Thesis, dan bermain bola dengan anak-anak

Ternyata, ketika segala attachment (ikatan) telah diputus, dan segala indra disatukan ke pusat parabola di dalam diri, Dia akan membukakan hijab dalam hati, sehingga saya bisa melihat Dia ada di sana, dan di mana-mana. Dia ada bersama syukur, cinta dan kasih sayang.
– 23 April 2007

Hari ini adalah waktu yang sangat berharga. Sangat-sangat berharga untuk menulis thesis. Sudah beberapa minggu tidak ada kemajuan walau satu halaman, karena harus menganalisa 32 buah paper “previous works“. Analisa sudah selesai, data sudah diolah, dan grafik sudah dibuat. Dan sejak tadi pagi saya sudah menulis beberapa paragraph. Ide-ide lagi lancar, jadi ingin sekali bisa terus menulis hingga malam tiba.

Setelah menjemput anak-anak dari sekolah, saya mengajak mereka makan sore. Istri saya sendiri harus istirahat karena sakit. Lala pintar makannya, dan tampaknya bisa menghabiskan makanan yang sudah diambilkan. Sedangkan Malik agak susah. Baru beberapa suap matanya sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Untuk memotivasi agar dia mau bertahan hingga selesai, saya menjanjikan mengajak dia main bola jam 5 sore. Ternyata dia bersemangat dan berusaha menyelesaikan makanannya.

Ada rasa menyesal, mengapa tadi menjanjikan main bola, padahal ini bukan hari libur. Kalau tidak, selepas makan saya bisa melanjutkan menulis tanpa harus terputus dengan permainan yang hanya bikin badan capek saja. Di tengah bayangan penyesalan, saya teruskan menulis hingga satu setengah jam.

Sedang asyik menulis, Malik pun datang menagih, “Ayah tadi janji mau main bola. Kapan kita berangkat? Sudah jam 5!”

Seandainya..seandainya..seandainya.. tadi tidak janji. Akan enak sekali menulis. Akhir-akhir ini saya sedang “writing blues“, alias malas nulis. Pas sedang semangat nulis, malah harus meninggalkannya, “hanya” untuk main bola di hari Senin jam 5 sore. Sebenarnya bisa saja saya melakukan negosiasi, mengingat sudah sore dan anak-anak harus ke sekolah besoknya, main bola sebaiknya ditunda. Yang muncul dari mulut saya malah begini, “Aik, kasih ayah waktu sebentar lagi ya. Ayah lagi menulis.” Dan Malik pun kembali ke ruang tamu, nonton TV yang menjadi jatahnya hari ini.

Namun itu tak bertahan lama, karena jatahnya segera habis. Mendekati jam 6, Malik pun datang lagi, menagih. “Kapan kita berangkat?” tanyanya.

Saya angkat dia, dan saya dudukkan di atas meja sehingga hidungnya menempel hidung saya. Wajahnya penuh harap. Akhirnya saya bilang, “oke, kita berangkat sekarang.” Dan untuk mengusir penyesalan, saya ciumi pipi tembemnya kiri dan kanan. Malik turun, dan kemudian meja komputer saya tinggalkan.

Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran saya. Apa maksudnya ini, ya Tuhan. Ketika deadline thesis mendekat, dan kemajuan thesis belum seberapa, saya harus mengerjakan hal-hal di luar urusan thesis untuk orang lain. Ah, sebaiknya saya jalankan saja apa yang ada di depan mata. Inilah hidupku yang nyata, sementara masa depan itu semua adalah ghaib, tidak nyata.

Betapa sering dalam perjalanan naik sepeda pulang dari kampus, ketika berbincang dengan istri, bermain dengan anak, pikiran ini selalu menerawang ke depan. Selalu terbayang bahwa masa akhir studi sudah dekat, sehingga sikap mental yang terbangun adalah, “Diriku tidak boleh memikirkan hal yang lain, kecuali thesis. Ini yang paling penting dan menjadi tugasku saat ini.”

