Poligami, Social Dinner, dan Vegetarian Food

Babi dan Poligami

Mijail (baca Migoul) temanku dari Essex sangat ramah dan baik. Waktu makan siang, dia bilang mau bergabung dengaku. Ya aku oke saja, karena memang sendirian. Aku sengaja tidak ingin selalu bersama supervisorku atau teman dari Groningen. Biar dapat teman baru.

Waktu itu cuaca mendung, sedikit gerimis, dan dingin sekali. Aku malas cari restoran yang jauh. Akhirnya, untuk ketigakalinya aku ke restoran dekat tempat konferensi, Restoran Padevana.

Setelah membolak-balik daftar menu yang ada gambarnya, aku jatuhkan pilihan pada menu vegetarian. Salad dan jamur. Mau makan pizza lagi? Tidak deh. Sudah bosan. Mijail sendiri pesan menu daging. Aku bilang ke dia, sebenarnya aku bisa makan daging kambing atau sapi, tapi tidak babi.

Why you don’t eat pork? ” tanyanya.

Kujelaskan kalau alasannya bukan soal kebersihan. Biasanya kalau lihat film koboi atau celtic di TV, kandang babi sering digambarkan sangat jorok, becek, penuh lumpur. Kalau sekarang, babi sudah dibudidayakan dengan sangat bersih, higienis.

Aku teringat cerita seorang tokoh kemerdekaan Indonesia (Haji Agus Salim?) waktu belajar di luar negeri dan ditanya oleh temannya kenapa babi haram. Dia perlihatkan bagaimana perilaku seekor babi betina dan dua babi jantan dibandingkan dengan seekor ayam batina dan dua jago. Dalam urusan kawin, babi betina bisa main dengan kedua babi jantan. Mereka asyik-asyik saja. Sementara, kedua ayam jago akan bertarung hingga ada satu pemenang sebelum mengawini sang betina. Jadi ini adalah soal moral dan perilaku. Islam menjaga sekali agar asal-usul makanan yang dikonsumsi juga baik, bukan hanya bersih. Baik dari segi bentuk dan sifatnya.

Akhirnya pembicaraan bergeser ke soal poligami. Tampaknya Mijail tahu Islam salah satunya berhubungan dengan poligami. Aku bisa mengerti. Isu ini yang sering menjadi bahan kaum orientalis untuk menyerang Islam.

Are all moslems agree with poligami? ” tanyanya.

Aku jawab bahwa bisa dikatakan sebagian muslim menyetujui poligami karena ada aturan tentang itu di Al Quran. Namun, bukan berarti mereka hendak melakukannya. Mereka menyadari bahwa konteks yang mereka hadapi berbeda dengan yang dicontohkah oleh Rasul.

Cukup lama kami membahas soal poligami ini. Termasuk pertanyaannya apakah ada hubungan antara poligami dengan faktor ekonomi. Misalnya, kalau seseorang kaya maka dia akan melakukan poligami.

**

Sulitnya Cari Sourvernir

Sesi terakhir selesai jam 6 sore. Namun menunggu dua jam sebelum social dinner menjadi siksaan tersendiri bagiku. Sebenarnya kebanyakan toko akan tutup satu jam lagi. Namun, setelah aku kelilingi kota kecil ini, tak satu pun sourvernir khas Itali atau Trento nongol di depan mata. Aku ingin beli bola kaca yang di dalamnya berisi air jernih, di tengahnya berdiri megah miniatur bangunan terkenal di kota ini, dan kalau diguncang-guncang tampak salju turun dengan indah. Istriku sudah mengoleksi benda antik ini cukup banyak, dan akan terus ditambah setiap kami pergi ke tempat baru. Biasanya kau bisa lihat barang-barang seperti itu dipajang rapi dari luar kaca. Ada sih memang, seperti kemaren aku lihat di toko sekitar stasiun kereta api, namun isinya bukan miniatur castle atau katedral yang terkenal, tetapi boneka teddy bear mini, santa claus, dan yang paling banyak gambar atau patung Il Papa (Paus). Kupikir betul juga. Bukankah Il Papa adalah khas Itali?

