READ MORE >> Renungan, Wisdom.
Yang saya lihat bukan siapa-siapa.
Yang saya lihat adalah diri saya sendiri.
Hmm… cuma begini kualitas saya.
– 17 Mei 2007
Pukul 8 pagi. Ini adalah saat yang lumayan sibuk buat saya, karena harus bersiap-siap mengantar anak-anak ke sekolah. Setelah mandi dan mengenakan baju yang bersih, persiapan terakhir adalah menyisir rambut. Meskipun dengan sisir dan kedua tangan saya sudah bisa merapikan rambut, saya selalu memilih untuk menyisir rambut di depan cermin.
Ah, rambut saya sudah panjang. Bagian depan sudah mulai menutupi pandangan mata dan bagian samping juga sudah masuk ke telinga. Namun saya rasa masih bisa menunggu beberapa minggu sebelum akhirnya rambut ini harus dipotong biar rapi.
Hebat sekali penemu cermin ini. Sungguh berjasa kepada umat manusia, sehingga mereka bisa melihat wajah mereka sendiri. Di depan cermin, manusia bisa mengetahui dengan segera jika ada jerawat yang mulai tumbuh, seperti istri saya yang mulai totol-totol kalau ‘musim’nya tiba. Dengan membersihkan kotoran di wajah yang tak sedap di pandang mata, melapisi kulit dengan sun block dan pupur, atau menyisir dan mencukur rambut, seseorang akhirnya bisa tampil dengan cakep. Hati pun senang.
Sebentar. Bukankah manusia bukan hanya terdiri dari fisik saja? Bukan hanya dari wajah yang tampak di cermin saja? Bukankah manusia juga memiliki bagian yang tak tampak mata? Ibarat botol yang tak tembus pandang, kita tak pernah tahu apa isinya, sebelum kita menuangkan isi botol tersebut keluar. Demikian juga dengan manusia, kita tak pernah tahu isi dirinya, sebelum kita memaksa dia mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Isi botol adalah bagian yang tak tampak dari botol itu. Dan pada manusia, isi hati dan pikirannya adalah bagian yang tak tampak dari dirinya.
Kalau mengeluarkan isi botol gampang, tinggal dibuka tutupnya dan dibalik, langsung keluar isinya. Untuk manusia bagaimana? Adakah cermin untuk mengetahui “inner beauty” manusia? Dan apakah kita bisa mengetahui “inner” orang lain?
Pernah suatu hari, saya yang sudah sangat capek bekerja, pulang ke rumah dan mendapati kamar kerja saya berantakan, termasuk buku dan kertas-kertas kerja tergeletak di sana-sini. Hari sudah mau malam, namun anak-anak belum juga membereskan, padahal posisi buku dan kertas-kertas ini sangat penting mengingat paper yang saya tulis berdasarkan bahan-bahan ini belum selesai. Tanpa saya sadari, langsung mengalir dari dalam dada ini dorongan panas yang membawa rasa kesal dan marah. Sungguh tak bertanggung-jawab anak-anak ini, dan tak tahu dimana harus bermain. Sudah diberi kamar sendiri dan juga ruang tamu untuk bermain, masih saja menggunakan kamar kerja saya. Awas ya…
Saya panggil anak-anak. Sambil menahan kesal dan marah, saya tanyai mereka. Walau bagaimana pun saya berusaha menyembunyikan kekesalan, masih saja keluar dari mulut saya nada marah. “Ayah ndak sayang. Mbak Lala ndak sayang sama ayah,” kata anak saya.
“Mengapa?”
“Karena ayah marah. Mbak Lala ndak sayang ayah kalau ayah marah.”
“Oke. Tapi tahu mengapa ayah marah?”
Diam.
“Coba lihat kamar ayah, berantakan semua. Mengapa masih main di sini, bukankah sudah punya tempat bermain sendiri?”
“Di sini lebih asyik yah. Ada kertas-kertas, kursi dan meja untuk sembunyi-sembunyian, bisa main rahasia-rahasiaan. Permainan belum selesai, yah. Nanti mbak Lala bereskan. Mbak Lala bikin ini yah…” dan seterusnya dia cerita tentang apa yang dikerjakannya dengan suka cita.
Ternyata, anak-anak bukan tak bertanggung-jawab. Mereka hanya mengikuti diri mereka sendiri, yang senang melakukan eksplorasi, di manapun mereka lihat itu menarik buat mereka. Imajinasi dan kreativitas mereka berkembang. Bukankah ini bagus?