Sikap semacam ini membuat saya menjadi tidak lagi sensitif dengan pepohonan yang tadinya telanjang tanpa daun, dan kini sudah diselimuti oleh dedaunan hijau dan kelopak bunga putih, ungu, merah, dan kuning. Bunga krokus putih dan kuning di awal musim semi mekar dan layu tanpa banyak kuperhatikan. Saya tidak lagi menyapa mereka, tak ada waktu lagi untuk berbincang dengan mereka, karena dalam perjalanan di atas sepeda, saya merasa harus selalu berpikir tentang thesis yang sedang saya kerjakan. Rasanya berdosa jika sebentar saja berpikir tentang hal yang lain, dan merasa tidak nyaman karena tidak lagi bisa mengontrol perkembangan penulisan. Rasanya, saya harus selalu sibuk.

Semua sudah siap, dan kami bertiga pergi ke lapangan rumput tak jauh dari rumah, hanya lima menit jalan kaki. Pikiran saya berkata, “Oke lah, saya tinggalkan menulis. Namun, pikiran saya tak boleh berhenti melahap hal-hal yang berguna bagi kelancaran ide penulisan.” Sambil berjalan kaki, saya pun membuka “Like the Flowing River“-nya Paulo Coelho yang baru saya beli minggu lalu. Saya biarkan anak-anak berjalan di depan dan di belakang saya. Tak terlalu saya perhatikan mereka bicara apa.

Hanya lima menit jalan kaki, kenapa tidak saya lepaskan saja pikiran ini dan menikmati jalan kaki bersama mereka? Ujungnya toh tak ada satu pun semangat baru yang terserap dari buku itu. Saya telah menciptakan kesibukan baru, dan mengabaikan keceriaan anak-anak di depan saya.

Kami tiba di samping lapangan, dan segalanya harus di lepaskan. Buku saya masukkan ke saku. Dan anak-anak mulai mengatur permainan. Lala yang sudah berpengalaman dengan berenang bersama teman-teman sekelas mengusulkan, agar yang sedang tidak bermain harus berlari mengelilingi lapangan. Sekali putaran dia kemudian berhak untuk bermain dengan ayah, dan yang baru bermain harus berlari mengelilingi lapangan. Begitu seterusnya.

Lala yang pertama lari. Saya dan Malik pun membuat gawang dan memulai permainan berdua. Hebat sekali dia. Belum Lala satu putaran, Malik sudah memasukkan 3 gol ke gawang ayahnya. Kemudian ganti Lala melawan ayah. Dia juga hebat, memasukkan 3 gol lagi ke gawang ayahnya. Begitu terus mereka bergantian, akhirnya mereka bermain berdua melawan ayah, karena capek lari mengelilingi lapangan. Bersama-sama mereka berhasil menembakkan 18 gol ke gawang ayah. Sementara ayah sendiri hanya memasukkan 5 gol.

Kalau sering kemasukan seperti ini rasanya pertandingan menjadi hidup. Anak-anak bersemangat, mereka puas dan percaya diri karena bisa mengalahkan ayahnya. Setiap mereka memasukkan bola, mereka berpelukan dan berciuman merayakan kemenangan bak pemain profesional.

Di tengah permainan asyik ini, datang dua orang anak bule yang pingin ikut bermain. Yang satu seumuran Lala, tapi bongsor, satunya lagi umurnya di bawah Aik. Akhirnya permainan dilanjutkan 1 lawan 4. Tak lama kemudian datang lagi 1 temannya, laki-laki setahun di atas Lala. Dia diterima ikut bermain melawan ayah seorang. Permainan masih asyik, karena mereka masih kecil-kecil. Masing-masing merasa puas karena berhasil menggolkan bola ke gawang ayah. Anak yang paling kecil tentu tak pernah dapat bola di lapangan. Namun, dia selalu berlari mengejar bola yang telah masuk ke gawang, dan menggiringnya ke tengah lapangan. Mungkin dengan begitu dia sudah merasa puas, karena bisa membawa bola sendiri dan karena bisa ikut bermain bersama tim yang lebih besar.

