READ MORE >> On Writing.
Ada dua hal yang kupikirkan selama perjalanan dari rumah ke kantor tadi pagi. Pekerjaan dan tulisan. Apa yang aku targetkan dua hari ini untuk proyek Semantic Web, dan apa yang akan aku tulis di waktu senggangku. Aku berencana memanfaatkan setengah atau satu jam sebelum bekerja untuk menulis apapun yang aku suka. Dan khusus untuk hari ini, aku ingin menulis salah satu catatan dari perjalanan ke Berlin.
Sesampai di kantor, aku buka halaman terakhir log-book Semantic Web untuk memastikan target hari ini. Minggu lalu aku belum selesai membuat program penyusun corpus for a specific domain. Ini yang harus aku hasilkan. Oke beres. I’ll do it.
Kemaren aku sudah menghasilkan sebuah tulisan dari perjalanan ke Berlin. Targetku hari ini satu tulisan lagi. Namun, aku merasa ada yang kurang dalam menulis. Diriku seperti belum melebur bersamanya. Stephen King menganjurkan untuk menulis apa yang aku sukai. Menemukan emosi dan segala gejolak dalam diri menjadi petualangan penting untuk menghasilkan tulisan yang bagus.
Pagi ini aku temukan sebuah tulisan menggugah dari IWJ (The Internet Writing Journal). Alex Keegan penulis fiksi dan kriminal asal Inggris telah menyalakan sepuluh buah obor yang membakar semangatku. The Ten and a Half Commandements of Writing. Sebagian besar aku sudah pernah tahu, namun ada dua yang sangat menggugah diriku.
Yang pertama, â€Jangan menulis apa yang menarik buatmu, tetapi tulis apa yang menggugah (energise) dirimu.†Kupikir betul juga. Menulis itu butuh ketahanan, setiap hari, seperti pejalan kaki yang suatu saat melintasi padang rumput, hari berikutnya mendaki tebing, dan bisa tersesat di padang pasir. Kadang bungah, kadang putus asa. Kadang mengalir deras, kadang mampet seperti di perempatan Jakarta waktu pulang kerja. Hal yang menarik belum tentu menggugah. Namun, apapun yang menggugah akan memberikan energi tambahan yang luar biasa.
Kedua, â€Lupakan alur cerita, biarkan tokoh anda yang bekerja.†Tulisan yang membuat pembaca tidak berhenti membuka halaman demi halaman adalah tulisan yang memiliki fokus dan karakter tokoh yang kuat. Kupikir tokoh ini bisa berarti luas. Bukan hanya bersosok manusia berkumis, namun boleh saja bangunan berlumut. Dan penciptaan tokoh dalam imajinasi penulis sebelum kata ditorehkan menjadi sangat penting. Tokoh yang kuat akan hidup. Dan jika dia hidup, dia akan bisa bercerita dengan sendirinya. Tugas penulis menjadi sederhana, cukup mencatat dan merekam apa yang dipertontonkan oleh tokohnya. Pantas saja, novelis seperti Stephen King bisa menyelesaikan sebuah karya dalam seminggu. Dalam keterisolasian dengan dunia luar, kata demi kata mengalir deras sementara imajinasinya melihat tokoh ciptaannya sedang bertutur. Ceritanya berkembang dari siatuasi, bukan alur. Dan baginya, menulis sama seperti menggali fosil di dalam tanah. Keseluruhan cerita harus diangkat perlahan-lahan, tanpa kita tahu terlebih dahulu bagaimana bentuk tulang-tulang itu setelah disusun.
READ MORE >> On Writing.

Budi Rahardjo says:
Tapi … ada juga pendapat lain
Saya beli buku karangan Philip Gerard karena judulnya yang menarik; “Writing a Book that makes a difference.” Jadi, menulis itu tidak sembarangan menulis. Saya belum selesai baca bukunya meskipun sudah lama saya memiliki buku ini. he he he. Jadi bisa jadi kesimpulan saya salah. Time to read it again.
Ismail Fahmi says:
Saya belum baca, tapi jadi
Saya belum baca, tapi jadi pingin beli dan baca. Barusan tadi saya baca tulisan pak Onno tentang ceramahnya di Yale yang mendapat applause luar biasa. Saya pikir esensinya sama dg menulis. Ceramah dan buku bisa sangat-sangat menarik jika isinya memberi inspirasi, menambah energi bagi pembacanya. Saya lihat tulisan-tulisan Pak Budi juga begitu.
Betul, kalau menulis sudah menjadi bagian irama hidup, akhirnya “menulis bukan sekedar menulis.” Dan Gerard mendorong penulis untuk mengeksplore gagasan yang paling dekat dengan hatinya.
Arda Dinata says:
Menurut saya, dua-duanya bisa jadi pencetus untuk menulis, karena kedua hal (menarik dan menggugah) itu perbedaannya tipis. kalau menarik itu sifatnya relatif, tiap orang berbeda-beda. sedangkan menggugah itu kecenderungannya akan sama satu orang dengan yang lainnya, karena biasanya kalau tulisan menggugah itu makainya bahasa universal (hati…. gitu loh.
tapi, yang jelas bagi siapa pun yang mau menulis, maka tulislah, tulis, dan tulis,
salam kenal dari saya. makasih….