Di depan katedral ada sebuah penjual rokok, majalah, dan aku berharap ada sourvernir seperti di umumnya di Austria. Tapi tak satu pun terlihat. Mungkin tidak banyak turis datang kemari. Atau kalau datang, mereka tidak seperti orang asia yang suka beli oleh-oleh sourvernir. Barangkali coklat lebih menarik. Atau mungkin mereka lebih suka ke gunung-gunung yang mengelilingi kota seperti bibir mangkuk. Pada musim dingin mereka bisa main sky, di musim panas bisa hiking atau camping.

Akhirnya aku tanya ke penjual di toko itu, di sudut kota sebelah mana sourvernir khas Itali atau Trento dijual. Seorang pembeli yang bisa sedikit bahasa Inggris yang menjawab. Via Belenzani, nama jalan itu. Tapi tentu sudah tutup sekarang.

Pencarian sourvernir akhirnya membuahkan hasil pada hari berikutnya. Loceng kecil, gelas kecil, dan tempelan kulkas yang bertuliskan Trento. Bukan di jalan Belenzani, tapi hanya di dua buah toko di stasiun kereta api. Hanya dua toko itu yang ada di stasiun. Dalam perjalanan balik dari stasiun ini, di sebuah toko di pojokan jalan Belenzani (ternyata jalan ini sudah sering kulewati, berada di pojokan Piazza Duano alias halaman utama Katedral), kulihat beberapa sourvernir seperti yang kubeli dipajang di ruangan kaca yang sudah berdebu, kacanya pecah dikit, tempelan kertas di dindingnya mengelupas. Tampaknya memang turis tidak minat beli sourvernir khas Trento. Ada yang lebih menarik di kota ini, alam pegunungannya.

**

Social Dinner

Suhu udara rasanya jauh lebih dingin dalam dua hari ini. Ditambah lagi aku salah kostum. Tidak pake sweater di balik jaket kulitku, tapi kemeja lengan panjang yang tipis. Es krim yang biasanya tampak enak, tak mampu menggugah seleraku. Acara baru dimulai satu jam lagi. Akhirnya kuputuskan saja untuk menunggu di restoran. Lumayan bisa melahap beberapa halaman On Writing.

Dari luar tak tampak kalau di balik dinding yang kusam itu ada restoran paling besar di tengah kota Trento, restoran Padevena. Ruangan depan berbentuk tapal kuda yang di tengahnya orang bisa pesan minuman seperti di bar. Hampir semua meja di ruangan itu telah terisi.

Kalau masuk lebih ke dalam lagi, kau akan melihat ruangan yang cukup besar untuk menampung 300-an orang. Ruangan itu cukup meriah. Lampu warna-warni bergantungan di atasnya seperti buah jambu di belakang rumahku di desa. Lantai tengahnya lebih rendah dibandingkan dengan lantai samping yang mengelilinginya. Kupikir di tempat ini sering diadakan pesta. Jika musik live dimainkan oleh group musik lokal di atas panggung sebelah kiri, kau bisa melantai atau berdansa di situ. Karena malam ini perut lebih penting dari pada dansa, sebuah meja bundar ukuran jumbo menghiasi lantai tengah itu. Di atasnya telah disajikan makanan pembuka. Ada salad, bayam, terong yang diiris tipis lalu dibakar, demikian juga dengan timun dan wortel (diiris tipis dan dibakar). Jika semua itu terlalu ringan buat perutmu, kau boleh mengambil kentang bakar yang dipotong separuh. Untuk dressing (salad perlu diberi baju biar terasa lebih enak) sudah tersedia dua jenis vinegar. Yang satu rasa lemon, satunya lagi aku ndak tahu.

Kira-kira ada 8 meja makan dipinggian lantai tengah itu. Aku mengambil tempat di lantai yang agak lebih tinggi biar bisa melihat ke semua arah dengan lebih jelas. Di sini ada lebih banyak meja makan. Aku pilih yang agak lebih dekat dengan pintu masuk biar mendapat jatah duluan. Karena sebelumnya aku memilih menu vegetarian, aku diberi sekuntum bunga mawar palsu untuk menandai tempatku.

