Home >> Idea

Two rule of thumbs

Posted on: Wednesday, November 1st, 2006 in: Idea

Saat istirahat sore di Cafe, saya ngobrol sama Henk, bosku di perpustakaan. Salah satu isu yang aku tanyakan adalah soal copyright. Apakah publisher akan mengijikan, atau apakah tindakan kita legal, ketika aplikasi yang saya buat menyedot metadata dari publisher, kemudian mengolahnya menggunakan teknik komputasi tertentu, dan menyimpannya ke dalam Ontology untuk disajikan ke pengguna. Jelas, di sini sudah ada perubahan content.

Henk bilang, ada dua rule yang bisa kita pegang di sini, mengingat hukum belum mengatur hal di atas:

  • Selama belum ada larangan, berarti boleh
  • Lebih baik minta “maaf”, dari pada minta “ijin”

The Heilmeyer Catechism

Posted on: Thursday, August 24th, 2006 in: Idea

Bagaimana cara yang paling efektif untuk menkomunikasikan sebuah ide penelitian? Heilmeyer, mantan direktur ARPA, mengusulkan serangkaian pertanyaan yang perlu dijawab dalam sebuah proposal penelitian:

1. What is the problem, why is it hard?
2. How is it solved today?
3. What is the new technical idea; why can we succeed now?
4. What is the impact if successful?
5. How will the program be organized?
6. How will intermediate results be generated?
7. How will you measure progress?
8. What will it cost?

Mengetahui Jaringan antar Individu melalui Yahoo API dan Wikipedia

Posted on: Monday, May 1st, 2006 in: Idea

Anggap anda memiliki sebuah daftar nama-nama orang terkenal. Misalnya: Suharto, Megawati, Gus Dur, … Anda ingin mengetahui bagamana struktur hubungan antara orang-orang tersebut. Misalnya bagaimaan Suharto dan Megawati terhubung. Di bawah ini link menarik yang menjelaskan teknik sederhana memanfaatkan URL service di Internet (Yahoo API dan Wikipedia) untuk mendapatkan struktur tersebut.

Using Wikipedia and the Yahoo API to give structure to flat lists

Highly needed: Text Analysis for Indonesian Language

Posted on: Thursday, April 27th, 2006 in: Idea

Perhatianku tertuju pada sebuah posting di milis Jurnalisme pagi ini, tentang keberpihakan media. Mbak Sirikit menulis begini:

Sabili, Suara Hidayatullah, Suara Pembaruan, Republika, Christian Science Monitor, adalah media yang berani “terus terang” tentang ideologinya, dan tak takut ambil risiko menjadi “terbatas segmentasinya”.

Sama sekali bukan media serudak seruduk seperti yang Anda labelkan. Kalau Sabili one-sided, so be it, segmennya amat terbatas. Yang jelas, mereka “berani terbuka”, tak merasa perlu “pura-pura netral”.

Sedangkan Kompas, Tempo, yang Anda puji “punya cara halus dan cerdas”, saya setuju pendapat Anda. Saya juga pembaca setia dua media itu. Namun tidak jarang media seperti Kompas yang lazimnya netral itu tiba-tiba sangat kentara biasnya/berpihak pada isu-isu khusus. Contoh terakhir adalah penolakan RUU APP dan pembatalan/penundaan eksekusi Tibo. Sangat-sangat kentara melebihi batas kewajaran standar Kompas sendiri. One-sided.

Greenstone untuk IDLN?

Posted on: Monday, March 6th, 2006 in: Oprekan, Idea

Sudah lama saya mikir tentang iDL, namun kesibukan di sini bikin saya belum bisa fokus scr penuh. Nah, email saya ini ingin bertukar pikiran dg temen2, tentang bagaimana kita mengembangkan IDLN ke depan. Bukan di sisi organisasi, tetapi pada requirement sistem masa depan dan bagaimana kita mengembangkan teknologinya. (Soal organisasi saya serahkan ke temen2 di Indonesia).

Nah, kembali ke soal teknologi, dulu kita semapat merencanakan bikin iDL, yang merupakan versi lebih general dari GDL. Saya perhatikan effort untuk membikinnya tidak sedikit, dan biaya nya juga tak sedikit. Belum lagi dengan maintenance bugs.

Nielsen: desain web harus to the point

Posted on: Wednesday, February 22nd, 2006 in: Idea

Saya sedang merancang human-computer interface/interaction untuk project semantic web di UB. Untuk mengerjakan proyek ini, saya mulai dari akhir: membuat mockup atau desain interface dan interaksi antara pengguna dengan sistem. Dari sini akan mudah diketahui, apa yang harus ditampilkan oleh sistem, dan selanjutnya, proses apa yang harus dilewati untuk menampilkan item informasi tersebut.

Wawancara Jacob Nielson dengan CNN cukup memberi inspirasi bagaimana mendesain interface web ini.

Andai Galiro itu Software

Posted on: Thursday, February 16th, 2006 in: Idea, Organisasi

Galiro atau Gerakan Lima Euro merupakan gerakan sederhana yang berangkat dari pemikiran sederhana, untuk sesuatu yang tidak sederhana, sesuatu yang mulia. Lima euro per bulan tidak lah terlalu berat bagi para mahasiswa di Eropa. Namun, lima euro sebulan sudah cukup untuk membiayai sekolah seorang anak di Indonesia. Jika lima euro dari 20% mahasiswa ini saja dikumpulkan dalam sebuah pundi amal, akan ada banyak sekali anak sekolah, orang miskin, korban bencana, dan mereka yang membutuhkan di Indonesia yang bisa dibantu.

Gerakan ini dimulai pada bulan Ramadhan, Oktober tahun 2005 yang lalu. Hanya dari sebagian mahasiswa muslim di Groningen saja, sudah bisa terkumpul dana lumayan di bulan pertama. Dan di bulan kedua, sudah bisa dikucurkan 300 euro dari pundi amal ini ke Indonesia. Melihat sederhana, ringan, mudah, dan mulianya program ini, banyak donatur yang secara otomatis memprogram tabungannya agar mengirim 5 euro ke rekening Galiro. Saya lihat ada potensi yang lumayan untuk membantu kesulitan sebagian rakyat Indonesia.