyek semantic web di perpustakaan universitas (tempat kerja saya kedua; yang pertama di departemen information science).