Dicuci itu sakit, Jendral!
Setiap lebaran, saya selalu teringat kampung. Pasalnya, saya dan anak-anak yang lain, selalu menggunakan baju baru yang belum pernah dicuci sebelumnya. Jadi masih bau toko. Dan kesan ini selalu melekat hingga sekarang. Kalau ada baju baru yang masih bau toko, otomatis pikiran akan menyetel film lebaran masa kecil itu.
Ketika saya masih di Bandung, belum berangkat ke tanahnya Londo ini, saya beli sebuah baju koko warna putih. Bahannya bagus, halus, sejuk, pokoknya enak lah kalau dipake. Jadinya baju itu sering saya pake. Perlakuan terhadap baju koko dan baju sehari-hari berbeda. Kalau baju sehari-hari biasanya dipake sehari, terasa kotor, lalu dicuci. Tapi kalau baju koko, karena pinginnya dipake setiap hari ketika sholat, makanya dicucinya bisa seminggu atau dua minggu sekali. Rasanya selama belum ada daki dan belum bau, masih enak lah dipakenya.
Begitulah nasib si koko. Dia sering dipake, sering kotor, dan sering dicuci. Sekarang pun masih saya pake di rumah. Kemaren saya sempat perhatikan warnanya. Ternyata sudah tidak seputih ketika pertama kali saya beli. Warna putihnya sudah agak berubah, agak-agak kuning. Meskipun saya cuci dengan mesin cuci, dan sabun cuci khusus, tetap saja tidak bisa kinclong putih. Mungkin karena kecampur dengan baju-baju yang lain sehingga zat warnanya ikut nempel ke si koko.
Suatu ketika saya lihat dia berada dalam mesin cuci bersama baju-baju kotor yang lain. Dia diputar-putar, dibasahi, disabun, tenggelam dalam busa, berdesak-desakan dengan baju lain sambil jungkir balik. Kebayang kalau diri saya yang ada dalam mesin cuci itu, seperti Mr. Bean dalam salah satu serinya ketika dia di laundry. Si koko jika punya nyawa dan hidup, pasti akan berteriak-teriak kesakitan. Sekedar untuk bersih dari kuman dan kotoran yang menempel, dia harus menderita begitu.
Ah, kejam nian mesin cuci ini. Menyakiti baju-baju itu. Tapi kalau tidak pake mesin cuci, musti pake apa? Dulu ketika masih di Indonesia, saya sering mencuci pake tangan. Tapi tetap saja, baju-baju itu musti dibasahi, direndam dengan sabun berbusa, dikucek-kucek, direndam lagi pake air, kadang ditambah air panas biar bakterinya mati. Setelah itu dipanggang di bawah sinar matahari. Duh, sama saja. Menyakitkan.
Mungkin ndak ada cara yang lebih lebih dan enak untuk mencucinya? Istri saya pernah punya baju yang ada bulu-bulunya. Untuk mencucinya, perlu perlakuan ekstra, tidak bisa pake mesin cuci. Bisa rontok semua bulu buatan itu. Akhirnya setiap periode tertentu musti dibawa ke laundry. Di sana baju itu dibersihkan dengan diuapin, dibedakin, diseterika, dijemur. Wah sama saja. Menyakitkan.
Sebagai seorang manusia yang punya perasaan, saya ingin menyayangi baju-baju itu dengan memberi perlakukan yang tidak menyakitkan ketika membersihkannya. Namun, tak ada satu pun cara yang enak. Semuanya menyiksa, membuat si koko dan kawan-kawannya menjerit kesakitan, walau akhirnya mereka puas karena bersih kinclong dan wangi. Tampak segar dan cerah ketika dipakai.
Tiba-tiba saya kepikiran badan saya. Kalau baju kotor, gampang, tinggal dicuci di mesin cuci. Kalau badan saya yang kotor? Ya dimandikan. Malah terasa segar ya. Kalau permukaan badan alias kulit yang kotor memang mudah membersihkannya. Nah, kalau daging ini yang kotor? Darah yang kotor? Apakah ada sabun cuci daging dan cuci darah? Lebih dalam lagi, bagaimana dengan jiwa yang kotor karena pengaruh jasad yang kotor dan perilaku yang kotor? Bagaimana membersihkannya? Adakah cara yang nyaman dan nikmat untuk mencucinya?
