READ MORE >>   Books, Renungan, Wisdom.

Ada yg sudah pernah baca The Alchemist kan? Masih inget Omen, The Soul of the World, Language of the World, beginner’s luck, Maktub? What a worderful book. Buku ini sudah lama, 1992, tapi baru weekend lalu nemu di toko buku Scholten Groningen (eh ganti nama jadi Selexyz ya).

Membaca buku itu, saya jadi semakin melihat kalau semua pejalan itu berputar mengelilingi satu poros yang sama, the Soul of the World. Sebelumnya saya liburan akhir tahun lalu baca tulisan Bawa Muhayyaideen. Dan saya lihat keduanya bicara hal yang sama, bahwa kemanapun kita memandang, disitu kita melihat the Soul of the World. Seperti perjalanan ‘the boy’ mencari harta karun, dalam perjalanan dia juga tersedot menuju the Soul of the World. Dan pada titik yang paling dekat, ternyata dia temukan the Soul of the World tersebut ada dalam dirinya!

Jadi teringat lagi ketika menulis “True Love“, yang di dalamnya tertulis:

Ketika kau bisa melihat Dia, kemanapun wajahmu memandang, saat itulah kau akan memancarkan cinta sejati kepada alam semesta. Cintamu tidak terikat dan terfokus pada yang kau pegang. Cintamu tak tertipu oleh baju filosofi, agama, istri, dan harta benda yang kau cintai. Cintamu langsung melihat titik pusat dari segala filosofi, agama, istri, dan harta benda, dimana Dia berada di titik pusat itu. Cintamu langsung melihat Dia.”

Omen adalah bahasa Dia yang disampaikan langsung ke hati manusia. Melalui omen ini, Dia selalu memberi petunjuk dan peringatan kepada ciptaanNya. Siapa yang diberi? Siapapun. Namun, mengapa seolah hanya sedikit orang yang bisa mendapat omen? Itu karena hatinya sudah tertutup oleh debu sahara. Debu-debu perbedaan kaya-miskin, agama, warna kulit, kedudukan, dan debu-debu ke-’aku’-an. Istilah lain dari omen ini adalah ‘kitab’ yang khusus diturunkan bagi setiap jiwa. Ada kitab-kitab suci yang diturunkan melalui para nabi. Dan ‘kitab’ atau omen itulah, petunjuk yang khusus buat masing-masing jiwa. Omen atau ‘kitab’, hanyalah istilah. Jangan kita suka atau benci karena istilah, karena sikap ini hanya akan menutupi pandangan kita dari kebenaran yang mungkin menampakkan diri bersama seekor kucing buruk rupa. Langsung, lihat siapa yang memberi omen atau ‘kitab’ tersebut.

Bagaimana kita bisa membaca omen? Ibarat pohon, bisa saja dia tumbuh sendirian di atas sebuah bukit yang gundul. Namun, tentu tak mudah baginya untuk tumbuh lebih tinggi dan kuat, karena setiap saat angin dan petir bisa menggetarkan batangnya. Dan ketika pohon tumbuh bersama-sama dalam sebuah hutan, maka dia akan kuat, memberi banyak manfaat, menahan air, sumber makanan, rumah bagi beribu binatang, dan ladang buah bagi manusia. Dan bukan karena bersama-sama saja yang membuat dia kuat, tetapi akar inti yang menghujam lurus ke dalam tanah, ke sumber kehidupan, yang akan membuat sang pohon kuat. Akar inti, bukan akar permukaan, yang akan membawa air dan mineral ke tubuh sang pohon, walau permukaan gersang. Akar inilah yang akan memberitahu adanya omen di sekitar manusia. Dan akar inilah yang disebut dengan keyakinan, keyakinan akan adanya Soul of the World, atau keimanan kepada Sang Pencipta.

Ketika seseorang melihat ke dalam dirinya, akarnya langsung menghujam ke sumber wisdom, berbicara dengan hatinya, di situ, dia akan temukan omen ada di mana-mana, ditebarkan oleh Soul of the World buat setiap jiwa. Dia lihat segala sesuatu yang ada di sekitar dan di dalam dirinya ‘berbicara’ kepadanya. Dia lihat Dia di mana-mana.

Cobalah lihat sekeliling dan diri anda, lihat di sana ada Soul of the World, anda akan merasakan hal tersebut, bahwa alam semesta berputar bersama-sama anda, mengelilingi sebuah titik. Sadar atau tidak. Karena semua sudah “Maktub” (tertulis).

