READ MORE >> Renungan.
Tulisan singkat ini sebenarnya adalah komen saya buat artikelnya Petit.
Pernah tidak kita merenungkan sejarah Pancasila, pengorbanan para Jenderal dan mengaitkannya dengan sejarah manusia?
Pancasila adalah anugerah dari Tuhan buat bangsa Indonesia. Namun mungkin kita masih baru akil balig, maencari jati diri, sehingga belum mengenal betul apa itu Pancasila.
Semua sila dalam Pancasila adalah sifat-sifat Tuhan. Esa, adil, penyatu, kasih sayang, rahmat, dll. Itu merupakan bagian dari Asmaul Husna. Dan dalam diri manusia juga ada amanah untuk mewujudkan asmalul husna, karena manusia adalah khalifah, wakil Tuhan di bumi. Sebagai wakil, manusia hanyalah pengabdi. Manusia dipakai untuk mewujudkan sifat Tuhan (asmaul husna) agar menjadi rahmat bagi seluruh alam (apapun alam itu: alam manusia, jin, setan, binatang, tumbuhan, … semua).
Nah, inget kan sejarah G-30/S PKI? What does that mean? Untuk membela nilai-nilai ketuhanan dalam Pancasila, kita harus mengorbankan 7 orang Jendral dan 2 orang lagi (Ade Irma Suryani & KS Tubun). Apakah ini hanya peristiwa biasa saja? Atau, adakah Tuhan sedang berbicara kepada kita, bangsa Indonesia, manusia? Jika sedang berbicara, apa yang ingin Dia sampaikan?
Korbankan 7 Jenderal, masukkan ke lubang buaya. Juga korbankan 2 orang lagi. Ini harga yang harus dibayar untuk membela nilai-nilai dalam Pancasila.
Pesan bagi manusia: korbankan mata (2), hidung (2), telinga (2), mulut (1) dan 2 lobang bawah (kemaluan dan dubur). Korbankan semua pintu keduniaanmu. Dan ketika manusia sudah mengorbankan itu semua, maka sifat-sifat Tuhan akan memancar dari dirinya. Dia akan dipakai oleh Tuhan sebagai true khalifah.
Sungguh, dalam setiap peristiwa ada pesan yang jelas bagi manusia, agar dia bisa mengenal dirinya.
Namun, sayang sekali, hingga saat ini bangsa Indonesia belum menangkap pesan tersebut. Yang terjadi malah sebaliknya, membuka semua lobang untuk mencapai kenikmatan puncak di dunia. Semua lobang diumbar, dibuka lebar, dan akibatnya Pancasila pun dilupakan, tak bermakna, sekedar penghias dinding dan hapalan dalam pelajaran PMP. Asmaul husna tak tampak dalam wajah dan tindakan bangsa Indonesia. Akibatnya, kebanyakan berita tentang bangsa ini bernada miring, seperti korupsi, kolusi, kerusakan lingkungan, pornografi, dl.
Tapi insyaAllah, ada masa ketika bangsa ini akan bangkit. Pancasila dan pengorbanan 7 jendral plus 2 kerabat mereka tersebut merupakan pesan atau gesture dari Tuhan bagi bangsa Indonesia. Dia sedang memandang kita, menguji kita, memberi opportuniti manusia agar bangkit dan mengenal jati dirinya. Perlu kesabaran, syukur, tawakal, dan pujian kepada the Hidden Hand.
Seorang bijak bilang begini:
Barang siapa yang mencari kebenaran di luar dirinya, maka kebenaran akan semakin jauh darinya.
Jadi, kunci kemajuan Indonesia ada dalam diri kita. Cerminan sejarah manusia (diri kita) sudah ditampilkan dalam layar pada tahun 1965 yang lalu. Tonton lagi layar itu, tetapi tidak di layar lebar. Tonton dalam layar diri. Selama kita tidak mencari di dalam diri, selama itu pula kita tidak akan menemukan kebenaran, tetap gelap jalan menuju kebangkitan Indonesia.