Di belakang panggung musik di sayap kiri tampak enam gentong ukuran raksasa berwarna hijau saling dihubungkan oleh pipa besar keemasan. Seperti kalau tabung-tabung reaksi di laboratorium disusun dan disambung-sambung. Bedanya yang ini ukurannya raksasa. Sebuah papan tulis kecil berwarna hitam ditempel di dindingnya. Setiap gentong diberi nama dan tanggal. Gentong paling kiri, yang paling tua, namanya Daniele diisi pada 2002. Yang paling kanan aku lupa namanya, dan kira-kira diisi pada 2004. Sebuah pipa besar dari gentong-gentong itu tampak menjuntai ke depan lalu ke bawah dan memilik banyak keran seperti kalau kau wudhu di mesjid. Dari keran itu bisa keluar bir (tentu saja bukan air). Namanya Lag’s Bir. Jika kau ingin mencoba bir khas Trento, kau bisa pesan ke seorang penjaga di situ.

Aku duduk bersama dua temanku yang sehotel. Di depanku Christopher dari sebuah perusahaan Prancis dan di kiriku seorang mahasiswa PhD dari Edinburgh keturunan Vietnam. Di sebelahku lagi Mijail PhD dari Essex keturunan Bulgaria. Di depannya seorang wanita berumur bernama Galia associate profesor dari Bulgaria. Satu lagi mahasiswa PhD Italy yang juga dari Bulgaria. Lumayan, aku dapat tambahan dua orang kenalan baru lagi. Kursi-kursi di meja yang lain malam itu sedikit demi sedikit dipenuhi oleh peserta lain. Total sekira 250 orang. Banyak sekali.

**

Makan Malam yang ‘Super Duper’

Aku ceritakan bagaimana makanan di social dinner itu. Bagiku ini pengalaman yang luar biasa. Maksudnya diluar kebiasaanku. Ada empat sesi makan dan dua sesi minum di awal dan di akhir. Sesi pertama tentu pembukaan alias makanan pembuka. Untuk ini kau harus mengambil sendiri makanan di meja bundar tengah atau meja panjang di pinggir. Tidak terlalu antri. Salad tidak masalah bagiku. Sejak tinggal di Belanda, aku menjadi terbiasa makan gaya seperti kambing merumput di pinggir sungai ini. Rajangan kubis merah dan putih mentah, bayam masak, tomat, dan paprika. Aku paling suka kentang, terong dan timun bakar. Vinegar rasa lemon aku tuangkan di atasnya.

Memalukan sekali, aku tidak tahu kalau itu hanya pembuka. Aku ambil sampai dua kali. Dan aku baru tahu kalau ada sesi lanjutkan ketika piring kotor di ambil pelayan restoran, namun pisau dan garpu di letakkan kembali di atas meja. Wala, perut sudah mulai penuh. Tapi tak apa, belum penuh amat. Betul juga, tak lama kemudian beberapa pelayan keluar dari dapur sambil membawa empat piring berisi makanan utama. Piringnya besar sekali. Di atasnya ada sepotong daging tebal (kupikir daging bab I) sebesar dompetku tapi lebih panjang sedikit. Ada kentang yang sudah diolah dan disajikan seperti nasi mangkuk di Hoka-hoka Bento. Dan ada dua jenis makanan lagi yang aku tidak tahu namanya. Melihatnya aku sudah tidak nafsu. Untung bukan buat vegetarian. Keempat temanku masing-masing mendapat satu piring. Sementara aku dan Galia yang sedang menjadi vegetarian menjelang Easter (paskah) masih menunggu.

Kami menunggu sedikit lebih lama, tapi akhirnya datang juga. Jreng..jreng.. seorang pelayang datang membawa dua piring. Di atasnya ada benda bulat lonjong seperti telur tapi lebih kecil setengahnya. Warnanya hijau keputihan. Dan, itu saja. Tidak ada lauk atau apa. Hanya itu. Terbuat dari bayam dan pasta, direbus dan dibentuk. Seperti klepon kalau di Jawa. Klepon enak, rasanya manis, dimakan bareng parutan kelapa. Nah yang ini gimana ya rasanya?

