READ MORE >> Renungan, Wisdom.
Di sebelah kananku, pagi itu ketika aku bersepeda ke kantor, pohon-pohon yang tumbuh menjulang, dengan batang dan ranting yang tampak seperti sedang rukuk menjulur ke bumi, memperlihatkan gesture yang berbeda. Tidak seperti biasanya. Mungkin mataku tak melihat perbedaan itu. Selama musim dingin ini, pohon-pohon itu tetap berdiri di situ, dan ranting-rantingnya tetap menjulur dan berayun-ayun, sama seperti kemaren.
Namun, hatiku melihat sesutu yang baru. Mereka hidup, mengucapkan salam kepadaku, tersenyum melihat aku datang hingga punggungku tak tampak lagi oleh mereka. Kemudian pohon selanjutnya menyambutku, tersenyum, dan mengucapkan salam.
Kemudian hatiku menyampaikan salam kepada mereka, “Assalamu’alaikum ya pohon yang sedang telanjang tanpa daun.” Mereka pun menjawab, “Waalaikum salam, hamba Allah…” Aku pun tersenyum. Senyum simetris, 2 centi kiri, 2 centi kanan. Kurasakan, mereka ingin berdialog denganku, dan aku pun mulai bertanya.
“Wahai pohon, kulihat ada dua orang di bawahmu sedang membersihkan batangmu yang patah dan jatuh ke tanah. Sepertinya badai beberapa minggu yang lalu sempat membuat sebagian batangmu patah. Tapi kenapa kamu masih kuat tak roboh begitu? Kamu juga, wahai pohon yang lebih tinggi. Bukankah angin lebih kencang dan kuat mengenaimu. Namun bagaimana bisa kau bertahan?” tanyaku.
“Tidakkah kau ingat, atau mungkin kau tidak tahu, bahwa Tuhanku telah memberi akar yang kuat ke dalam tanah. Akar untuk menyerap air, untuk menyerap sumber kehidupan. Dan dengan akar utama itu aku bisa berdiri dengan kokoh. Angin bukanlah musuhku, bukan pula lawanku. Dia sahabat karibku. Selalu menemaniku, bersama-sama kami memuji Tuhan kami. Cobalah kau lihat lebih seksama dengan hatimu. Kau akan lihat aku sedang bertasbih. Tasbih yang tak akan pernah kau dengar dengan telingamu, namun akan kau dengar dengan hatimu. Di hatimu kau akan mendengar suara tasbihku yang datang tanpa bunyi.”
Sambil tetap mengayuh sepedaku, aku lebih khusuk lagi memasuki hatiku. Aku tak khawatir akan menabrak benda di depanku, karena mata dan pikiranku akan bekerja dengan sendirinya tanpa perlu aku perintahkah. Biarlah mereka menjalankan tugasnya. Aku sedang berbincang dengan kawan baruku ini.
Benar. Kudengar tasbih pohon itu. Dia memuji Tuhan, dengan keikhlasan dan kepasrahan yang rasanya jauh lebih tinggi dari pada diriku. Sulit aku menuliskannya. Biarlah tasbih mereka tetap membekas dalam hatiku dalam bentuk rasa yang tak terceritakan.
“Apa kamu tidak sedih atau kedinginan berdiri terus di situ tanpa dedaunan?” tanyaku.
“Aku tidak seperti kamu yang kedinginan oleh salju. Karena dinginnya musim ini yang kurang sinar matahari adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Tuhanku, agar aku tumbuh lebih kuat. Hidupku adalah tanggung jawabNya. Tak ada satu pun tanggung jawab tugas di tanganku. Semua adalah kerjaan Tuhanku. Cukup bagiku untuk menyerahkan diriku dan mengikuti hukumNya. Coba bayangkan, jika di musim dingin ini aku menolak untuk meluruhkan daun-daunku, bersikeras untuk menahannya. Tubuhku akan kebanyakan air yang tak terproses oleh sinar matahari yang hanya sedikit. Dan jika daun lebat masih menyelimutiku, tentu lebih berat bagiku untuk menahan angin musim gugur dan musim dingin yang lalu. Tuhanku telah meluruhkan daun-daunku, dan aku pun ikhlas. Dengan begitu aku akan lebih tegar dan tetap berdiri kokoh ketika badai menerjang. Dan sebaliknya, bersama badai aku bisa mengeluarkan bunyi tasbih yang indah.”
Hatiku mengingat kembali hal serupa yang terjadi pada manusia. Mereka melakukan puasa dan mengurangi makanan. Pada pohon, kita bisa lihat bekas puasa mereka setiap musim melalui pola-pola lingkaran dalam batang mereka. Namun pada manusia? Apakah puasa tiap tahun selama satu bulan itu juga membekas seperti pada pohon? Aku jadi malu dengan pohon. Lalu aku bertanya lagi.
