Licinnya Gunung Thursina

climb.jpgPara nabi mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidupnya. Meskipun Allah telah membantu mereka melalui para malaikat, tetap saja mereka harus mengalami kesulitan demi kesulitan. Itulah jalan untuk mencapai tingkatan seorang nabi. Jika seorang manusia berjalan mendekati tingkatan itu, mereka pun akan mengalami kesulitan, kesulitan, dan kesulitan.

Nabi Musa ketika akan menerima Sepuluh Perintah Tuhan, mengalami banyak sekali kesulitan dalam mendaki gunung Thursina. Jalan yang dilalui licin sekali. Ketika seseorang mengangkat kakinya setapak, saat itu berbagai kesulitan akan menarik tubuhnya, hingga jatuh tujuh langkah ke bawah. Demikian seterusnya, sehingga jika dia tak bisa melalui kesulitan itu, tak akan mungkin gunung Thursina ditaklukkan.

Gunung Thursina ini bukanlah gunung yang berada di Timur Tengah. Jika hanya ini yang dimaksud dengan Gunung Thursina, tentu mudah sekali didaki. Gunung Himalaya, atau gunung tertinggi di dunia akan masih mudah didaki. Sedangkan gunung Thursina yang dimaksud, jauh lebih sulit didaki. Sinai berarti nafsu, itulah gunung nafsu yang bertengger di dalam diri.

Ketika seseorang melangkahkan kakinya sekali, misal bersodaqoh, berbagai kesulitan langsung menarik dia agar jatuh kebawah: rasa riya, kesombongan, keakuan, rasa lebih kaya, rasa lebih beruntung. Jatuhlah dia diinjak-injak oleh runtuhan bebatuan nafsunya.

Tatkala seorang ahli agama berseru mengajak kebaikan, saat itu berbagai kesulitan menariknya agar terpeleset ke jurang. Rasa dirinya lebih sholeh, lebih tahu, paling benar, membuat dia tidak mau disalahkan atau dikoreksi, hingga akhirnya dia diinjak-injak oleh nafsu amarahnya sendiri.

Sulit sekali mendaki gunung Thursina ini. Benar-benar sulit. Selama rasa keakuan, pingin diakui, pingin dihormati masih melekat, selama itu pula beban di pundak akan memberatkan pendakiannya. Alih-alih menajalankan dan membela agama, yang terjadi adalah dia sedang diinjak-injak oleh arrogansi, rasa paling benar, sehingga dengan mudah merusak, menyalahkan, dan atas nama agama melakukan pembunuhan. Agamaku, keluargaku, anakku, istriku, negaraku, rumahku, nama baikku, perjuanganku, pengorbananku. “aku”, inilah beban yang sangat berat, yang selalu dipikul oleh manusia ketika dia mendaki gunung Thursina.

Bagaimana agar bisa mendaki gunung Thursina dengan selamat sampai di puncak? Di sana manusia akan bertemu dengan Tuhannya, seperti Musa yang bertemu dengan Allah ketika menerima langsung perintah Tuhannya.

“Wahai Musa, lepaskanlah terompahmu,” kata Allah.

Hanya dengan melepaskan terompah keakuan lah Musa bisa bertemu dengan Allah. Dia tinggalkan istrinya yang lagi mengandung di bawah gunung. Dengan diri yang ringan karena beban ‘aku’ sudah dilepaskan, dia mendaki gunung nafsu (gunung Thursina) dengan mudah.

Satu per satu perintah Tuhan disampaikan kepada Musa. Sampai pada perintah ketiga, Tuhan berkata kepada Musa, “Dimana kamu, wahai Musa?” Hingga tiga kali Tuhan memanggil Musa, dan pada panggilan keempat Tuhan berteriak, “Musa! Dimana kamu sekarang?”

Musa terkejut, sadar kembali, dan berkata, “Tuhan, aku ada di sini.”

