Langit tanpa mendung

Jangan pernah menyalahkan matahari yang tak pernah kau rasakan sinarnya di kala mendung. Dia selalu di sana. Selalu memberi, menanti, dan melihatmu.
–25 April 2007

Pagi, jam 8.45, saya sudah sampai di sebuah perempatan sungai Westerhaven. Tampak beberapa kapal pesiar dan rumah kapal berlabuh di tepiannya. Dan seorang lelaki tua, sendirian duduk di bibir sungai yang sudah dikeraskan, sambil memancing. Di tepian yang sama, ada tiga bangku panjang yang terbuat dari kayu. Pada musim semi dan musim panas yang lalu, saya sering duduk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor. Pagi ini, saya ingin menikmati kembali moment tersebut. Lima menit bersama hangatnya sinar matahari yang cerah dan kesejukan udara pagi.

Bangku itu menghadap ke sungai, dan ketika saya duduk, matahari tepat berada di depan wajah saya. Saya lupa tidak membawa sun glass, sehingga harus memejamkan mata untuk menghalau silau.

Dalam keterputusan pandangan mata dengan alam, kulitku yang selalu meradakan hangat dan dingin mulai berbicara. Biasanya mata yang dominan memberi informasi, sehingga sang kulit jarang mendapat bagian perhatian. Saat itu adalah bagiannya.

Perlahan-lahan rasa hangat di wajah yang berhadapan dengan matahari memasuki hati. Kurasakan kasih sayang yang luar biasa dari Sang Pencipta kepada seluruh makhluk ciptaanNya. Melalui matahari, Dia berikan kehangatan dan energi kepada segala yang di bumi. Jalanan yang semalam lengang, menjadi sibuk oleh mobil-mobil yang membawa tuannya ke tempat kerja. Dengan atau tanpa kesadaran, semua mengikuti jalannya matahari.

Kulit di telinga kanan saya tidak merasakan kehangatan itu, namun kesejukan tiupan udara pagi yang menemaninya. Sehingga, pada saat yang sama, tubuhku merasakan kehangatan dan kesejukan sekaligus. Rasa tenang menyelimuti, dan limpahan kasih sayangNya mewujud nyata dalam kesadaranku.

Saya merenung. Mengapa hanya dengan menghadapkan wajah kepada mahatari yang nun jauh berada di langit sana, diriku bisa merasakan kehangatannya? Mengapa aku begitu memikirkan hal yang sudah lumrah ini? Apakah karena di Belanda begitu jarang momen hangat dan sejuk seperti ini, dan lebih sering momen mendung yang kelabu?

Aha.. semua itu karena antara diri saya dan matahari kini tak ada penghalang. Hampir 80 persen hari-hari di sini diisi dengan hujan, sehingga kecerahan pagi begitu berharga. Tak saya lihat mendung pagi ini, hanya matahari yang memancarkan sinarnya, mengalahkan sinar-sinar kerlip bintang lainnya.

Saya teringat sebuah kalimat, “Seandainya anak adam bersih dari dosa, niscaya dia bisa melihat para penghuni surga.” Dosa telah berlaku seperti awan, yang menghalangi pandangan kepada sang matahari, dan menghalangi sinar mentari kepada manusia. Seandainya manusia mau selalu membersihkan langit hatinya dari segala awan keakuan, kesombongan, kedengkian, kebohongan, kecintaan kepada bumi dan isinya, dan berjuta rasa-rasa yang menyelimutinya, niscaya dia bisa merasakan kehangatan pancaran cahaya dari Kekasihnya.

Seperti matahari yang tak pernah berhenti bersinar, Sang Kekasih juga tak pernah berhenti mencintai makhlukNya. Namun, seperti awan yang telah menghalangi sampainya sinar mentari ke permukaan bumi, berjuta rasa dan prasangka yang disimpan dalam hati manusia lah yang telah menutupnya dari melihat Sang Kekasih.

Jangan pernah menyalahkan matahari yang tak pernah kau rasakan sinarnya di kala mendung. Dia selalu di sana. Selalu memberi, menanti, dan melihatmu.

4 Responses to “Langit tanpa mendung”

  1. Nasar says:

    pa kabar mas? aku abis baca semua tulisannya… wah bakal jadi filsuf beneran … kapan lagi ya bisa ketemu

  2. anung says:

    you wrote>>Seandainya manusia mau selalu membersihkan langit hatinya dari segala awan keakuan, kesombongan, kedengkian, kebohongan, kecintaan kepada bumi dan isinya, dan berjuta rasa-rasa yang menyelimutinya, niscaya dia bisa merasakan kehangatan pancaran cahaya dari Kekasihnya.
    >>>Maksud hati mememeluk gunung … apa daya tangan tak sampai maksud hati tuk bersih diri … apa daya tak tahu gimana.

  3. Ismail Fahmi says:

    Assalamu’alaikum, Nasar. Terimakasih udah mampir ya. Wah, filsuf apaan. hehehe.. Jadi manusia biasa aja dah hehe.. Iya nih kapan ketemuan lagi. Mau lihat Nasar Jr. Salam buat teman-teman di UMM ya.

    Terus maju, bikin digital library di INdonesia semakin berkembang.

  4. Ismail Fahmi says:

    Assalamu’alaikum, Mas Anung..

    Untuk bisa membersihkan piring yang kotor di dapur, kita musti tahu bagian mana yang kotor, dan apa kotorannya. Kemudian kita bisa menggunakan alat dan sabun yang sesuai untuk mencucinya. Kadang pake sponge sudah bisa, kadang perlu alat pembersih yg lebih kuat.

    Dan untuk bisa membersihkan hati, musti tahu bagian mana dari hati kita yang kotor, dan apa kotorannya. Lalu musti tahu bagaimana membersihkan kotoran tersebut. Jadi, tidak ada jalan lain, kecuali harus memiliki “wisdom”.

    Allah sudah tunjukkan “wisdom” itu di depan mata kita, mulai dari kita bangun hingga kita tidur lagi. Jalanan yang becek, kucing yang suka membersihkan badannya dengan menjilat, pohon yang luruh daunnya lalu bersemi lagi, dan banyak lagi tanda-tanda kauniah yang mengajarkan “wisdom” kepada kita. Tinggal kita menggunakan hati untuk membacanya.

    Semoga kita selalu ditunjukkan dan dibukakan hati kita oleh Allah. Kita harus berusaha menuju ke sana!

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>