“Masya Allah, salah jalan juga? Jadi sekarang baru mau kembali ke tempat semula?†tanya Eko kepada seorang penelepon. Sekira jam 10 malam kami dalam rombongan keluarga (2 keluarga dengan masing-masing 2 anak, serta 1 keluarga dengan 1 anak dan ibu hamil) baru tiba di Hotel Alecsia setelah sempat salah jalan. Total jendral kami harus nambah 1 kilo meter jalan kaki. Ternyata si penelepon dan rombongannya (para bujang dan keluarga tanpa anak) juga salah jalan. Bahkan lebih parah. Harusnya ke Berlin utara, tapi yang malam itu malah ke Berlin selatan.
Ketidaknyamanan ini bukan yang pertama kali terjadi dalam acara jalan-jalan deGromiest ke Berlin musim ini. Sebelumnya sudah ada cerita HP hilang dan salah locker. Dan hingga akhir perjalanan, tampaknya hampir setiap orang telah mendapat ujiannya masing-masing, seperti kaki yang terkilir, kaki kram, hingga harus tertinggal kereta.
Sejak berangkat dari Groningen aku dan istri sendiri sudah ketar-ketir (hati tidak tenang). Bagaimana tidak? Pemanggang sandwich masih menyala! Karena buru-buru, pemanggang yang tempatnya agak tersembunyi itu lupa belum dicabut. Masih ada satu roti yang dibakar. Karuan saja pikiran teringat pada cerita teman istriku di Amerika yang rumahnya ludes dilalap api dalam satu jam beberapa bulan yang lalu. Terbayang rumah sendiri yang akan mendapat giliran. Tak tahu apa yang bakal terjadi jika pemanggang itu tetap menyala selama ditinggal 3 hari ke Berlin. Sebuah perjalanan yang dimulai dengan hati tidak tenang, walau ketika berangkat sudah berdoa bersama anak-anak.
Dalam pikiran ini melintas beberapa peristiwa jalan-jalan sebelumnya. Pertama ke Efteling: karena tidak mengerti bahasa Belanda, tiket yang dibeli di anjungan tiket mandiri NS jadi dobel harganya. Kalau dipikir-pikir kesel juga, lagian pas fulus tidak banyak. Kemudian ke Paris juga sama: berharap mendapat tiket group yang lebih murah, ternyata karena suatu hal jadi lebih mahal. Ke Museum Mainan Roden juga serupa: berangkat siang, salah jalan, harus berhenti di halte in the middle of no where sambil kedinginan. Balik sudah malam, sehingga besoknya baru bisa datang lagi. Perjalanan ke Austria dan Munchen yang sangat asyik itu pun bahkan lebih parah: hampir batal karena tas istriku sempat hilang di stasiun dan harus tertunda 4 jam di Utrech karena ancaman bom di salah satu gerbong kereta! Hampir dapat dipastikan, setiap mau jalan-jalan, salah satu dari anak-anak biasanya ada yang jatuh sakit dua atau satu minggu sebelum berangkat. Sebelum ke Berlin Lala dan Malik gantian sakit. Kami sampai hapal pola ini.
Hal ini terjadi bukan hanya dengan jalan-jalan. Dalam banyak situasi dalam hidupku, selalu ada pola yang jelas: kesulitan-kemudahan, kesedihan-kebahagiaan, kemiskinan-rejeki, kegelapan-cinta. Pernah suatu ketika kerugian ekonomi yang luar biasa besar (menurut ukuranku) menghampiri. Aku tanya ke guru spiritualku (aku punya dua guru: guru spiritual dan guru laku, yang pertama bersosok orang sedangkan yang kedua adalah perjalanan hidupku sendiri), “Apakah ujian ini karena dosa dan kesalahan saya?â€
Dia jawab, “Jangan berpikir apa yang terjadi itu karena dirimu atau kelakuanmu. Seburuk apapun perbuatanmu, jangan berpikir semua itu penyebab hadirnya kesulitan dan penderitaan.â€
“Mengapa begitu?†tanyaku.
“Kita bisa musyrik jika menganggap ada sesuatu terjadi karena selain Allah. Menganggap penderitaan terjadi karena suatu dosa sama saja dengan menganggap bukan Allah yang menghendaki itu terjadi,†jawabnya. “Kita harus hati-hati sekali dalam perjalanan tauhid ini. Harus hati-hati. Sehingga, orang-orang yang mengerti tentang hal ini tidak akan punya waktu untuk menilai orang lain. Dia akan sibuk menilai dirinya sendiri, karena sering tak terasa ada hal sepele dalam hati yang sebenarnya merusak ketauhidan.â€
Diriku terdiam malu. Meski begitu, ada aliran kesejukan dan kebahagiaan. Ada sebuah harapan bagi manusia kotor sepertiku untuk bangkit merangkak menuju Tuhan tanpa harus dibebani oleh perasaan bersalah atau berdosa. Namun masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, “Lantas kenapa itu terjadi?â€.