Saat itu, Musa tengah memikirkan istrinya, Safura, yang sedang hamil tua. Dia berpikir, apakah istrinya mendapat makanan cukup, juga air? Siapa yang menjaga Safura? Pikirannya tidak di depan Tuhan, tetapi turun gunung mengkhawatiri istrinya.

Betapa licin gunung ini, dan betapa berat beban yang selalu dipikul manusia. Egonya, pikirannya, masa lalunya, dan angan-angannya, semua menari-nari ketika manusia sedang ‘menghadap’ Tuhan. Mereka semua berusaha menarik manusia agar nungsep masuk ke bumi, ke asal mereka. Semua beban itu terlahir dari makanan dan lingkungan, yaitu dari dunia. Dari dunia mereka datang, dan ke dunia mereka akan kembali. Selama mereka menemani esensi manusia (yang berupa cahaya ruh dari Allah) ketika manusia di alam dunia, selama itu pula mereka berusaha mengurung cahaya dengan kegelapan.

Betapa sulitnya. Sungguh, jika diperlihatkan yang sesungguhnya, sangat sulit tanpa pertolongan Allah. Salah satu pertolongan Allah adalah sebuah jalan dan masa. Disitu manusia akan dipotong ikatan-ikatan yang membelenggunya. Ikatan nafsu amarah yang membuat manusia rakus, serakah, dan merusak, dipotong. Ikatan angan-angan yang membawa manusia untuk selalu mengejar jabatan, harga diri, pengormatan, dan pengakuan, dipotong.

Dalam perjalanan itu, manusia harus bersikap keras dan tegas kepada nafsu makan, seks, dan amarah selama satu bulan penuh. Sikap yang tegas, dengan hanya memberi bagian mereka sesuai kebutuhan dan waktu yang ditetapkan. Melalui PUASA RAMADHAN!

Inilah jalan yang telah disediakan oleh Allah, agar manusia bisa mendaki gunung Thursina, dan kemudian menemuiNya. Kereta Ramadhan besok mulai berjalan. Manusia berebutan menumpang dan turut dalam perjalanan. Namun, selama mereka masih saja memikul beban-beban yang memberatkan itu, selama itu pula dia hanya akan ikut dalam rombongan, tapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Gunakan ilmu, hikmah, dan kebijakan untuk mengenali sifat-sifat yang membebani perjalanan. Lalu potonglah.

Ya Allah yang Maha Bercahaya,
berilah sedikit CahayaMu agar terang bagi kami
beban-beban yang memberati pundak kami
ketika kami mendaki gunung nafsu ini.

Terangilah jalan kami dengan ilmuMu
sehingga tampak jelas di mata hati kami
saat-saat beban itu berusaha menjatuhkan kami
dan menginjak-injak diri kami

Ya Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang
hanya Engulah yang mampu menurunkan
beban-beban yang telah begitu menyatu dengan diri kami
bantulah aku meringankan diriku, Tuhan..

3 Responses to “Licinnya Gunung Thursina”

  1. beben says:

    Salam, mas apa khabar? nyuwun pangapunteun ikutan berbagi tentang ramadhan, ini ada kisah bagus dari Jalaluddin Rumi buat kita setelah ramadhan menjelang syawal :

    Alkisah, seorang pemburu ular pergi ke gunung
    untuk menangkap ular dengan mantra-mantranya.
    Setelah menjelajah gunung-gunung yang tinggi,
    ia sampai ke puncak gunung yang bersalju.
    Di sana, ia menemukan seekor ular besar terbujur kaku
    seperti sebongkah kayu.
    Tubuhnya membeku dan tampaknya sudah mati kedinginan.
    Tidak ada gerak sama sekali.