Dulu Malik dan Lala (dua anak saya), ketika bayi, baunya harum sekali. Bau bayi yang masih bersih, belum dimasuki oleh kotoran apapun, hanya minum air susu ibu. (Maaf) kentut pun juga ndak bau. Lha sekarang ketika mereka sudah menjadi pemakan segala, seperti nasi, sayur, daging, keju, dll, kalau lari-lari di siang hari dan berkeringat, bau badan mulai kecium. Kalau bapaknya, jangan tanya lagi hehehe. Badan ini tidak lagi mengeluarkan bau harum seperti bayi, namun baunya sudah seperti bau makhluk-makhluk yang dimakannya, seperti jengkol, kambing, ayam, dll. Bagaimana membersihkannya? Dimasukkan ke masin cuci pun tak akan ada yang sanggup membersihkan badan dalam ini.
Melihat dua anak saya yang masih kecil itu, terlihat sekali kepolosan mereka ketika bayi. TIdak pernah marah, paling-paling nangis karena lapar. Makin besar, jiwanya makin tumbuh. Nafsu amarahnya mulai muncul. Mulai sering berantem dan marah. Pikirannya juga mulai berkembang. Mengeksplorasi segala sudut rumah, mempelajari dunia baru ini. Menumpahkan susu dan memecahkan telor di lantai, dan segala macam kelakuan anak-anak pada umumnya. Namun, meskipun marah dan kesal kalau dimarahi, emosi mereka cepat hilang dan terlupakan.
Lha, kalau sudah besar dan semakin besar lagi seperti saya, kok sifat-sifat jiwa itu semakin parah dan susah membersihkannya. Kalau lagi tersinggung, berhari-hari tidak hilang. Bahkan kadang tak pernah hilang karena terekam oleh ingatan, dikembangkan oleh pikiran, dan terucap lagi lewat kata-kata yang kadang menyakiti orang lain. Perasaan suka dan tidak suka, rasa iri, benci, rasa lebih baik dari orang lain, pikiran yang membeda-bedakan, mencari-cari kesalahan.
Semua itu menempel terus di dalam jiwa, seperti perangko dan amplop. Masih mendingan yang ini, karena masih mudah dipisahkan. Kalau perasaaan, angan-angan, dan nasfu dalam jiwa itu, sepertinya sudah menjadi bagian dari diri. Tidak mau pergi. Padahal ketika masih bayi, jiwa ini putih bersih seperti baju koko itu. Kalau si koko bisa dicuci dengan mudah pakai mesin, gimana mencuci jiwa ini?
Di bulan Ramadhan, salah satu goal yang ingin dicapai adalah kembalinya jiwa ini ke asalnya yang fitri. Disimbolkan dengan membayar zakat fitrah di akhir bulan tersebut. Namun, rasanya kok ya tetap saja jiwa masih seperti sebelumnya. Perasaan membeda-bedakan, merasa lebih baik, rasa paling benar, amarah, berbagai macam nafsu, dan lain sebagainya, masih saja seperti yang dulu. Kalau dipikir-pikir, betul juga. Bagaimana bisa bersih, lha wong kalau puasa Ramadhan, sepertinya hanya lapar di siang hari, dan malam hari sudah menyiapkan hidangan yang lebih nikmat dari bulan-bulan yang lain. Pengeluaran makin meningkat di bulan Ramadhan ini. Bukannya darah dan daging ini dibersihkan dari bau dan kualitas kambing, namun malah konsumsi daging kambing meningkat. Ini salah satu contoh saja. Banyak lagi hal-hal lain, yang awalnya dimaksud sebagai pembersihan, malah yang terjadi adalah pengotoran.
Lebih dalam lagi dari jiwa, bagaimana membersihkan ruh dan semakin dalam lagi, bagaimana membersihkan dan memurnikan keimanan?
Namun Allah itu Maha Pengasih dan Penyayang. Dia sangat memahami sifat manusia yang bodoh ini. Dia selalu Memaafkan dan selalu memberi jalan agar manusia bisa kembali ke asalnya yang suci, bersih, fitrah. Seperti saya yang selalu mencuci baju koko putih itu jika mulai tercium bau tidak sedap atau ada noda yang menempel, Allah pun selalu mencuci manusia yang jiwa-jiwanya sudah kotor.