Kemudian datang lagi teman mereka, laki-laki, sekira 2-3 tahun di atas Lala. Jumlahnya 3 orang. Tentu mereka larinya lebih cepat, dan tendangannya lebih keras. Lala dan Malik jadi jarang kebagian bola. Anak-anak perempuan itu juga jarang menendang, karena bola larinya semakin jauh ke samping, dan tendangannya melambung tinggi. Saya rasakan permainan jadi tidak asyik lagi dan membosankan. Akhirnya saya pura-pura tanya sudah jam berapa, dan saya beri waktu 5 menit lagi untuk bermain.

Tak lama sebelum permainan selesai, salah seorang orang tua mereka datang. Saya pun meninggalkan lapangan dan berkenalan dengannya. Ngobrol sebentar tentang cuaca yang cerah, dan seringnya orang komplain karena kotoran anjing banyak berserakan di lapangan rumput ini.

Langit mulai mendung, rintik-rintik turun, dan kami pun pulang. Badan terasa segar, ada keringatnya, dan tidak capek-capek lagi. Anak-anak puas berhasil mengalahkan ayah dengan skor terakhir 29 lawan 9.

Dalam perjalanan pulang, saya merenung kembali, apa maksud semua ini.

Satu hal yang saya pelajari, bahwa sesungguhnya Soul of the World (meminjam istilah Coelho) telah mengatur segala detail kehidupan. Entah kita menjalaninya dengan penuh perenungan dan syukur, atau mengabaikannya dan mengikuti segala yang diminta oleh pikiran, segala sesuatu yang telah diaturNya pasti akan terjadi. Mereka akan berjalan, dan kita pun akan berada di dalamnya, dengan atau tanpa hati kita ikut serta.

Terbayang kemudian dalam pikiran saya, betapa sering moment-moment berharga lewat begitu saja, hanya karena pikiran kita sudah mengatur apa yang harus dipikirkan setiap saat, bukan memikirkan apa yang harus dipikirkan di balik setiap moment yang tengah terjadi. Saya teringat bagaimana ekspresi anak perempuan yang paling kecil itu ketika bilang “boleh aku ikut?” Terbayang akan kepercayaan diri yang sedang dibangunnya ketika menggiring bola yang telah masuk gawang kembali ke tengah lapangan. Kepuasan Lala dan Malik ketika mereka berhasil memasukkan bola. Dan kontak dengan anak-anak tetangga yang baru pertama kalinya terjadi sejak 3 tahun tinggal di kompleks ini.

Seandainya.. seandainya.. aku tak membuat janji atau melakukan negosiasi, hari-hari akan berlalu seperti biasanya. Sekarang pun tampaknya juga sama dengan hari-hari sebelumnya. Namun, di dalam kenangan mereka yang tadi bermain bola, telah terjadi perubahan. Mereka bertemu dengan teman baru.

Terimakasih, Tuhan, telah memberi pelajaran berharga sore ini. Dan pelajaran menjadi tak bermakna apa-apa, jika dia hanya terpajang sebagai filosofi belaka. Ternyata, ketika menulis refleksi ini pun, Engkau beri saya kesempatan untuk merasakan momen berharga, yang selama ini saya abaikan. Di tengah keasyikan menulis, Lala datang minta ditemani makan. Malik sudah tidur, dan bunda lagi sakit. Ada dorongan dari dalam untuk tidak menyelesaikan tulisan ini terlebih dahulu, dan sebaliknya meninggalkannya untuk memuaskan hati sang anak yang sebentar lagi akan tidur.

Saya percaya, ketika hati selalu menangkap setiap momen yang hadir, apapun yang dihasilkan oleh pikiran maupun ketikan jari, akan berada dalam bisikanNya. Tak perlu lagi ada kekhawatiran akan hilangnya ide, karena jika pun dia hilang, itu berarti bukan Dia yang membisikkan. Biarlah hilang, karena Dia pun akan menggantinya dengan yang lebih sempurna.

Saya temani Lala dengan sepenuh hati, tanpa teringat bahwa saya sedang asyik menulis. Ternyata, ketika segala attachment (ikatan) telah diputus, dan segala indra disatukan ke pusat parabola di dalam diri, Dia akan membukakan hijab dalam hati, sehingga saya bisa melihat Dia ada di sana, dan di mana-mana. Dia ada bersama syukur, cinta dan kasih sayang.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>