Dan, berangkali benar kata ‘the Old King’,

When you want some thing, all the universe conspires in helping you to achieve it.

  READ MORE >>   Books, Renungan, Wisdom.


12 Comments on “The Alchemist”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Kang Ismail ki pinter kalau membuat renungan. Apalagi kalau dikasih contoh rada konkret bagaimana lewat alam semesta kita bisa “achieve IT”. Selamat.

  2. Terimakasih Kang. Semua sudah “Maktub” atau ‘tertulis’ Kang, dan saya hanya membaca. Banyak contoh-contoh konkret di ‘The Alchemist’. Dan sebenarnya contoh2 itu terjadi di sekitar ktia, hanya kita tidak menyadari atau menganggap tak berarti.

  3. Maktub :)

    “Kebetulan itu tidak ada,” kata guru saya…

    “Setiap orang beramal sesuai untuk apa ia dimudahkan,” Sabda Rasulullah saw.

    Novel bagus ya, bang Fahmi? Udah baca ‘Les Miserables’? Ditunggu reviewnya ;-)

  4. Oh iya, ralat dikit: Bawa Muhaiyaddeen (ral.) itu dari Sri Lanka, Bang. Bukan Pakistan..

  5. Mas Herry, terimakasih koreksinya, sudah saya update. Saya suka ketuker2 antara tiga nama negara: Sri Lanka, Bangladesh, Pakistan.

    Saya lagi baca2 tulisan di bagian “Wisdom” nya Bawa Muhaiyaddeen (ral.). Subhanallah, nyambung banget dengan perjalanan dan pencarian saya. Lagi pesan buku2nya dari Fellowship, semoga sampai dengan selamat.

    Les Miserables tebel banget ya. Bacanya baru chapter 1 kayaknya, belum sampai ke inti :-)

  6. Kalau sudah ada “rasa”, mungkin kita hanya mencocokkan (baca: mendengarkan) apa yang ada di dalam diri dg apa yang tampak di luar diri…

  7. Benar, Isa. Setelah saya baca buku-buku dari Bawa Muhayaddeen (r.a), tingkat tertinggi kesadaran itu adalah “divine iluminous wisdom”. Tingkat yang sama, dalam istilah AKI adalah “rasa”. Istilah yang terakhir ini mudah sekali dipahami dan dideteksi oleh ummat. Doain aku ya, semoga “rasa” itu semakin kuat pancarannya dalam diriku. Sekarang lagi dalam tahapan menundukkan jiwa. Amiin.

  8. Salam sdr fahmi,
    Sekadar terbang lalu serta hinggap dipohon hikmah jika ada buah dan beburung lain jadi macam taman musafir. Memang burung Attar akan mencari kelompok yang berani mara melintasi tujuh gunung api dan taufan. Hamba baru keluar menghirup udara segar dan sejuk banjaran titiwangsa, setelah sekian lama pujangga bertafakur dalam gua ladin. Ha ha ha usah percaya coretan pondok teh miyazaki. Ada manis dan pahit buat anak buah Khawja Yusuf Hamadhani dan Master Izi.

  9. March 28th, 2007 at 5:29 pm
    Dimas Tandayu says:

    Salam’alaikum

    Mas Fahmi,mas Herry,mas Watung…Alhamdulillah Indonesia mempunyai kalian, yang menghiasi halaman web-web Indonesia dengan artikel-artikel yang penuh pencerahan.
    Semoga Kalian semua selalu dalam Naungan Cahaya Cinta Sang Kebenaran.amin

    Waalaikum salam,

    Alhamdulillah, semua hanya karena Allah. Semoga kita semua dalam bimbinganNya. Amin.

    - ismail

  10. http://sangkebenaran.blogspot.com/

    Inilah contoh ajaran bejat pedofilia Muhammad yg dengan tidak masuk akal disucikan:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci? Seorang anak kecil Muhammad nodai dalam nama allah. Dalam ilmu psikologi moderen, yang dilakukan Muhammad disebut pedofilia, dan seorang yang melakukan pedofilia dapat dikenakan sanksi hukuman mati, karena telah merampas masa depan anak-anak, dan membuat anak-anak menderita trauma kejiwaan.