Kulihat Galia dengan tenang mulai menyantap. Ditusuk satu pake garpu, dan nyam-nyam. Tampaknya enak. Aku coba separuh dulu. Glek. Lumayan, gurih. Tapi rasanya monoton, hanya satu alias uno rasa. Lidahku mulai menolak suapan kedua. Biar mau kompromi, aku ambil paprika. Dimakan bareng potongan paprika. Sekarang ada rasa manis dan bau khas paprikanya. Lumayan, aku bisa memakannya sedikit demi sedikit.

Aku ketawa geli selama memakannya. Ini ya makanan utama buat vegetarian itu. Dalam hati berharap sesi penutup segera tiba. Namun aku merasa beruntung karena sudah agak kenyang dengan makanan pembuka. Temanku menebak-nebak nama makanan itu. Ada yang bilang itu Gnocci pasta (bayam pasta). Ketika pelayang datang dia menunjukkan nama menu dalam daftar makanan yang jadi alas piring. Di bawah bab I Primi (the first disk) tertulis Strangolapreti alla Trentina. Kulihat hanya satu temanku yang sanggup menghabiskan makanan utamanya. Yang lain juga pada tidak habis.

Hingga pelayan mengambil piring makanan utama ini, kupikir aku hanya menghabiskan 3 potong dari 15-an potong. Galia juga tidak habis, tapi dia makan lebih banyak dari pada aku. Aku lega karena ‘kenikmatan’ itu sudah berlalu. Tak tahunya, datang lagi dua piring, khusus buat aku dan Galia. Apa itu? Ada tuangan seperti bubur berwarna coklat, jamur, dan dua lapis mozarella bakar. Namanya Polenta tosella e funghi, tergolong dalam I Secondi (the second dish). Nah, ini aku suka. Setidaknya yang jamur, aku sudah pernah mencoba dua kali di restoran ini. Mozarela bakarnya juga enak, tapi tidak habis. Buburnya hanya aku makan sesendok. Sudah sangat kenyang. Kupikir seharusnya bayam itu disajikan bareng dengan yang ini.

Ketika perut sudah mau meledak, ternyata datang lagi sesi ke empat. Sepotong apple strudel ukuran jumbo. Siapa yang bisa memakannya? Aku hanya sanggup mencicipi satu potong kecil. Kubilang bahwa perut orang asia kecil, tidak sanggup menampung makanan segitu banyak.

Perjuangan itu berakhir dengan datangnya secangkir kecil kopi kental yang sangat pahit. Aku heran ada orang yang bisa minum kopi Ekspresso seperti ini tanpa gula. Kutambah satu bungkus gula biar manis. Lumayan, kini ada dua rasa yang berbeda, pahit dan manis. Namun, mereka tidak saling melebur. Aku bisa rasakan keduanya sama-sama kuat mendarat di lidahku. Hebat sekali. Dua ekstrim bersatu tapi tidak melebur.

Curiosity (ingin tahu)

Selama makan malam itu, kami ngobrol macam-macam. Dengan Galia aku banyak tanya tentang konferensi RA-NLP (Recent Advanced in Natural Language Processing) dua tahunan di Bulgaria. Mijail memberitahuku bahwa Galia adalah salah satu organisernya. Dia bilang konferensi ini lebih advanced dari EACL. 14 persen dari makalah yang dipresentasikan juga dipublikasikan dalam buku Recent Advanced in NLP terbitan Springer. Dari asia biasanya peneliti dari Malaysia, Vietnam, Thailand, Korea, dan yang paling banyak dari Jepang. Tidak ada yang dari Indonesia. Duh, sedih sekali. Untuk negara-negara miskin sebenarnya tersedia beasiswa bagi peneliti yang tulisannya diterima. Lumayan untuk ongkos pesawat, hotel, dan sedikit uang saku. Dalam hati aku bertekad, nanti akan tetap mendalami Computational Linguistics tapi untuk Bahasa Indonesia yang miskin penelitian ini. Konferensi yang menyediakan beasiswa bagi penulis makalah ini bakal menjadi sasaran publikasi. Semoga ya semoga. Aku kira informasi ini yang paling bermanfaat dari social dinner. Informasi yang menggugah semangat, mampu membangun visi di kepala.