Bagaimana caranya? Ya mirip dengan si koko yang dimasukkan ke mesin cuci itu. Manusia juga dimasukkan ke mesin cuci. Agar manusia sadar bahwa dalam jiwanya ada noda, misalnya noda kesombongan, Allah cuci dengan penghinaan. Si manusia dihina oleh orang lain, disinggung, diremehkan, dijelek-jelekkan. Dengan begini, muncul rasa marah, keakuan, pembelaan diri. Seperti noda di permukaan baju koko yang sedang dicabut, tadinya lengket, lama-lama muncul ke permukaan sehingga mudah untuk dilepaskan oleh air. Sifat-sifat itu juga muncul ke permukaan, sehingga manusia bisa tahu bahwa dalam dirinya masih ada kualitas amarah, keakuan, dan kesombongan.
Manusia sudah diberi hati dan pikiran oleh Allah, maksudnya supaya berpikir dan mentafakuri dirinya sendiri. Begitu dia merasa sakit ketika dihina, muncul amarah dan keakuan, saat itu harusnya hati langsung bekerja dengan menyadari bahwa dalam dirinya masih ada amarah dan keakuan yang harus segera dipotong. Allah juga sudah memberikan contoh melalui Nabi Muhammad SAW. Ketika dihina, diludahi, dilempari batu, beliau tidak marah, tapi tersenyum. Mengapa? Karena jiwanya sudah bersih, tidak ada lagi amarah dan keakuan, sehingga ketika kulit luar yang sakit, jiwa dalamnya sudah tidak merasakan amarah dan keakuan lagi, karena sudah bersih dari kualitas ini. Kalau kita masih merasakan itu, artinya Allah sedang memberitahu adanya noda yang musti segara dipotong.
Dan kalau direnungkan kembali, betapa sering sebenarnya Allah mencuci diri kita melalui penderitaan, kesakitan, dan segala yang tidak enak dalam hubungan dengan suami, istri, anak, teman, dengan saudara-saudara yang seagama, saudara yang berbeda agama, yang sekelompok, atau pun yang berbeda kelompok. Betapa banyak friksi yang terjadi, persis seperti baju koko yang mengalami friksi dengan baju-baju yang lain dalam mesin cuci itu.
Kalau manusia menolak untuk memotong perasaaan-perasaan yang muncul dalam proses penyucian itu, maka noda dan kotoran tidak akan pernah lepas dari darinya. Bahkan sebaliknya, noda dan kotoran yang dilepaskan oleh saudara-saudaranya, yang mereka telah ikhlas untuk dicuci, akan pindah masuk ke dalam dirinya.
Namun sayang, manusia yang diberi hati untuk bisa melihat yang tak tampak oleh mata ini, sering tidak menggunakan hatinya. Jiwanya yang sedang kotor, tidak rela untuk dibersihkan. Ketika dicuci, selalu saja agan-agan (ingatan masa lalu, penghinaan, dendam, praduga, prasangka), nafsu (amarah, seks, ingin dihormati, ingin tampil baik, jaga imej), dan perasaan (suka, tidak suka) yang dikedepankan ketika menghadapi friksi di mesin cuci. Jika saja manusia bisa merelakan semua kotoran itu lepas, tentu ketika selesai friksi itu, selesai proses penyucian itu, jiwanya akan kinclong-kinclong seperti baju koko yang putih bersih. Bahkan mendapat wewangian ekstra.
- Baju koko bisa dicuci dengan sabun.
- Daging dan darah bisa dicuci dengan pembersihan dari makanan.
- Jiwa bisa dicuci dengan memotong kualitas-kualitas buruk dalam angan-angan, nafsu, dan perasaan ketika berhubungan dengan sesama.
- Ruh, bagaimana mencucinya?
- Iman, bagaimana mencucinya?
Di dalam Al-quran, Allah berkata bahwa belum dikatakan beriman seorang manusia, jika dia belum diuji. Dan seorang yang bijak berkata bahwa makanan bagi kesuburan keimanan adalah ujian dan penderitaan. Jadi, apakah ini berarti bahwa keimanan tidak tumbuh ketika kita pulang dari sebuah pengajian yang kadang konsumsinya enak dan ruangannya ber-AC? Apakah keimanan hanya akan tumbuh dan suci ketika seseorang telah lulus dari suatu ujian yang menyakitkan?









May 22nd, 2008 at 3:00 am
Thanks for sharing….salam kenal