  11. setuju dengan bang ismail.. buku ini merupakan penjabaran paling simple dari yang dinamakan “dunia”. kalo kita ingin mencoba dan menemukan hal baru kita harus ikhlas melepaskan apa yang telah kita ketahui sebelumnya dan terbuka dalam menanggapi semua kejadian yang tersirat. bukan tertutup oleh dogma agama, kepercayaan, atau ego individu.

    PS: hatred will only bring hatred.. and that is evil work!
    klo bang ismail masih inget, disitu ada tribal wars di tengah gurun, dan klo saya tidak salah the alchemist bilang, “pertempuran yang terjadi antara dua suku bukan antara baik atau jahat karena Tuhan beserta mereka semua. Tapi apa yg terjadi adalah the balancing of power between men” maaf klo ada salah, krn saya masih newbie :)

  12. Meluruskan Riwayat Pernikahan Rasulullah SAW-Aisyah r.a.

    Berita Syekh Puji menikahi gadis berusia 12 tahun cukup membuat resah banyak
    kalangan. Di media dia beralasan salah satunya karena mencontoh Rasulullah yang
    menikahi Aisyah ketika Aisyah berusia 6 tahun. Sehingga jika Rasulullah
    menikahi Aisyah yang 6 tahun, tidak bersalah dong kalau dirinya menikahi gadis
    yang berusia 12 tahun.

    Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra.
    yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Dan efeknya,
    orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai
    alat tuduh terhadap Rasulullah dengan menganggapnya fedofilia. Mari kita
    buktikan. Secara keseluruhan data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari
    hasil riset Dr. M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad SAW The Super Leader
    Super Manager (2007).

    Kualitas Hadits
    Alasan pertama. Hadits terkait umur Aisyah saat menikah tergolong problematis
    alias dho’if. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan Aisyah
    dengan Rasulullah yang bertebaran dalam kitab-kitab Hadits hanya bersumber pada
    satu-satunya rowi yakni Hisyam bin ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari
    ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan
    tentang umur pernikahan ‘Aisyah r.a tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah
    ataupun Malik bin Anas. Itu pun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim
    di iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun.
    Mengenai Hisyam ini, Ya’qub bin Syaibah berkata: “Apa yang dituturkan oleh
    Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke
    Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang
    dilaporkan oleh penduduk Iraq. (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib. Dar
    Ihya al-Turats al-Islami, Jilid II, hal. 50) Termaktub pula dalam buku tentang
    sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut
    ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301).
    Alhasil, riwayat umur pernikahan Aisyah yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah,
    tertolak.

    Urutan Peristiwa Kronologis
    Alasan kedua. Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting
    secara kronologis ini:
    Pra-610 M : Zaman Jahiliyah
    610 M : Permulaan Wahyu turun
    610 M : Abu Bakar r.a. masuk Islam
    613 M : Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka
    615 M : Umat Islam hijrah I ke Habsyah
    616 M : Umar bin al-Khattab masuk Islam
    620 M : Aisyah r.a dinikahkan
    622 M : Hijrah ke Madinah
    623/624 M : Aisyah serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW.
    Menurut Al-Thabari, keempat anak Abu Bakar ra. dilahirkan oleh isterinya pada
    zaman Jahiliyah. Artinya sebelum 610 M.
    Jika ‘Aisyah dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti ‘Aisyah lahir tahun 613 M.
    Padahal menurut Al-Thabari semua keempat anak Abu Bakar ra. lahir pada zaman
    Jahiliyah, yaitu sebelum tahun 610. Jadi kalau Aisyah ra. dinikahkan sebelum
    620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai
    suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW dalam umur di atas 13 tahun. Kalau di
    atas 13 tahun, dalam umur berapa pastinya beliau dinikahkan dan serumah? untuk
    itu kita perlu menengok kepada kakak perempuan Aisyah ra. yaitu Asma.

    Perhitungan Usia Aisyah
    Menurut Abdurrahman ibn Abi Zannad, “Asma 10 tahun lebih tua dari ‘Aisyah ra.”
    (At-Thabari, Tarikh Al-Mamluk, Jilid 4, hal. 50. Tabari meninggal 922 M)
    Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal
    tahun 73 atau 74 Hijriyah (Al-Asqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 654). Artinya,
    apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal pada tahun 73 atau 74
    Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah
    berumur (27 atau 28) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijriyah. Dengan
    demikian berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW
    pada waktu berumur 19 atau 20 tahun.
    Allohu a’lam bishshawab.

    ustadz Syafii Antonio

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>