Selain yang serius-serius, sebenarnya kami lebih banyak ngobrol tentang yang tidak serius. Aku selalu ingin tahu jika ada hal-hal baru meski remeh. Baru bagiku, mungkin sudah kuno bagimu. Misalnya, keingintahuanku yang bikin Galia tertawa terbahak-bahak adalah soal bir dan wine. Tanpa malu, seperti anak innocent, aku tanya ke mereka apa bedanya bir dan wine.

You are from Holland. Asking the different of bir and wine in Italy. Ha..ha..ha..,” bagi dia ini lucu sekali. Bukankah Holland terkenal dengan birnya? Mustinya orang-orang dari sana sudah pada tahu. Rasanya dulu aku pernah diberitahu, tapi dasar pelupa. Temanku yang menjawab. Bir terbuat dari gandum, kalau wine dari anggur. Wine yang alkoholnya 40 persen di Itali disebut grapa. Sebelum orang eropa mengenal alkohol, mereka memakan jamur jenis tertentu untuk fly. Sejak alkohol diperkenalkan, kalau tidak salah oleh orang Yunani, jamur beracun itu tidak lagi digunakan. Di Bulgaria, ada jenis wine yang lain yaitu rakia. Mijail bilang itu terbuat dari buah jenis plum.

Setiap kali aku mendengar istilah baru, aku langsung ambil buku dan mencatatnya. Mungkin tampak aneh. Aku seperti orang dari luar angkasa yang tidak tahu sama-sekali peradaban di depanku. Dan makhluk ini sedang belajar hal-hal baru yang ditemuinya. Melihat kelakuanku ini, Galia tampaknya jadi tertarik. Dia memberi kartu namanya dan minta aku mengirim email kepadanya. Biar ingat. Dia akan mengirimi aku daftar penulis dari asia yang ikut konferensi RA-NLP tahun lalu. Aku pun didorong untuk mengirim satu paper. Oke sip, Galia. InsyaAllah, I will.

18 Responses to “Poligami, Social Dinner, dan Vegetarian Food”

  1. Nesdie says:

    nice experience
    salam kenal bang Ismail

    menarik sekali ceritanya, rasanya ingin juga melancong sambil konfrence.
    hehehe
    oh ya, bagi2 dong kalau ada isu2 terbaru ttg RA-NLP.
    saya juga minat dg nlp

    salam

  2. Ismail Fahmi says:

    Salam kenal juga
    Salam kenal juga Nesdie..

    RANLP ini diselenggarakan tiap 2 tahun. Terakhir tahun 2005 lalu. Informasi beasiswa bisa didapat di sini: http://lml.bas.bg/ranlp2005/scholarships.htm. Setidaknya memberi gambaran dan semangat bagi penulis dari asia untuk mengirim paper tahun depan.

  3. Saleh Aziz says:

    Poligami atas nama Alloh dan nafsu, membuat para kyai, ulama dan tokoh muslim lainnya menjadi cabul. Padahal jelas sekali poligami merendahkan derajat wanita. Membunuh juga atas nama agama. Kekerasan atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.

    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia adalah negara pemasok jemaah haji yang terbesar di dunia). Bangsa Arab ini memang hebat sekali karena telah berhasil menemukan cara untuk memasukkan devisa untuk mereka sendiri. Sedangkan situasi ekonomi negara kita dalam keadaan yang sangat parah. Imperialisme Arab ini memang sangat kejam. Turun-temurun sampai anak-cucu, tidak tahu sampai kapan, nusantara diharuskan membayar “pajak” kepada Imperialisme Arab ini dengan alasan: kewajiban menjalankan rukun Islam.

    Padahal, sebelum Islam masuk ke Jawa, orang Jawa sudah menganut agama universal yaitu agama Kejawen.

    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  4. Ismail Fahmi says:

    Mas Saleh Aziz, terimakasih kunjungannya.

    Akhir-akhir ini saya sering bertanya sendiri, apa ya yang membuat manusia menjadi terpecah belah, berbeda-beda, dan saling mengunggulkan dirinya dan asalnya masing-masing? Ikatan apa yang membuat seseorang bisa begitu kuat membela mati-matian golongan, kasta, suku, warna kulit, negara, agamanya? Bukankah kalau mereka mati, sama-sama akan kembali ke tanah seluruh daging dan tulangnya, dan tak akan kembali lagi ruhnya?

