READ MORE >>   Renungan.

Ada “two lives”, ada dua kehidupan yang dialami manusia. Kehidupan bayangan dan kehidupan Cahaya.

Kita lihat dulu salah satunya. Dalam kehidupan sehari-hari, ada saat-saat ketika beberapa kebiasaan berikut muncul, menguasai manusia. Dan ketika mereka muncul, manusia akan tunduk patuh, menyerahkan diri kepada mereka. Kebiasaan merokok, ngganja, pergi ke cafe, minum bir, nafsu seks, .. Wah semua kok tampaknya buruk, atau agak buruk. Ada juga kebiasaan yang tampaknya biasa-biasa aja, seperti ngantuk, lapar, haus, malas, sayang anak, sayang jam rolex..dsb.

Mengapa disebut kebiasaan? Karena itu muncul pada saat-saat tertentu secara pasti. Misal Sabtu pagi, rasanya malas sekali untuk beraktifitas, pinginnya bermalas-malasan. Atau jika sudah 2 jam kerja, rasanya tidak kuat untuk menahan keinginan merokok.

Kebiasaan semacam ini merupakan bagian dari kehidupan dunia, neraka, nafsu dasar, atau elemen. Betapa sering manusia tak berdaya menghadapinya. Seolah sudah merupakan hal yang biasa, manusia serahkan dirinya kepada kebiasaan tersebut.

Sebenarnya dari mana datangnya kebiasaan itu? Mengetahui asal itu penting, karena “segala sesuatu akan kembali ke asalnya.” Dan jika manusia mengikutinya, maka manusia itu akan kembali ke asal kebiasaan itu. Jika salah mengikuti, maka manusia tidak akan kembali ke asalnya yang sejati.

Semua yang disebutkan di atas adalah energi, energi di dalam jasad manusia. Energi-energi tersebut berasal dari lima elemen yang membentuk darah, tulang, kulit, daging, dan sumsum. Mereka merupakan energi yang ada dalam lima jenis kehidupan: bumi, air, angin, api, ether. Jika manusia mengikuti kebiasaan itu, atau menyerahkan diri pada kekuasaan energi-energi tersebut, maka dia tak akan pergi kemana-mana, kecuali ke kelima kehidupan tersebut. Semua ini disebut kehidupan bayangan, bukan kehidupan manusia yang sejati.

Lalu, apa kehidupan asli manusia, dari mana asalnya? Sejatinya manusia bukanlah fisik dan nafsu yang terbuat dari lima elemen di atas. Jasad dan jiwa manusia yang terbentuk dari bumi, air, angin, api, dan ether tersebut hanyalah wadah untuk menyimpan ruh manusia. Sejatinya manusia adalah ruh itu sendiri. Dan ruh ini berasal dari dalam Cahaya Tuhan. Jadi, kehidupan asli manusia adalah kehidupan Cahaya, dan dia berasal dari Cahaya.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Sesungguhnya dari Cahaya Dia manusia berasal, dan kepada Cahaya itu manusia akan kembali. Ini yang harus dikejar oleh manusia, yaitu agar dia bisa kembali ke Cahaya dalam kondisi seperti awal dia diturunkan ke jasad manusianya. Jika manusia terbelenggu oleh energi-energi yang berasal dari lima elemen di atas, dari makanan-makanan yang mengandung kelima elemen ini, maka ruh manusia tidak akan kembali kepada Cahaya, tetapi tertawan di alam bayangan. Dan apa yang terjadi jika dia tertawan? Maka dia akan kena perhitungan, kena hisab. Akan dinilai amal baik dan buruknya. Namun, jika manusia sudah tak terbelenggu lagi oleh bayangan diri aslinya, manusia akan langsung kembali ke Cahaya, tanpa perlu hisab lagi.

Manusia yang seperti ini adalah manusia sejati, true human being. Dikatakan demikian, karena manusia ini sudah tak memiliki bayangan. Tidak lagi fifty-fifty antara Cahaya dan bayangan. Tidak lagi Cahaya redup dan tenggelam oleh bayangannya.

Inilah mukjizat yang sebenar-benarnya mukjizat bagi manusia, ketika dia bisa menjadi seorang manusia sejati, true human being, insan kamil, atau manusia sempurna.

Untuk mencapai itu, manusia harus bisa menembus bayangannya, menaklukkan energi-energi dari lima elemen, untuk meraih wisdom, ‘ilm, dan iman. Bagaimana caranya?

  READ MORE >>   Renungan.


6 Comments on “Two lives”

  1. Saya tertarik nih karena Om Mangil menyebut tentang insan kamil, suatu peringkat yang luarbiasa. Setahu saya yang selalu mengganggu manusia itu adalah nafsu , terutamanya nafsu yang berperingkat rendah. Berikut ini adalah 7 peringkat nafsu, mulai dari yang paling rendah sampai dengan yang tertinggi:
    1. Nafsu Ammarah
    Nafsu yang paling jahat dan paling zalim. Jika berbuat kejahatan, dia berbangga dengan kejahatannya.

    2. Nafsu Lawwamah
    Nafsu yang mencerca dirinya sendiri. Tidak hendak berbuat jahat tetapi tidak mampu melawan nafsu.

    3. Nafsu Mulhamah
    Arti lafaz ialah nafsu yang telah diberi ilham, sudah mulai dipimpin, diberi hidayah. Bila ujian datang, walaupun tidak jatuh tetapi sudah mula goyang.