“Kau seperti sedang berpuasa sekarang. Dan keikhlasanmu sungguh-sungguh telah menjadikan puasamu berbekas. Banyak manusia yang berpuasa sesuai musimnya seperti kamu. Tapi ketika berbuka, mereka lepaskan lagi nafsu makannya. O, Pohon, apa pendapatmu tentang manusia itu?”
“Sesungguhnya aku diciptakan salah satunya juga untuk menjadi peringatan dan bahan pelajaran bagi manusia. Namun mereka tidak mengerti. Mereka tidak melihat kerja Tuhannya dalam diriku. Tuhanku Yang Maha Memberi Hidup dan Memelihara, diberinya aku kehidupan, meskipun berkali-kali aku meranggas seperti mati karena kehilangan daun. Aku tahu benar sifat SayangNya, sehingga aku tak khawatir ketika sedang meranggas seperti ini aku tak akan dihidupkan lagi. Aku yakin akan janjiNya untuk memberiku daun ketika musimnya tiba. Tuhanku juga Maha Memberi Rezeki. Dia tak pernah lupa untuk memberiku air dan cahaya yang cukup agar aku tetap bisa bertasbih memujiNya. Dan Maha Merencana Dia, dengan segala musim yang datang dan pergi serta perilaku fisikku yang dibuatNya seirama dengan musim itu. Jika manusia tahu itu, maka dia tak akan pernah khawatir dengan tubuhnya ketika puasa dan rejekinya ketika musim kemiskinan tiba. Mereka mengaku bahwa Tuhannya itu Maha Pengasih dan Penyayang, dengan selalu menyebut basmallah setiap mau melakukan perbuatan. Tapi mereka tak pernah melihat kasih dan sayang Tuhan dalam diri mereka dan dalam diriku dan makhluk lain di bumi ini. Akibatnya manusia selalu berusaha mencampuri urusan Tuhan bagi dirinya dalam alam semesta. Mereka tak percaya pada Tuhan.”
Pohon, jika kau tahu, hatiku malu kepadamu. Selama ini aku mengabaikanmu, padahal di dalam dirimu, bersemayam kekuasaan Tuhan. Dia yang Maha Memelihara, Maha Mengalirkan, Maha Menegakkan, Maha Menguatkan, Maha Menghidupkan, Maha Mematikan, Maha Merencanakan, Maha Indah… Dia ada di dalam dirimu, dan kamu pun patuh kepadaNya. Kau menjadi rahmat bagi penduduk yang tinggal di sekitarmu, sehingga rumah mereka tak terlalu keras kena tiupan angin karena telah kau halangi. Halaman mereka juga sejuk dan segar oleh oksigen yang kau keluarkan. Sungai mereka juga jadi semakin indah dengan juluran ranting-rantingmu. Kau menjadi rahmat. Mungkin kau lebih ‘islam’ dari padaku yang mengatku sudah islam ini.
“Aku tahu apa yang ada di hatimu ketika kau melintasiku. Namun aku hanya ditugaskan untuk menjadi penjaga saja. Tak lebih dari itu. Dan aku pun tak akan melakukan yang di luar tugasku, wahai hamba Allah,” katanya.
“Baiklah pohon, terimakasih atas obrolan kita pagi ini. Selamat bertugas, aku pun harus kerja. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikum salam,” jawabnya.











Isa says:
Salaamun qawlan mirrobbirrohim…
Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang (akan) engkau dustakan. Sungguh, rahmat Allah sangat dekatnya kpd org2 yg berbuat kebaikan. 7:56
Ismail Fahmi says:
Isa, gimana kabarnya? Rasanya kangen sama sahabat-sahabat di Bandung. Sering kebayang ketika perjalanan bersama-sama. Gimana si kecil? Sudah bisa apa nih?
ahmad faridho says:
Ass. itulah ke ajaiban Allah SWT yang dapat kita rasakan. dn hal itu adalah fenomena yang paling indah yang pernah saya dengar . sesungguhnya Allah SWT maha melihat dan maha mengetahui
WAsalam.
abu zuhri shin says:
Bercerita fasal musim dingin dan pepohon daun beguguran
Guru Rumi memang hebat menusuk hikmah ke jiwa gersang
putaran empat musim membuat pencari sentiasa gelisah
apakah bekalan rohaniku mencukupi merentasi Konya
Apakah seruling Ney daku sudah usang untuk menari
Oh burung-burung Attar berapa gunung sudah mendaki
Mari mari singgah sebentar dipondok Teh Abuzuhri
segalanya terhidang Pur erh, Rabea Jasmine, shushien
atau kekacang walnut Yunus Emre masih atas pohon
salam musafir kembara dari anak murid Chuang tzi
cai jian fasalamun ala man tabaal huda…
Arrahmah » Blog Archive » Mahoni Senja says:
[...] Assalamualaikum… [...]