    Apakah itu karena mereka tahu, kalau nanti sudah meninggal, di sana juga akan dikumpulkan sesuai keluarga, suku, dan bangsanya, sehingga ketika masih di dunia manusia harus membela golongannya dan merasa paling unggul?

    Apa yang sebenarnya dicari oleh manusia ini? Untuk apa sebenarnya manusia dilahirkan di dunia dan hidup ndak lebih dari 100 tahun ini?

  5. B Ali says:

    Apakah Islam agama teroris? Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  6. Ismail Fahmi says:

    @B Ali

    Mas Ali. Tentang terorisme, poligami, dan al-Quran, silahkan menggunakan pandangan yang Mas Ali yakini.

    SAya yakin, pandangan dan pendapat yang dimiliki oleh seseorang, akan kembali ke dirinya sendiri. Itu adalah cermin diri. Seperti apa penampakan diri, tinggal melihat cermin, dan disana akan tampak wajah dirinya. Pandangan dan isi hati, itulah cermin sejati diri.
    Hanya ada satu Tuhan yang menciptakan seluruh manusia dan seluruh agama. Tuhan turunkan nabi-nabi dan agama-agama, untuk menunjukkan jalan kepada manusia, agar bisa mengenal sejarah dirinya dan akhirnya mengenal Tuhannya. Mari berjalan sesuai jalan yang kita yakini. Kita tidak diperintahkan untuk saling menyalahkan atau menghujat. Cukup selalu koreksi dan perbaiki diri. Semoga kelak kita bertemu dengan Asal kita. Salam.

  7. gigie says:

    bang saya sekarang di belanda. bisa kasih info tentang NLP di belanda sini, mumpung di sini, saya ingin ikut trainingnya di belanda sini.
    thank

  8. Ismail Fahmi says:

    @gigie

    Sedang di mana sekarang? Semoga sukses di Belanda. Terimakasih sudah berkunjung.

  9. Ridwan Azari says:

    Saat ini, Indonesia mengalami krisis multi-dimensi. Sedangkan sebagian besar dari krisis ini disebabkan oleh agama.
    Agama Islam adalah agama dari rumpun Abrahamik seperti halnya Kristen dan Yahudi. Ketiga agama ini menanamkan kebencian, permusuhan dan kekerasan sepanjang massa.
    Penduduk Indonesia adalah 60% berada di Jawa. Jadi kekuatan ada di Jawa. Kalau orang jawa segera meninggalkan agama rumpun abrahamik dan kembali kepada Kepercayaan asli, maka sebagian besar dari krisis ini akan hilang dan Indonesia akan seketika sembuh dari krisis ini.
    Indonesia adalah negara besar, kaya dengan sumber alam. Indonesia tidak berhak mempunyai nasib yang sepuruk ini.

  10. Solihin says:

    Assalaamu’alaikum.
    Saya sangat setuju dengan poligami.
    Saya mempunyai seorang teman yang sudah mempunyai seorang istri + 2 anak. Dia mau tidur seranjang dengan gadis yang berumur 9 tahun. Gadis ini adalah anak dari seorang teman akrabnya. Teman saya ini mau mencontohi Nabi Muhammad SAW.
    Teman saya ini mengetahui bahwa gadis tsb bukan milik ayahnya, melainkan milik Alloh.
    Pertanyaan saya: Berhakkah si Ayah menolak permintaan teman saya ini? Apakah si ayah akan masuk neraka karena menolak ajaran Rasulullah?
    Terima kasih atas pertolongannya untuk menjawab pertanyaan ini.

  11. resist says:

    Quran dulu dibuat waktu jaman perang. Ayat-ayatnya hanya berlaku untuk situasi saat itu.
    Cilakanya, orang-orang yang membuat ayat-ayat Quran itu tidak memikirkan bahwa kehidupan manusia dan tata sosial masyarakat selalu berubah.