Tapi sekarang lihat apa yang telah saya pikirkan tentang mereka: tak bertanggung jawab, tak tahu dimana harus bermain. Berbeda sekali. Ternyata apa yang saya pikirkan tentang mereka, apa yang kemudian membuat rasa kesal dan marah itu muncul, bukan mereka yang sebenarnya. Ternyata itu hanya rekaan pikiran saja.
Saya jadi teringat pesan seorang bijak, “Jangan pernah mengikuti apa kata kera pikiranmu.” Menurut beliau, yang sudah melihat unsur, sifat, jenis, dan wujud asli dari pikiran manusia, bagian ini tak akan pernah membawa manusia kepada kebahagiaan sejati. Pikiran sifatnya seperti kera, yang dalam kasus saya di atas, dia berusaha menimbulkan nafsu kesal dan amarah dengan menghadirkan gambaran-gambaran buruk yang telah ada dalam memori saya, kepada kejadian yang tengah berlangsung. Tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, pikiran berusaha meyakinkan saya bahwa perkaranya pasti begini dan begitu. Kenyataannya berbicara lain.
Jadi, yang saya lihat (kamar yang berantakan), saya pikirkan (anak-anak tak bertanggung jawab), dan saya rasakan (kesal dan marah) itu ternyata bukan apa yang sebenarnya di depan saya. Itu semua adalah hasil kerja pikiran dan nafsu saya. Lalu, apa yang saya “lihat” tadi? O..M..G… itu adalah wajah diri saya yang tak tampak itu! Ternyata kualitas yang ada dalam dirinya seperti itu: tak bisa melihat karya besar kreatifitas manusia yang masih berbentuk anak-anak, tak bisa melihat semangat dan imajinasi yang sedang tumbuh dalam diri mereka, masih diisi oleh kualitas-kualitas yang mudah kesal dan marah disebabkan oleh hal-hal kecil itu, masih ada ego dengan tak mau milik saya diganggu. Ya, that’s me! Yang saya lihat bukan siapa-siapa. Yang saya lihat adalah diri saya sendiri. Hmm… cuma begini kualitas saya. Baru mendapat kedidaknyamanan sedikit saja sudah merasa lebih tinggi dan merasa selalu benar dari pada anak-anak itu.
Saya tidak tahu, kenapa jarang sekali saya memiliki kesadaran seperti sekarang ini, yang bisa melihat wajah dalam saya. Yang lebih sering adalah anggapan bahwa apa yang saya lihat itulah kenyataan yang sebenarnya. Jarang saya sadar bahwa yang saya lihat itu hanyalah bayangan saja. Bukankah sejak SMP saya sudah mendapat pelajaran fisika tentang cermin dan lensa? Disitu digambarkan dengan jelas, bahwa yang dilihat oleh manusia itu sebenarnya adalah cahaya dari luar yang melalui lensa mata, yang menimbulkan bayangan terbalik di ujuang sana. Lalu oleh otak bayangan terbalik tersebut dibalik lagi agar manusia melihat apa yang di depannya tidak terbalik. Bayangan yang diterima oleh pikiran itulah yang kemudian dianalisa, disimpan, dan diingat kembali suatu saat. Sekarang, bayangan-bayangan yang berkumpul dalam memori ini yang pluk..pluk..pluk.. muncul setiap kali saya melihat sesuatu atau mengalami sesuatu. Kemudian muncul yang namanya stereotip, generalisasi, labelling, penilaian dan sebagainya.
Betapa pikiran ini tak pernah lelah untuk selalu mengeluarkan apa yang ada di dalam memorinya untuk mengenali, menganalisa, dan menilai apa yang dilihat oleh mata. Mata tidak bohong, dia hanya meneruskan cahaya dari luar. Namun pikiran ini yang berperan dalam memanipulasi kenyataan, sehingga manusia selalu hidup dalam alam bayangannya sendiri. Dan pikiran selalu bilang: inilah kebenaran sejati.
Kejadian kecil bersama anak-anak itu, kiranya menyadarkan saya akan benarnya nasehat orang bijak tersebut: jangan pernah mengikuti apa kata kera pikiranmu. Terus, siapa yang harus saya ikuti?