“Jangan pula bertanya kenapa ini dan itu terjadi,†jawabnya. Aku semakin bingung tidak mengerti. Ditengah komaku, dia melanjutkan, “Memangnya kalau kamu diberitahu penyebabnya, apa yang akan kamu lakukan? Menghindarinya? Apakah menghindar akan membuatmu terbebas dari ujian yang lain?â€
Aku seperti memahami arah yang dimaksudnya. Namun tetap masih belum jelas lalu aku bertanya, “Terus apa yang sebaiknya saya lakukan?â€
“Ingat, tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Tidak ada yang namanya jalan tol menuju kebahagiaan tanpa melewati serangkaian penderitaan. Tidak ada orang yang sukses tanpa kegagalan, orang baik tanpa dicela, dan pemimpin yang bijak tanpa dinilai rakyatnya. Kedua kutub itu akan selalu ada, seperti roda yang membentuk lingkaran. Seperti Yin dan Yang. Bulan yang paling terang adalah bulan purnama, lingkaran penuh, bukan bulan setengah purnama yang hanya berisi kebahagiaan saja atau penderitaan saja,†paparnya.
Aku semakin terdiam, mencoba memindahkan titik kesadaranku dari pikiran menuju hati. Mencoba memahami penjelasannya yang masih abstrak buatku dengan melepaskan logika dan beranjak ke kesadaran hati yang lebih tinggi.
“Jadi memang harus begitu kejadiannya. Kamu harus mengalami kehilangan ekonomi yang menurutmu sangat berat ini. Bisa dikatakan itu sebuah kepastian. Penderitaan pasti akan hadir yang kadang menggelapkan hati manusia, seperti pastinya matahari terbenam di ufuk barat yang menggelapkan permukaan bumi. Demikian juga, setelah malam yang gelap, pasti akan terbit matahari dari timur (selama Allah belum berkehendak lain). Oleh karena itu, setelah penderitaanmu ini akan terlimpah kebahagiaan yang tak terkira.â€
Tak terasa sebuah sungai kecil mengalir di bawah mataku. Aku sangat terharu. Dalam kekotoran jiwaku, sayang Allah tak pernah pergi, selalu pasti.
“Jadi, jangan terlalu sedih ketika sedang datang ujian penderitaan. Karena setelah itu akan tiba kebahagiaan. Demikian juga, jangan terlalu bahagia ketika mendapat nikmat yang luar biasa, karena setelah itu giliran penderitaan akan tiba.â€
Lepas.. serasa lepas beban penderitaan ini. Menguap seperti embun bertemu matahari. Ya Allah, Engkau sungguh Maha Penyayang kepada hambamu yang tak tahu diri ini.
“Kita tidak diperintahkan untuk bertanya mengapa. Tapi kita diperintahkan untuk bersyukur. Syukuri segala kehilangan itu. Pasti ada hikmahnya. Dan tak perlu bertanya-tanya dulu apa hikmahnya. Hikmah akan hadir setelah kamu bisa merasakan hadirnya syukur itu. Hingga kamu bisa melihat bahwa syukur bukan hanya kata sifat atau kata kerja. Kau akan melihat syukur itu mewujud, seperti utusanNya yang dapat kamu sentuh dengan jiwamu. Sekali dia datang, dia tak akan pernah pergi meninggalkanmu. Dia akan selalu menemanimu.â€
Sebuah kilatan cahaya menyingkap tirai kegelapan hatiku. Seperti sebuah cahaya petir yang masuk ke rumah-tanpa-lampu melalui jendelanya yang terbuka.
“Syukur ini berat, karena dia bukan sekedar ucapan alhamdulillah. Ketika kamu menjalani penderitaan yang seolah tak bertepi, seolah menjadi satu-satunya manusia paling malang di dunia; dan kamu tetap berjuang menyelesaikan segala tuntutan dalam penderitaan itu (bukan lari meninggalkan gelanggang); serta kamu tidak menyalahkan siapapun entah itu orang lain atau dirimu sendiri dan tidak juga Tuhan; sambil kamu terus menyusuri jalan yang penuh duri, kerikil, jurang, dan kadang padang pasir panas luar biasa; itulah syukur. Artinya kamu menerima jika harus mempertanggungjawabkan kesalahan, bukan sibuk mencari-cari alasan untuk menyelamatkan diri. Atau kamu harus terus membayar hutang karena kerugian bisnismu ini entah sampai kapan. Itulah syukur.â€
Ya Allah, please, jangan hentikan curahan kasihMu ini. Teruslah buka tirai kegelapan hatiku ya Rabbi.. kuatkan diriku…
“Namun ketika syukur sudah bersamamu, dia akan menampakkan hikmah semua ujian yang sedang kau hadapi. Dia dalam dirimu akan bercerita sendiri. Dan sebagai utusanNya, dia pun akan membantumu menajadi semakin kuat atas ijinNya. Cobaan yang berat akhirnya tak terasa berat lagi. Rasa malu di depan manusia telah berubah menjadi senyuman paling manis dari Tuhanmu. Jalan terjal penuh duri yang kamu lalui pun tak lagi terasa menyakitkan.