    Hasilnya, disamping ayat-ayat quran mengandung banyak kesalahan tata bahasa, ayat-ayat ini makin tidak relevan untuk kehidupan umat.

    Jadi musuh utama bagi Quran adalah WAKTU.

  12. Zulfiki Bin Taha says:

    Memang satu-satunya agama yang dibela oleh pemerintah adalah agama Islam.

    Sikap pemerintah seperti ini sangat berbahaya.

    Resikonya adalah:
    Bagi umat Islam yang anti pemerintah, hal ini adalah peluang yang sangat bagus untuk menentang pemerintah. Umat muslim tidak usah menunggu pemilihan umum untuk menentang pemerintah yang sekarang.

    Kalau umat muslim mau menentang pemerintah yang sekarang, cukup dengan meinggalkan agama Islam untuk memeluk agama lain selain Islam. Meninggalkan agama Islam berarti anti pemerintah yang sekarang. Reaksi ini lebih ampuh dari pada menyoblos di pemilu. Hasil penghitungan suara di pemilihan umum bisa direkayasa dan dicurangi. Tetapi meninggalkan agama Islam ke agama lain adalah reaksi yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah. Dan pemerintah nanti hanya bisa gigit jari.

    Inilah resiko yang dihadapi oleh pemerintah yang kerjanya hanya membela agama Islam.

  13. Khairun Abubaker says:

    Organisasi-organisasi muslim yang bringas didukung oleh oknum-oknum kepolisian & aparat keamanan pemerintah.

    Sudah sering terjadi pengerusakan rumah-rumah ibadah umat lain, sweeping, fatwa-fatwa dan kekerasan lainnya yang dilakukan oleh organisasi muslim terhadap umat agama lain. Sedangkan sebagian dari para preman ini adalah anggota polisi dan aparat keamanan lainnya yang berpakaian sipil. Pemerintah juga bersikap seolah-oleh memberi semangat kepada preman-preman ini sehingga mereka merasa berada di atas hukum apapun yang berlaku di negara Indonesia.

    Juga anggota polisi pada umumnya hanya menonton para preman yang melakukan pengerusakan & sweeping. Anggota polisi malah melindungi oknum-oknum yang berkelakuan bringas itu.

    Sedangkan polisi dan aparat keamanan pemerintah seharusnya melindungi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, kepercayaan, suku, dsb.

    Kita yakin bahwa ada umat muslim yang tidak mentolerir dan tidak setuju dengan kelakuan polisi dan aparat keamanan yang secara terang-terangan memihak kepada golongan mayoritas.

    Tetapi, pemerintah tidak menyadari bahwa walaupun polisi dan aparat keamanan mempunyai senjada api, rakyat jelata (masyarakat muslim yang kurang simpati terhadap polisi) mumpunyai senjata yang jauh lebih ampuh dari pada senjadi api. Sejata yang ampuh ini adalah agama.

    Masyarakat muslim yang tidak simpati terhadap tindakan polisi yang memihak ini bisa mengeluarkan reaksi yaitu mereka bisa meninggalkan agama Islam. Mereka bisa mengalih ke agama lain. Kalau hal ini terjadi/sedang terjadi, maka senjadi api polisi itu tidak ada artinya.

  14. Khaled Elkasi says:

    MUSUH ISLAM ADALAH ALQUR’AN

    Kita mengetahui bahwa tujuan memeluk suatu agama (agama apapun) adalah untuk membuat umatnya menjadi teguh batiniah. Kuat tak tergoncangkan.

    Sedangkan Alqur’an merupakan musuh yang paling berbahaya terhadap agama Islam. Alqur’an membelenggu umat muslim supaya menjadi lemah, mudah diadu-domba dan mudah dihasut.

    Buktinya, umat muslim saat ini sangat lemah. Melihat kartoon Nabi Muhammad saja sudah bingung kesurupan. Melihat kepercayaan-kepercayaan lain juga umat muslim menjadi sakit. Umat muslim mudah diadu-domba sehingga mengeluarkan fatwa-fatwa bringas, merusak tempat-tempat ibadah umat yang beragama lain, sweeping, dan melakukan kekerasan-kekerasan ala jaman kegelapan.