    Dengan sukacita, ia memikul ular itu
    seperti memikul tiang rumah.
    Pada hari pasar, ia membawa ular itu ke Kota Baghdad.
    Di perempatan jalan raya, di tepi Sungai Tigris,
    ia membuka tempat pertunjukkan.
    Ia berteriak: Aku membawa ular naga yang mati,
    setelah lelah aku dalam perburuan yang penuh kesulitan!

    Berita menyebar ke seluruh penjuru.
    Pemburu ular sudah menangkap naga!
    Berbondong-bondong orang datang,
    membayar tiket masuk, dan menanti
    dibukanya selimut yang menutup naga.
    Pemburu ular juga setia menanti
    sampai lebih banyak orang yang hadir.
    Makin banyak orang hadir, makin banyak uang mengalir…

    Perlahan-lahan, ia menyingkapkan
    tumpukan selimut yang menutupi tubuh naga.
    Semua mata memandang dengan tegang.
    Naga itu diikat dengan tali yang sangat kuat.
    Terdengar jeritan takjub.
    Matahari Baghdad memanaskan semua makhluk,
    termasuk penonton dan ular naga.
    Perlahan-lahan salju yang menutup naga mencair.
    Ular besar itu menggeliat.
    Orang-orang menjerit ketakutan.
    Ular itu terbangun dari tidurnya yang lama.
    Dengan mulutnya yang besar,
    ia menyuapkan ke dalam gerahamnya
    apa pun yang dekat dengannya.
    Ia menyempurnakan buka puasanya
    dengan melahap sang pemburu ular,
    dan meremukkan tulang-tulangnya…

    Pemburu ular telah tertipu. Ia kira ular naga itu telah mati,
    padahal ia hanya bersembunyi, di balik dinginnya salju tanah tinggi.

    Ular naga itu nafsumu: mana mungkin ia mati?
    Ia hanya beku karena miskin dan sakit hati

    Jika ia menjadi Fir’aun dengan segala kekayaannya
    Sehingga seluruh Air Nil mengalir karena perintahnya

    Ia akan mulai benar-benar bertindak seperti Fir’aun
    Membabat ratusan orang seperti Musa dan Harun

    Ular Naga menjadi ulat kecil karena sengsara
    Lalat menjadi garuda, karena kaya dan kuasa

    Biarkan ular itu dipisahkan salju dari keinginannya
    Awas, jangan biarkan matahari Irak mencairkannya

    Selama ini kita berjalan di muka bumi, mencari bekal di hari nanti.
    Allah kirimkan para Nabi, memberi petunjuk jalan yang pasti.
    Tetapi musuh yang harus dihadapi, selalu berbisik mengajak keji.
    Hawa nafsu yang teramat sakti, yang bersemayam di dalam diri.

    Kemudian Allah hadirkan Ramadhan, agar nafsu itu kita tidurkan.
    Kita isi malam-malamnya dengan ibadah,
    siangnya dengan perut lapar yang pasrah.
    Tuhan mendidik kita sebulan lamanya.
    Agar matahari Syawal menyambut kemenangan fitrah.
    Selama sebulan ular naga itu kita sembunyikan.
    Jangan sampai matahari Syawal mencairkannya.
    Berkat Ramadhan kami sanggup mengekangnya
    Ya Allah, sebentar lagi ia meninggalkan kami.
    Izinkan kami sampaikan salam perpisahan padanya

  2. I Fahmi says:

    Kang Beben, waalaikum salam. Bagaimana kabar kang Beben dan keluarga? Semoga dalam ridha Allah ya kang.

    Terimakasih banyak atas ceritanya. Menarik sekali, dan menjadi pelajaran khususnya buat saya. Setelah Ramadhan, sempat lupa untuk mengamati si naga itu. Padahal setelah Ramadhan, itu adalah masa yang kritis, karena si Naga akan bangun.

    Wassalam,
    ismail

  3. achmadbisri says:

    terimakasih mas, postingannya bagus sekali untuk direnungkan :) , jadi semangat baca postingan lain lainnya nih, sekali lagi nuhun …

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>