Thanks to Malaysia: Rasa Sayang Hey

Before:

* kurangnya perhatian pemerintah terhadap warisan budaya (lihat kondisi perpustakaan dan museum2, serta kurangnya proteksi dan promosi)
* generasi muda yang lebih suka dengan budaya modern (lihat aja tarian2 di TV, berapa banyak yg menggunakan tarian dearah?)
* ndak sadar akan pentingnya mengelola dan mendata (baca: mendaftarkan) kekayaan budaya

After:

* pemerintah pusat, dpr, gubernur kini bersemangat membela warisan budaya
* anak-anak muda juga semakin bersemangat melihat kembali warisan budaya (lihat diskusi di forum detikcom), dengan membuka wacana untuk membuat database indonesian heritage
* seniman dkk kini mendapat sorotan, tantangan dan perhatian (lebih dari sebelumnya), dan semoga apresiasi kepada mereka juga meningkat
* …. dan mungkin masih ada banyak lagi dampak positifnya
* saya dan anak-anak di rumah jadi suka menyanyikan lagu Rasa Sayange (asyik juga ternyata) di tambah dengan pantun-pantun spontan yang berisi pesan moral (ini mah dampak pribadi hehehe.. siapa tahu juga ada yg begitu)

Why:

ini semua setelah Malaysia secara *resmi* mengklaim lagu Rasa Sayange adalah folk song mereka, dan menjadikannya sbagai jinggle promosi turisme malaysia.

Tsunami dan gempa:

Dalam tubuh bangsa kita, telah muncul bibit-bibit monolitik, kurang memahami makna perbedaan, merasa paling baik dan unggul. Dengan tsunami, gempa dan bencan alam yang terjadi beberapa waktu lalu, mereka bisa bersatu padu.

Barangkali memang harus melalui *kekuatan Alam* (baca: Tuhan) yang maha dahsyat, agar secara kolosal bangsa Indonesia ’sedikit’ tergerak hatinya.

Sekarang, anggap saja kasus Malaysia ini sebagai *tsunami kecil budaya*, yang secara kolosal telah menarik perhatian bangsa Indonesia akan kekayaan budayanya sendiri.

Coba banyangkan, barapa banyak paper, artikel, seminar, promosi budaya dll yang perlu diciptakan dan digelar agar bangsa Indonesia ’sedikit’ sadar budaya? Bukankah melalui budaya daerah ini perbedaan2 agama dan suku, itu melebur? Semua bersuka cita (bersyukur) atas keunikan masing-masing.

Mereka yang bajunya penuh bordir indah tak pernah menghina mereka yang hanya menggunakan koteka. Bahkan mereka saling bangga dengan keragaman ini. Lihat saja ketika karnaval. Apa jadinya jika semua hanya menggunakan satu jenis baju daerah. Ketika semua jenis baju daerah dikenakan, tampak jauuuh lebih indah. Bhinneka Tunggal Ika. Bukankah ini sebuah ketinggian pencapaian batin dan moral? Meskipun saat ini ketinggian ini sepertinya hanya tampak di jalanan ketika 17 Agustus, namun nilai-nilai itu sebenarnya ada di dalam tubuh bangsa Indonesia.

Sekarang, “we are united” dalam memandang warisan budaya. Sebuah momen yang luar biasa, jika kita bisa melihat bahwa kasus ini bukan semata karena kelihaian Malaysia dalam mengemas turisme mereka, tetapi sebagai “aksi” The Hidden Hand untuk ’sedikit’ membuka mata hati bangsa Indonesia agar bisa melihat perbedaan sebagai sebuah keindahan.

So, Thanks to Malaysia. Our little brother.

Mereka mendapat lagu Rasa Sayange untuk kesuksesan turisme mereka. Dan kita mendapat sebuah “kesadaran”. Tak usah khawatir, lagu itu tetap milik bangsa Indonesia, dan berasal dari Maluku kita.

Sekarang, pertanyaan yang paling penting: bagaimana kita menyalurkan energi “kesadaran” Bhinneka Tunggal Ika yang kembali mengalir ini?

Menunjuk jari dan menyalahkan orang lain, serta cukup puas dengan merasa kaya dan tinggi budaya, tidak akan merubah apa-apa. Bangsa Indonesia harus memanfaatkan “kesadaran” yang telah ditiupkan secara kolosal oleh Tuhan ini untuk memperbaiki diri, di bidang masing-masing.

Bhinneka Tunggal Ika, apakah kau kira itu sekedar ciptaan manusia?

2 Responses to “Thanks to Malaysia: Rasa Sayang Hey”

  1. kumara ardhika says:

    waahh… artikelnya dahsyat om…

    pada awalnya tanggapan saya tentang malaysia yg “minjem” lagu rasa sayange tuh kesel banget dan ngga melihat sisi positif dari dampak yg terjadi…

    tapi setelah baca tulisan om, pendapat saya langsung berubah 180 derajat.

    mantaaabhh…

  2. mira says:

    yang namanya make lagu orang harus minta ijin dulu klo ga ijin itu namanya mencuri…
    saya sih setuju ga setuju sama tulisan om di atas, kenapa? janganlah om menyalahkan generasi muda yg ada, kenapa om ga coba melihat kenapa anak mudah indonesia cenderung menggunakan tarian luar daripada negara sendiri?? yah ga mungkin kali klo lagu2nya ratu seperti teman tapi mesra kita nari make tarian kecak atau tarian daerah…hehehheheh lucu ga om…????
    saya rasa yang perlu disalahkan yah pemerintah yg kurang memeperhatikan budaya negara sendir padahal kita punya menteri parawisata dan kebudayaan..( kerjanya apa aja yah )..
    peranan orang tua juga perlu, gimana mendidik anak sejak kecil dan memperkenalkan budaya negara kepada anak supaya anak lebih menghargai dan mencintai budaya negaranya…
    yah ini merupakan suatu pelajaran bagi kita semua bukan hanya pemerintah namun semua warga negara indonesia supaya lebih peduli dan lebh menghargai budaya serta kesenian daerah…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>