READ MORE >> Renungan.











Shinta says:
Bang Ismail, banyak banget orang mati periode itu, apa ga masuk hitungan sebagai korban?
Atau karena mereka jenderal sedang yang lain bukan jenderal, jadi tidak termasuk pengorbanan?
Alasan akil balig menurut saya sekali dua kali boleh dipakai, tapi kalo bolak-balik pake dalih ‘bangsa Indonesia belum dewasa’, lalu larang ini itu, lalu bersembunyi di baliknya bilang maka tidak paham ini itu… mungkin ada baiknya pernyataan tsb direnungkan kembali.
Ismail Fahmi says:
Shinta betul tentang jumlah korban. Dan dalam perjalanan manusia ke dalam diri, yang musti dikorbankan juga banyak. Namun, tetap yang namanya jenderal dan kerabat istimewanya, itu tidak banyak. Seorang jenderal dalam diri manusia, ambil contoh ‘mata’, memiliki pengikut yang banyak, sperti banyaknya korban pada peristiwa itu. Pengikut mata yg perlu dikorbankan ini adalah tindakan, yg terjadi karena adanya mata. Misal, melihat yg porno, melihat untuk mencuri, melihat untuk macam2 lah.
Tentang akil balig, barangkali tidak penting pernyataan saya. Bagaimanapun kalau dirubah juga tetap itu sekedar pernyataan saya. Kenyatannya tetap, yaitu bangsa Indonesia yg sedang ’seperti itu’. Apapun keadaanya, bangsa Indonesia perlu belajar banyak agar semakin sadar.
Yg dimaksud bangsa ini adalah semuanya, termasuk rakyat dan pemimpinnya. Rakyat ini siapa? Ya kita. Pemimpinya siapa? Ya kita juga. Suatu saat mungkin dari ktia akan ada yg jadi pemimpin. Setidaknya sekarng pemimpin diri sendiri dan keluarga. Ketika saatnya tiba ktia diangkat jadi pemimpin bangsa, jangan sampai jadi pemimpin yang belum dewasa, masih kekanak-kanakan, yang ditandai dengan lebih dominannya emosi dari pada kedalaman hati/pikiran/kebijakan.
Didik yanuardi says:
Dik Ismail bagus sekali uraian adik tentang Pancasila yang merupakan Anugerah dari Allah SWT kepada bangsa kita. Tengoklah yang sedang terjadi di negeri ini sekarang banyak kelompok yang tidak lagi hormat pada Pancasila yang juga merupakan kesepakatan luhur para pendiri bangsa. Ada kelompok Islam yang baru masuk dari luar negeri sebutlah Hisbuttahir Indonesia ingin menegakkan syariat melalui Khilafah apakah yang demikian ini bisa dibenarkan di negara yang sudah punya Falsafah Pancasila?
Mohon komentar Adik
Salam’alaikum
I Fahmi says:
Pak Didik, di Indonesia sekarang ini kita bebas untuk mengekspresikan keyakinan dna pendirian kita, termasuk interpretasi terhadap dasar sebuah negara.
Yang paling penting sekarang adalah bagaimana agar semua kelompok ini berusaha dirangkul, bukan disisihkan. Senyeleneh apapun pendapatnya, harus diajak duduk bersama, dan dicari titik temunya. Niat mereka sebenarnya baik, hanya cara dan sudut pandangnya yang berbeda.
Kita tidak akan bisa maju jika terus menerus melihat perbedaan. Kita ajak juga mereka untuk melihat kesamaannya. Kita dan mereka sama-sama open mind, dan bersedia meletakkan keragaman sebagai ciri bangsa Indonesia. Dengan begini, diharapkan tidak ada lagi kelompok yang memaksakan pendangannya kepada seluruh orang.
Demikian pak dari saya. Mohon maaf sebelumnya.
Wassalam,