READ MORE >> Renungan, Wisdom.
Pernah ke hutan atau taman kera di Bali? Atau kalau ke Bali kan ada tempat yang buanyak sekali keranya. Apa yg akan terjadi kalau kita jalan-jalan ke sana? Peringatan buat pengunjung: hati-hati dengan barang berharga anda. Biasanya kera-kera itu akan mencuri barang-barang berharga kita sperti jam tangan, kacamata, anting-anting, tas, dll. Dia akan mencuri kesempatan setiap kita lengah, mengambil barang-barang tersebut, dan membawanya lari naik ke pohon. Tapi semua diambil. Diacak-acak. Abis itu dibuang. Padahal kera itu tidak butuh itu semua, dia hanya butuh pisang.
Kera-kera itu adalah pikiran kita sendiri. Betapapun berharga sesuatu disampaikan ke dalam diri kita, tentu akan diacak-acak oleh pikiran kita. Coba saja kalau kita memahami tulisan hikmah dari sebuah sumber dengan pikiran kita, bukan dengan hati. Kita mungkin akan menemukan buanyak sekali hal yg belum pernah pikiran ketahui, sehingga akan diacak-acak. Pikiran akan merasa lebih hebat dengan selalu membawa dalih sumber yg dia yakini. Itulah pikiran kita, itulah kera-kera di Bali itu. Jadi, biar selamat, kita harus jaga baik-baik perhiasan kita. Kita sembunyikan agar mereka tidak bisa mengacak-acaknya. Agar barang berharga itu menjadi bermanfaat buat diri.
Ingin mengetahui aksi para kera itu? Mudah sekali. Ketika sholat sendiri di tengah malam, perhatikan berapa sering pikiran melintas, membawa bayangan ini itu, mengikuti cabang-cabang bayangan tersebut ke sana dan kemari, hingga kita menjadi “lost in a jungle of mind”.
Pikiran ini tidak bisa dibunuh, kecuali kita sudah meninggal. Yang bisa dilakukan adalah menjinakkan dan menundukkan. Kera-kera itu jika jinak maka dia akan berlaku seperti yang diajarkan oleh manusia kepadanya. Pikiran juga demikian. Jika dia sudah jinak, maka dia akan bekerja sesuai dengan petunjuk dari Cahaya Yang Menjinakkannya.
Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: “Jadilah kamu kera yang hina.” (Al-A’raaf: 166)
Sifat kera ini di Al-Quran dihubungkan dengan sikap sombong pada diri manusia. Kesombongan itu berasal dari unsur-unsur dunia, unsur penciptaan, yang terkandung dalam unsur bumi, angin, air, dan api. Makanan yang kita makan, mengandung unsur-unsur ini, karena fisik kita membutuhkannya. Dan pikiran kita, karena terbentuk dari unsur-unsur tersebut, tak akan lepas dari sifat unsur pembentuknya, yang salah satunya adalah kesombongan, egoisme, keakuan, perasaan paling benar pendapat dan pemikirannya.
Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. (Al-A’raaf: 20)
Melalui pikiran inilah bisikan-bisikan jahat dari setan atau kualitas setan dalam diri kita melintas. Kualitas-kualitas setan tersebut menjadi satu dan menjadi besar dalam diri kita karena kesalahan dan dosa-dosa yang kita lakukan. Sedikit demi sedikit membuat kualitas itu makin kuat. Sehingga kapan pun kualitas itu akan melintas melalui pikiran kita untuk menarik perhatian kita kepada pandangan terhadap Allah.
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (Al-Baqoroh: 34)
Si embahnya kualitas setan, yaitu Iblis, dalam Al-Quran juga dijelaskan sebagai sosok yang takabur. Ketika kualitas ini ada dalam diri manusia, maka sebenarnya dia sudah menyandang kualitas iblis. Tidak peduli berapa tinggi keimanan dan kesolehan manusia, jika dia takabur, maka kualitas Iblis tengah berdiri tegak di belakangnya. Bukankah Iblis adalah ciptaan yang paling tinggi derajatnya dibanding malaikat-malaikat yang lain pada saat Adam diciptakan? Namun ketakaburannya telah membawa dia kepada jalan yang salah.
Ketakaburan, salah satu kualitas utama iblis ini, menjadikannya termasuk dalam golongan orang kafir. Kafir artinya tertutup. Tertutup hatinya dari kebenaran dikarenakan ketakaburan. Sehingga, jika ada istilah kafir, maka itu merujuk pada Iblis atau kualitas iblis, kualitas syetan, yang menutup pandangan terhadap kebenaran karena ketakaburan. Dan itu ada dalam diri setiap manusia, beragama apapun dia. Jika kita takabur, merasa benar, merasa soleh, merasa jadi orang baik, sehingga memandang lebih rendah yang di luar diri kita, maka saat itu kualitas kafir sedang berdiri di belakang kita. Tidak perlu menunjukkan jari kepada orang lain ketika bicara tentang kekafiran, karena kekafiran itu bersembunyi dalam nafsu dan pikiran kita.
Begitu lihainya kualitas iblis menyelinap, sehingga mendorong manusia untuk berbuat dosa. Ini seperti telah dilakukan oleh Iblis kepada Nabi Adam dan Hawa, yang kemudian mereka berdoa kepada Allah mohon diselamatkan.
Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Al-A’raaf: 23)
Dan hanya karena ampunan dan rahmat dari Allah saja, bukan karena yang lain-lain, kita akan selamat. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana agar kita mendapat ampunan dan rahmat dari Allah? Apa yang Allah sukai dari hambaNya, sehingga Dia akan berikan itu semua?
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”. (Al-Hijr: 39-40)
Merekalah para mukhlisin, orang-orang yang ikhlas, yang tak akan terpengaruh oleh bisikan kualitas setan. Pertanyaan selanjutnya: ikhlas ini ada di mana? Siapa yang bekerja di balik keikhlasan itu? Hati, pikiran, nafsu, atau perasaan?











watung says:
tulisan yg menarik… di kisah ramayana ada juga tuh tokoh Hanuman, yg juga menjadi simbol ‘pikiran’… loncat sana loncat sini, nggak bisa diem, bisa terbang ke angkasa, bisa membesar dan mengecil. hanya ketika sudah tunduk pada Rama (jiwa, diri terdalam), ia beroleh kekuatan yg luar biasa… membantu pertemuan/pernikahan Rama dan Sinta (jasad, diri terluar).
Andy says:
Assalamualaykum mas.. wah.. baca2 sekilas blog ini jadi setengah ga percaya mas Fahmi ini dulu pernah kos di 160A/56 …
irzan says:
ilmu ikhlas itu susah…..
serin ternoda dengan hal2 kecil
ga sengaja terlintas aja di pikiran faktor riya dan lainnya
salam kenal ya
Ismail Fahmi » Der Spiegel, Sang Cermin says:
[...] Saya jadi teringat pesan seorang bijak, “Jangan pernah mengikuti apa kata kera pikiranmu.” Menurut beliau, yang sudah melihat unsur, sifat, jenis, dan wujud asli dari pikiran manusia, bagian ini tak akan pernah membawa manusia kepada kebahagiaan sejati. Pikiran sifatnya seperti kera, yang dalam kasus saya di atas, dia berusaha menimbulkan nafsu kesal dan amarah dengan menghadirkan gambaran-gambaran buruk yang telah ada dalam memori saya, kepada kejadian yang tengah berlangsung. Tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, pikiran berusaha meyakinkan saya bahwa perkaranya pasti begini dan begitu. Kenyataannya berbicara lain. [...]