READ MORE >> Discussions.
Komentar saya ini sekaligus untuk mengomentari tulisan Kang Adhi di blog beliau, yg kalau bisa saya simpulkan dengan semena-mena (hehehe) Kang Adhi tidak setuju dengan hukuman mati. (Asumsi pilihan hanya dua: setuju atau tidak).
Dan buat Kang Harry: kenapa harus ada hukuman mati, apa tujuannya?
Well, semalem saya nemu situs yg bagus banget tenteang topik ini:
A call for reckoning: Religion and the death penalty
Disitu para pakar: profesor ahli hukum islam, ahli hukum kristen, filosofer, journalis, gubernur, mantan FBI, mantan attorney, .. menjadi panelis.
Mereka menyampaikan pandangan masing-masing, yang tentu kalau kelompokkan ada dua poros: pro dan kontra. Saya tidk bisa merangkum pandangan mereka, krena mabok kalau bacanya. Silahkan yg ahli hukum menguyahnya buat saya hehehe.
Saya tertarik salah satu sudut pandang dari Gubernur Oklahoma, Frank Keating. Siapa dia? Hanya untuk memberi impresi kepada Anda, banyaknya pengalaman di lapangan baik sebagai pelaksana atau pengambil kebijakan:
“In my life I have been an FBI agent, I’ve been a state prosecutor, I’ve been a United States Attorney, I supervised all the federal prosecutions in the United States and many of the law enforcement agencies, most federal law enforcement agencies in the country, including the U.S. Bureau of Prisons.”
Sebagian bilang, alternatif dari capital punishment adalah life sentence, hukuman seumur hidup. Is that so? Dalam kenyataan, hukuman seumur hidup lebih sering bukan hukuman seumur hidup. Karena:
“It came as a surprise to them that we had situations where people were sentenced to life in prison without parole and it didn’t mean that, that people were released, people escaped, people killed other people while in prison, and that happens, by the way, far more frequently than we think.”
Itu satu catatan tentang bagaimana alternatif dari hukuman mati: life sentence.
Catatan berikutnya, adalah, bagaimana dengan penderitaan yang luar biasa yang dialami oleh korban dan keluarga yang ditinggalkan. Dia mengkritisi anjuran agar ketika berdiskusi ttg soal ini, tidak melibatkan emosi, dan tidak melibatkan individu. Menurut dia, tidak bisa begitu, karena “this is all about. people doing horrible incredibly sick, evil things to other people.” Beberapa orang memang mengharapkan hukuman itu dengan melakukan kejahatan pembunuhan. Pertanyaan buat kita, apakah kita akan memberikan yang lebih rendah dari yang diharapkan oleh orang itu?
Kang Adhi bilang: “Ada banyak cara dan kesempatan untuk menghindarkan masyarakat kita dari tragedi kemanusian yang mengerikan karena kejahatan manusia lain. Dibutuhkan kerja keras luar biasa untuk melakukannya. Pendidikan nilai, kerjasama penuh pengertian, seni kemanusiaan dan sebagainya.”
Benar, tapi ada sebagian kecil orang yg memang deserve to death. Contohnya, ini saya kutip sebagian dari paparan Gubernur Keating:
***
FRANK KEATING
GOVERNOR OF OKLAHOMA
http://pewforum.org/deathpenalty/resources/transcriptlunch.php3
But I said, tell me what you do with a Roger Dale Stafford, who south of Interstate 35 in Oklahoma City waved down a car consisting of a staff sergeant of the Air Force and his wife and their eight-year old son. He took the staff sergeant over the hill and he shot him in the face and killed him. This was a robbery. He took his wife over the same berm and shot her and killed her and he came down to the truck, and, whimpering in the back of the cab of the truck, wrapped up in blankets trying to get away from it all, was this eight-year old son, and he fired until he was out of bullets in the back of the truck until the whimpering stopped. Then he went to Oklahoma City in a steakhouse, a family type restaurant. It was closing up and he herded five 15-year olds into the freezer and killed them execution style as a part of taking money from the cash register. Now, what do you do with someone like that?
My sense of ethics, my sense of morals, my sense of right and wrong is one that says for someone who bounces a check you don’t chop off their hand but for somebody who kills eight human beings they forfeit the right to live. That is my sense of values, my sense of ethics.
Now, obviously if the state of Oklahoma or the state of Illinois or the United States were to move in another direction, I take an oath to uphold the law and I would do so – not necessarily with a smile but I would do so – because I look at someone like that and I say that this good earth, this wonderful land is too good for him. I believe that.
Timothy McVeigh killed 168 of our neighbors and friends in Oklahoma City, including 19 children. Now, people say when you debate the death penalty you shouldn’t get into emotions, you shouldn’t talk about individuals, but you have to because that’s what it is all about, people doing horrible incredibly sick, evil things to other people.
***
Komentar buat Petit bahwa: jika di Indonesia mau ada penghapusan hukuman mati, maka itu harus tanya ke masyarakat Indonesia bukan ke segelintir orang.
Kemaren saya temukan satu paparan (masih di situs konferensi di atas), yg menyatakan ada tiga alasan ‘karena dasar hukum apa’ hukuman mati itu ditegakkan. Tadi saya cari2 kok kobet (ndak dibookmark sih hehehe). INtiya, dari tiga alasan tsb, alasan ketiga adalah karena “teks suci”. Profesor/filosofer (saya lupa) yg memberi paparan berpendapat bahwa yang paling bisa dia terima adalah alasan ketiga tersebut.
Saya pribadi bukan seorang filosofer yg mengetahui hingga kedalaman, sehingga saya memilih untuk memegang kebenaran dalam teks suci. Alasan saya: pikiran sayasangat terbatas dalam memahami fenomena di alam semesta. Dan lagi-lagi, karena belum haqqul yakin (melihat sendiri), saya pegang ilmul yakin (karena ilmu) bahwa ada hikmah yg disampaikan dalam teks suci tersebut.
Dalam Al-quran:
AL MAA-IDAH (5:32)
Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.
Ayat ini memberitahu bagaimana mulianya kehidupan itu. Bahkan jika kita memelihara satu nyawa, sama saja dengan memelihara nyawa seluruh umat manusia.
AL AN’AAM (6:151)
dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).
Dan ayat di atas memberi sinyal “boleh membunuh karena suatu (sebab) yg benar”. Berarti, bukan tidak boleh sama sekali, bukan tidak ada hukuman mati sama sekali. Why?
***
Terakhir komen buat Kang Adhi yg bilang “Tetapi bila kita lihat lebih saksama, hukuman mati selalu merupakan bentuk balas dendam dengan menggunakan perangkat negara.”
Apakah benar begitu mas, benar “balas dendam”? Saya punya feeling, kalau kita lihat seksama, ada alasan yang lebih filosofis, esensial, dari alasan itu.
Wallahu ‘alam.
Hanya Dia yang Maha Tahu.
READ MORE >> Discussions.











No Comments on “Hukuman Mati”