Cahaya dan Bola Lampu
Jika bola lampu itu masih padam, dan masih bisa melihat wujud dirinya, dengan cahaya apa dia akan menerangi sekitarnya? Dia sendiri masih gelap gulita.
Groningen, 17 Juli 2007
Bismillah arrohman arrohim.
Sebenarnya ada yang kontradiksi dengan tulisan ini. Dia berbicara tentang ‘cahaya’ dan ‘bola lampu’. Di satu sisi, pembicaraan tentang ini seyogyanya dilakukan di dalam diri dengan hening; bukan seperti yang dilakukan oleh seorang penabuh genderang di depan sebuah toko, mengundang orang-orang untuk membeli barang-barang yang sedang diobral. Ribut sekali. Namun di sisi lain, saya perlu menuliskan apa yang telah menyelinap dalam hati saya ketika tadi 15 menit duduk di tepi sungai Westerhaven membaca “Hajj: The Inner Pilgrimage.” Setelah saya renungkan, penting untuk menuliskan wisdom yang telah mencerahkan saya, sebagai pengingat jika kelak saya lengah. Saya merasa seperti penabuh genderang itu. Ribut sekali. Walau demikian, semoga hanya dinding-dinding hati saja yang merasakan getarannya. Tak lebih dan tak kurang.
Bola lampu
Minggu lalu ada sebuah mobil truk bermuatan pipa dan kabel listrik berhenti di depan rumah. Gardu listrik di kompleks flat saya sedang diperbaiki. Saya pun memberitahu anak-anak tentang mobil itu, apa yang akan dilakukan oleh para pekerja, bagaimana listrik bisa sampai di rumah, dan bagaimana bahayanya. Entah bagian mana dari cerita saya yang menempel di anak-anak, yang pasti setelah saya pergi kerja, anak-anak khususnya Lala menjadi takut dengan listrik. Apapun yang dia lihat bisa menghantarkan listrik, dan pengetahuan ini begitu menakutkan buat dia. Perlu kerja keras istri saya untuk memberi pemahaman tambahan bahwa hanya benda-benda yang menjadi sumber listrik dan yang mengalirkan arus listrik yang berbahaya.
Salah satu yang membuat Lala tenang dan bisa normal lagi adalah ketika ingat bahwa dengan listrik bola lampu bisa menyala, dan ruangan bisa terang. Dia tak takut apalagi membenci listrik, tetapi menerimanya.
Bola lampu yang ditemukan oleh Edison ini, selain memberi penerangan di rumah-rumah manusia, di jalan-jalan, dan dimana-mana, sebenarnya juga memberi wisdom kepada hati manusia. Bagi orang-orang yang gelap pengetahuannya, seperti Lala yang hanya tahu kalau listrik itu berbahaya, melihat bola lampu seperti melihat hantu. Begitu menakutkan dan mengancam. Mata pikiran yang dalam kegelapan, akan memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang gelap. Bukankah demikian halnya dengan mata hati yang gelap, maka dia akan memandang segala sesuatu sebagai sesuatu yang gelap juga? Apa yang sedang kita lihat sekarang? Dalam bab “Circling the Open Heart” terdapat sebuah hikmah:
Kala kita memandang dengan mata keindahan,
yang kita lihat hanya keindahan.Kala kita memandang dengan mata kegelapan,
yang kita lihat hanya kegelapan.Kala kita memandang dengan hati yang penuh ragu,
yang kita lihat hanya keraguan.Apa yang kita rasakan dari sebuah padang bunga?
Kita hanya merasakan keharumannya.Apa yang kita lihat dalam gelapnya malam?
Kita hanya melihat kegelapan.
Seperti ini, kita melihat segala sesuatu sesuai dengan “the state of our own heart.” Persepsi kita merupakan bukti dari tingkatan hati kita.
Cahaya
Ketika anak saya melihat menyalakan tombol dan lampu yang tadinya menakutkan itu menyala, akhirnya yang dia lihat bukan lagi bola lampu. Hanya cahaya, hanya terang yang dia rasakan. Tak tampak lagi bola lampu itu. Cahaya telah menutupinya dengan terang dan keindahan.
Bukankah demikian juga halnya dengan diri kita? Ketika cahaya datang, kita tak akan tampak lagi. Ketika wisdom datang, kita tak akan tampak lagi. Hanya cahaya yang akan tampak. Tak ada satupun yang akan tampak, kecuali cahaya. Kesalahan dan kekurangan seorang anak manusia tak akan tampak, hanya cahaya yang tampak. Bukan ini bukan itu lagi yang tampak, semuanya hanya cahaya yang tampak.
Ketika cahaya datang, wisdom datang, kualitas dan kerja Sang Pencipta datang, apalagi yang tampak oleh kita? Bukan “aku“, bukan “kami”, bukan “milikku“, bukan “milik kami”. Pancaran cahaya dari kualitas Tuhan akan berada dalam diri kita, memancar ke luar menerangi alam, dan semua yang memandang ke dalam diri kita hanya akan melihat keindahan itu.
Jika bola lampu itu masih padam, dan masih bisa melihat wujud dirinya, dengan cahaya apa dia akan menerangi sekitarnya? Dia sendiri masih gelap gulita.
Wallahu’alam









July 19th, 2007 at 8:37 pm
halo mas… apa kabar??
hehehe… ga nyangka nih, lg browsing subuh2 gini ga taunya ketemu satu alamat yg sangat2 familiar Pas dicek buat mastiin n ternyata tepat sekali hehehhe…
Gimana kabar di belanda nih? kapan pulang ke indo?
Salam aja buat keluarga ya… Ntar saya kirim foto lala, aik, dea n rara
July 27th, 2007 at 8:16 am
Wah dalem banget Mas,bagus!!!
August 13th, 2007 at 9:34 pm
@sonny
Halo Mas Sonny, wah surprise nih. Maaf baru dibalas. Baru balik dari liburan soalnya.
Doain saya segera balik ke Indonesia ya. Rencana sih tahun depan. Gimana, masih rajin kan sama Mas Firman?
Oh iya, thanks mau dikirim fotonya. Lewat email saya ya, ismail.fahmi@gmail.com. Nuhun ya, ditunggu fotonya. Dan salam buat keluarga.
August 13th, 2007 at 9:35 pm
@alwi
Saya cuma bisa nulis saja mas Alwi. Yang bagus itu kalau bisa menjalankannya. Doain ya mas.