Rasulullah. Ah iya. Saya punya teladan, yaitu Rasulullah S.A.W. Bagaimana wajah sejati beliau? Maksud saya bukan wajah luar yang tampak di cermin material, tetapi wajah dalam atau akhlaq. Salah satu kisah yang sangat populer, yang sangat membekas dalam ingatan saya (aha.. ada gunanya juga pikiran dalam hal ini.. jika diisi dengan hikmah-hikmah berharga), adalah kisah Rasul bersama seorang Yahudi yang penuh dengki. Setiap Rasulullah melewati sebuah jalan di depan rumah Yahudi itu, selalu beliau mendapat hadiah berupa lemparan batu atau siraman ludah. Meskipun mendapat hinaan dan gangguan seperti itu, beliau tak pernah mengumpat, marah, bahkan tak pernah memandang buruk orang Yahudi itu. Beliau selalu tersenyum, dan tak pernah surut untuk melewati jalan itu. Bahkan beliau adalah satu-satunya yang menjenguk sang Yahudi ketika ia sakit, sedangkan tetangganya tak satupun yang sudi.
Nah, di sinilah saya melihat wajah dalam Rasulullah. Begitu indah, begitu bercahaya. Tampak bedanya antara wajah dalam Rasul dengan wajah dalam tetangga dan Yahudi itu. Duhai kekasihku, terbuat dari apakah hatimu? Sungguh indah wajahmu.
Apakah ini yang namanya cermin diri? Penderitaan, pujian, dan semua kejadian di luar diri kita, termasuk para aktor yang berperan dalam panggung sandiwara dunia ini.. semua adalah cermin. Cermin yang tak pernah berbohong, tak pernah salah. Saya melihat wajah dalam Rasulullah yang bercahaya dari pantulan akhlaq yang beliau pancarkan ketika berdiri di depan “cermin-orang-Yahudi” itu. Dan saya pun bisa melihat wajah dalam saya yang begitu rendah kualitasnya ini dari “kreatifitas” anak-anak yang “berkarya” di kamar kerja saya.
Ah.. kini saya tahu. Ternyata kemanapun saya memandang, disitu lah cermin berdiri. Apapun yang saya lihat, itulah diri saya yang berdiri di sana. Jika saya melihat sebuah antrian tiket yang panjang, lalu menggerutu, ya begitulah wajah saya yang tak punya kesabaran. Jika saya mengomel karena ban sepeda saya kempes, ya itulah wajah saya yang tak pernah bersyukur sudah dikaruniai sepeda, sementara banyak orang yang tak pernah memilikinya. Jika saya kesal dengan seseorang karena apapun yang dilakukannya kepada saya, ya itulah wajah saya, yang saya hias dengan kedengkian dan sensitifitas. Jika saya bisa menulis refleksi ini, dan saya merasa sudah lebih dalam perenungannya, ya itulah kualitas saya yang bisanya cuma mengaku-ngaku kerja Tuhan dan bersombong ria.
Hm… mungkin ini juga yang dimaksud oleh Allah yang telah menciptakan saya dan cermin-cermin itu, “Belum dikatakan beriman kamu, jika kamu belum diuji.” Iman memang mudah diucapkan. “Aku beriman, wahai Rasul,” kata Arab Badui itu. Dan Rasul pun bilang, “Kamu belum beriman, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu…”
Ujian-ujian datang silih berganti setiap detik. Mulai dari yang tak terasa, yang biasa saja, hingga yang mantrrraaab. Kata orang Diknas, ujian nasional dibutuhkan untuk mengetahui tingkat pemahaman materi ajar, dan untuk menggambarkan kualitas murid-murid yang diuji. Jadi sama juga ya, ujian kehidupan ini untuk mengetahui kualitas apa yang ada dalam diri saya. Dengan ujian ini, saya bisa melihat kualitas di dalam diri.
Jadi, given above reflection:
UJIAN = CERMIN
[TERBUKTI]
Bikin aksioma ah, siapa tahu ada yang meng-quote (hehehee): “Botol berisi wine tak akan mengeluarkan susu.” Artinya, apa yang dikeluarkan dari dalam diri seorang manusia, tak akan jauh dari kualitas yang mengisinya.
Semoga Allah memaafkan saya atas segala kebodohan dan kesalahan dalam refleksi saya ini. Dia kan Maha Pengasih dan Pengampun. Segala kebenaran yang mungkin ada dalam ocehan ini adalah dari Dia.
Saya juga berterimakasih kepada cermin-cermin kehidupan. Engkau adalah utusan dariNya, khusus buat saya, agar saya bisa mengaca, menyisir isi hati dan pikiran, dan memotong kera-kera yang mengganggu pandangan.