    4. Nafsu Mutmainnah
    Istilah mutmainnah maksudnya tenang, tidak digugat oleh kesenangan dan kesusahan. Orang ini sudah menjadi wali kecil

    5. Nafsu Radhiah
    Orang yang berada di peringkat nafsu radhiah ini, dia me-redhai apa sahaja yang Allah takdirkan kepadanya. Nafsunya sudah jadi malaikat.

    6. Nafsu Mardhiah
    Mereka inilah yang disebut dalam Hadis Qudsi: “Mereka melihat dengan pandangan Tuhan, mendengar dengan pendengaran Tuhan, berkata-kata dengan kata-kata Tuhan.”. Ini sudah taraf wali besar.

    7. Nafsu Kamilah
    Untuk nafsu kamilah, manusia biasa tidak dapat mencapai ini. Kamilah hanya derajat untuk para rasul dan para nabi. Manusia biasa hanya sebatas peringkat keenam sahaja iaitu mardhiah.

    Marilah kita mengukur peringkat nafsu kita dan berusaha meningkatkan peringkat nafsu kita, supaya setidaknya menjadi nafsu yang tenang (mutmainnah).

  2. Waskita, terimakasih banyak. Telah menambah pemahaman kepada saya.

    Di lain kesempatan saya juga mendapat penjelasan, bahwa jika keempat nafsu yang pertama sudah bersih sih sih sih, maka kesadaran manusia akan hijrah, dari kesadaran bayangan atau kesadaran jiwa (keempat nafsu yg pertama merupakan beberapa fakultas dalam universitas jiwa) menuju kesadaran insan kamil (hakekat manusia). Kesadaran manusia sejati ini adalah kesadaran spt pada ketiga nafsu terakhir (Radhiah, Mardhiah, Kamilah). Kadang disebut juga Alif-Laam-Miim. Wallahu’alam..

  3. mas ismail yang baik,
    saya sedang mencari MURSYID, dan sudah lamaaa..sekali
    ada info?
    atau, kelompok kajian tasawuf barangkali?

    nuhun pisan,
    wasalam

  4. Mbak Henny,

    Wah, ini pertanyaan susah sekali. Mohon maaf karena saya tidak bisa jawab. Pertama karena guru mursyid itu tidak ditunjukkan oleh manusia, tetapi oleh Sang Guru itu sendiri. Dan kedua, meskipun saya senang dan merasa pas membaca pengalaman dari beberapa pejalan di jalan tasawuf, namun saya sendiri mungkin belum di’bawa’ melalui jalan ini. Jadi saya tidak bisa bicara apa-apa tentang ini.

    JIka belum ketemu guru yang berwujud manusia, kata seseorang, cari saja guru yang selalu kita bawa-bawa kemanapun kita berada. Dia ada di dalam diri, yang jika ktia melihat dengan ‘pandangannya’ maka akan tampak siapa yang sedang melintas di dalam diri kita. Apakah itu nafsu, pikiran, perasaan, atau rasa dari Allah. Setiap saat guru itu memberi pelajaran kepada kita entah kita menyadarinya atau tidak.

    Maaf beribu maaf ya kalau tidak menjawab pertanyaannya..
    Wassalam

  5. Salam mbak henny,
    Amat setuju dengan ismail fahmi dan terasa kecil diri buat menjawap siapa mursyid kerana dia telah bersama kita
    sebelum bertemu dialam mulk. Dia bertemasha ditaman marifa alam malakut, lalu diberi izin membimbing murid.
    Bakar para pengaku wali dengan api fana tujuh petala.

    Kata shaykh Junayd : guru arifun itu berwuduk dengan air laut al-jam (gatheredness) lalu membasahi bumi hijabmu.
    Jika tiada air demikian, maka bertayamum dengan debu
    dan batu. Terus berjalan mencari kembara dan mengetuk pintu.

    Para fuqara atau muridin yang benar ikhlas dan tawaduk
    takkan membuka rahsia guru wali atau menjual nama
    Pesan Maulana Rumi ; they are coming, street by street
    door by doors, proclaiming follow our tariqat teachers
    they are Qutub, Sultanul Awliya and Great grand sheikhs.

    While the real awliya travel east west and sit in sunlight or cool shades but people cannot perceive ! They see what their nafs, opinions, desires, pride and claims what to manifest. Dear mbak henny, please make effort to make contact and dig further into the excellent http://www.islamhariini.org. homepage by our friends in jakarta and bandung. Lots of precious articles, news and activities. Cai jian.

  6. Mursyid yang sejati

    Ilmunya finggi
    Mulutnya memuntahkan hikmah
    Takut kepada Allah nampak jelas di mukanya
    Gerak diamnya mengandungi arti
    Pandangnya tembus
    Dapat membaca yang tersembunyi dalam diri
    Melihat mukanya menyenangkan hati
    Pancaran dari hati nurani yang murni
    Kasih sayangnya menghiburkan hati
    Setiap yang bergaul dengannya merasa dihormati
    Melihatnya tidak jemu
    Berpisah dengannya terlalu rindu
    Siapa bersalah gelisah di depannya
    Hidupnya menampakkan murahnya dunia ini
    Akhirat tempat kembali yang abadi
    Gerak-geriknya matan kebenarannya
    Ucapannya tafsiran matanya
    Matan dan tafsiran memberi arti yang sejalan.

    karya: Ustaz Ashaari bin Muhammad at Tamimi