    Semuanya itu adalah hasil dari penghayatan Alqur’an. Alqur’an sedang melemahkan dan merusak jiwa dan prilaku umat muslim.

    Jadi musuh utama bagi Islam adalah Alqur’an.

  15. aida says:

    salam,saudara di austria.Kami bercadang melancong ke sana dari jeddah saudia arabia.Bisa kabarkan tempat2 yg menarik.T.kasih

  16. Rustan Zali says:

    LAGI-LAGI OKNUM POLISI YANG DI FPI MELAKUKAN KEBRINGASAN

    Wah ! Lagi terjadi kekerasan a la jaman kegelapan.

    Seharusnya bukan FPI yang dilarang di Indonesia, malah Islam seharusnya dilarang di Nusantara karena idiologi ini hanya menyulut kebencian dan membuat keonaran, kerusuhan, anarki yang membuat masyarakat Indonesia resah.

  17. Mr.Nunusaku says:

    Kita pasti mengenal watak dari nabi Muhammad jika kita menyelidiki
    latar belakang yang ada tertlis tentang siapakan Muhammad.

    Muhammad adalah seorang yang buta huruf dan berimbisi untuk menjadi pemimpin oleh sebab itu dia mengagangkat dirinya sebagai Rasulullah Allah dan dengan beraninya memakai nama Allah dengan sumpah palsu untuk umat muslim bercaya kerasulannya, dan harus mengikuti kehendak egonya, kalau tidak dia akan membuat ancaman kutukan seolah-olah datangnya dari Tuhan. inilah cara penipuan dan pembodohan yang dilakukan oleh nabi palsu Muhammad dengan agama ciptaannya Islam.

    Sifat dan tabiat Muhammad ini sama dengan umatnya yang disebujt islam.
    muslim mereka tidak dapat tahan dengan kritikan sama seperti nabinya Muhammad tidak tahan dengan kritikan syair seorang kakek tua yang berumur 60 membuat syair sendirin pada Muhammad, lalu Muhammad memerintahkan untuk segera membunuh kakek tua tersebut.

    Sifat nabi Muhammad sukah membunuh,
    serta banyak melakukan seksuel kepada budak tawanan perang.
    Istilah yang sekarang kita lihat dalam dunia islam mereka saling membunuh sesama muslim hanya untuk mendapat kekuasaan agar islam ini tetap hidup dimanapun harus melalui darah.

    BERITA DAHSYAT
    ______________

    sEORANG LELAKI YANG BERNAMA: ABDEL
    KARIM NABIL SULIMAN, SISWA AL-AZHAR
    UNIVERSITAS MESIR MENGRITIK ISLAM DAN KINI DIA DINYAKAN BERSAMA DAN AKAN MENDAPAT HUKUMAN 9 TAHUN DAN DIA DIUSIR DARI UNIVERSITAS AL-AZHAR MESIR.

    Mata muslim sekarang banyak terbuka melihat kebrutalan islam banyak membuat anarkis atas nama islam. Sperti kita lihat apa yang terjadi FPI di Monas mereka lakukan anarkis atas nama agama islam. Mengapa kita lihat dimana-mana kekarasan atas nama agama islam…? memang Al-Quran jawabannya, dan menganjurkan kekerasan pembunuhan manusia yang tidak seiman dengan mereka harus dibunuh, ini secara pemaksaan iman manusia harus tunduk pada agama ciptaan Muhammad. Yang murtad dari islam harus dibunuh dengan maksud agar mereka tetap dalam lingkaran setan yang berlebel islam ini secara taktik untuk mempertahankan
    islam. Jadi islam itu bukan agama damai yang mereka katakan, tetapi sebaliknya agama pedang penuh dengan kekarasan darah.

  18. qomarulhaq says:

    saya sedih membaca tanggapan2 diatas mengapa banyak yang tak mengerti Islam tetapi mempunyai tanggapan begitu dalam tentang islam. yang dapat menyesatkan banyak manusia yang membacanya.tak dapat ku bayangkan Indonesia bahkan dunia ini kalau masih ada bahkan banyak orang yang tak tahu apa2 tetapi berkomentar begitu dalam dan menyesatkan

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>