Wallahu’alam…











Andy Aron says:
“Penderitaan, pujian, dan semua kejadian di luar diri kita, termasuk para aktor yang berperan dalam panggung sandiwara dunia ini.. semua adalah cermin.” ==> Setuju
“Cermin yang ….(dipotong)….tak pernah salah.” ==> Kurang Setuju
Bila kita adalah polisi. Sedang menangkap pembunuh berdarah dingin yang terkurung di sebuah pojokan dan tak ada tempat untuk berlari lagi. Disebuah pojokan itu hanya tinggal si Polisi dan si Pembunuh. Lantas apakah Si Polisi ini “semestinya” melihat si pembunuh adalah cermin bagi dirinya, atau visa versa?
IMHO, peristiwa adalah cermin, saya setuju bila dalam konteks perbaikan diri. But, bila memang ada bajingan di depan mata yang kerap kali membuat onar, lantas saya marah dan saya tangkap dia dan bawa ke polisi, apakah saya “semestinya” bercermin dari sang bajingan?
Peristiwa, baik dan buruk, senang dan sedih, suka dan duka, merupakan refleksi untuk perbaikan diri, bukan malah lantas menjadi cermin yang tidak pernah salah.
Btw, tiada cermin yang tak retak, dan bila kita bercermin di cermin yang retak, walhasil bayangan yang tercipta pun akan banyak…
Salam teletubbies…
Ismail Fahmi says:
Aron betul. Polisi ya polisi. Bajingan ya bajingan. Mereka punya sisinya masing-masing,yang kalau disandingkan ya ndak akan sama seperti kita dan cermin (bukan cerminan atau bayangan).
Memang hikmah cermin ini agak susah dipahami sedikit. Sulitnya terletak pada:
- yang mana diri kita,
- yang mana cermin,
- yang mana bayangan
Ada 3 hal di sana (polisi-bajingan-bayangan), bukan 2 hal (polisi-bajingan). Ketika polisi berhadapan dengan bajingan, dia bisa melihat kualitas dirinya sendiri dengan mendeteksi emosi, pikiran, dan perasaannya ketika berdahapan dengan bajingan itu. Emosi, pikiran dan perasaannya inilah yang merupakan bayangan, yang dia bisa lihat siapa dirinya. Nothing to do dengan cermin kaca (bajingan) itu sendiri.
Jadi, ARon benar, kita “tidak bercermin” dari bajingan, tetapi kita bercermin dari kualitas kita sendiri ketika berdiri di depan bajingan itu. Kita tidak perlu menunjuk-nunjuk si bajingan untuk mengetahui kualitas kita, cukup lihat emosi kita.
Apakah emosi, marah, ketegasan yang kita keluarkan ketika berhadapan dengan si bajingan itu berasal dari pikiran dan nafsu?
Ataukan ketegasan, sifat memaksa kita sebagai polisi itu berasal dari sifat Dia Yang Maha Memaksa dan Maha Berkehendak?
Atas nama siapa kita bertindak? Nafsu atau Kualitas Tuhan? Itulah bayangan kita, cerminan kita.
Ketty says:
Bagus sekali postingnya Mas… senang bisa mampir di sini..jadi malu sama diri sendiri yang jarang ber”cermin”
Ismail Fahmi says:
Terimakasih kunjungannya, Ketty. Kalau ada manfaatnya, itu berarti memang Dia sedang memberi manfaat.
erwin says:
Assalamu’alaikum wrwb
Alhamdulillah makasih mas atas artikelnya oh ya boleh di copykan.
Wassalamu’alaikum wrwb
Ismail Fahmi says:
Waalaikum salam,
Silahkan, Erwin. Semoga bermanfaat.
Imay says:
Sering kali kita tidak menyadari siapa diri kita ini. Kita juga paling pintar untuk mengatakan kita paling jago dan kita juga yang paling hebat.
merasa hebat ini sering membawa kita untuk hanya mengakui kehebatan diri sendiri dan memandang remeh orang lain.
Adakalanya kita perlu bercermin pada kaca untuk sekedar memelototi kaca seraya berbisik “siapa ini yang ada dalam kaca?”
Kalau tampak bagus kita katakan ini anugrah, tapai kalau jelek, memang kita itu, ya seperti itu.
Apakah cermin tempat mengaca akan kita pecah karena di sana ada bayangan kita yang jelek?
Ayruel chana says:
Assalamu alaikum wr wb
Isinya benar2 sarat dengan makna sisi dalam kehidupan.
Mohon izin copy paste pak ismail
Wassalam