“Dan pada akhirnya, buah ikhlas akan menghiasi dirimu. Kamu menjadi manusia yang ikhlas, pasrah, berserah diri, menjadi muslim sejati. Semua itu dibuka dengan kunci syukur. Mensyukuri segala yang kamu terima, baik atau buruk, pujian atau cacian, buah atau pupuk (kotoran), merasakan iman atau kekafiran (gelap). Itu semua adalah keseimbangan. Belajar ya mensyukuri keseimbangan. Jangan hanya mau yang enak-enaknya saja. Ndak mungkin itu hahahaha,†guruku mengakhiri dengan tawa.
Gustiku, betapa besar cintaMu kepadaku. Di balik ujian ini telah Kau siapkan begitu dalam hikmah dan begitu tinggi derajat jika aku bisa mensyukurinya. Sesungguhnya jika aku mensyukuri segala yang Kau beri, nikmatMu akan tercurah kepadaku semakin tak terkira. Dan betapa pedihnya jika aku tak mampu menerimanya dengan kelapangan syukur.
Saat itu, aku pun pulang dengan sebuah pencerahan. Tentu, ujian itu belum lenyap, bahkan hingga kini. Namun, syukur mulai memperkenalkan dirinya kepadaku. Semoga aku bisa menjamunya lama-lama di rumahku, dan menjadikannya sebagai anggota keluargaku.











winy says:
pak ismail, kemaren liat
pak ismail, kemaren liat poto rame2nya di kompas minggu, cieh……….
Ismail Fahmi says:
Hehee.. itu numpang keren
Hehee.. itu numpang keren aja. Temenku (Deva) yang diwawancarai. Thanks yo..
Weni says:
posting yg bagus bgt
posting yg bagus bgt
mudah2an kamu msh inget diriku hehe.
hari minggu kemaren aku liat wajahmu, agnes & anak2 di kompas hehe.
ada kohar juga ya hehe.
Ismail Fahmi says:
Holaaa Weni.. Aku langsung
Holaaa Weni.. Aku langsung yakin kamu temen seperjuangan waktu OS pek di RancaUpas itu hehehe.. Aku dah lihat blogmu. Kaya dengan tulisan euy. Keep writing.. Salam buat keluarga ya.
Weni says:
makasih udah nengok blogku
makasih udah nengok blogku hehe. tp jadi malu ah… tulisannya jauh bgt ama tulisan2mu yg begitu ‘dalem’
waktu fotomu ada di kompas, aku bilang ke reva: “ini temen bunda kuliah lho, namanya om fahmi” hehehe.
wajah masih sama kayak dulu kok Mi, cuma sekarang lebih lebar aja hahahaha.
btw aku suka berpikir, ternyata aku dulu pernah sekelas dengan org2 hebat seperti kamu
duduk bareng, ngobrol, kulker (eh itu kulker apa piknik ya hehe) ke bali, curhat di bus hihihi, wisuda bareng 
liat khan foto wisuda di blogku, selain foto di rancaupas ? kamu yg kedua dr paling kanan ya
Ismail Fahmi says:
Hehehe.. hebat apanya.
Hehehe.. hebat apanya. Sama-sama pengadu nasib, numpang lewat. Pada hari yang sama, ada fotonya Agnes di Pikiran Rakyat (lagi-lagi cuma numpang lewat hehehe). Kemaren aku bilang ke Andi Asmara (dia PhD di TU Delft) kalau Weni juga bikin blog.
Boleh ya aku copy foto2 angkatan kita? Lumayan banget untuk nostalgia.
Weni says:
emailmu apa Mi ? ntar tak
emailmu apa Mi ? ntar tak kirimi foto kuliah yg sempet aku scan.
baru dikit sih yg di-scan tp lumayan buat mengenang jaman2 culun dulu hehe. fotonya sih sebenernya banyak, tp di album. ada foto buka bersama, foto waktu di puncak, foto kulker ke bali, foto wisuda
Ismail Fahmi says:
Wah mau banget Wen.. Emailku
Wah mau banget Wen.. Emailku ini: ismail.fahmi@gmail.com. Aku tunggu ya. Thanks banget sebelumnya..