READ MORE >>   Renungan.

Pagi tadi, di sela kerja (sebenarnya kerjaan saya baca-baca saja. baca paper), ada email masuk dari istri saya. Dengan gembira dia beri link ke tulisan Mbak Helvy, tentang poligami (sebenarnya sudah bosan membahas ini, tetapi ada yang menarik untuk dicatat). Tulisannya menarik, karena berasal dari hati nurani. Dan ada yang menarik lagi baginya, yaitu komentar dari Mas Tomi atas permintaan dari salah seorang pengunjung agar diskusinya dimoderasi (mungkin masudnya difilter dan diluruskan kalau ada yang melenceng). Mas Tomi menjawab begini:

Dengan segala hormat pada kemuliaan dan ilmu para ustadz kita –semoga Allah selalu merahmati para pewaris Nabi ini– saya tetap berpendapat harus tetap terbuka ruang diskusi untuk bertanya dan mencari penjelasan atas perkataan, perbuatan maupun diamnya mereka.

Jika Umar ra saja dinasihati dengan pedang, apatah lagi para ustadz yang juga manusia biasa ini. Keengganan untuk mengkritik mereka, kecenderungan untuk mudah memaklumi perilaku mereka justru akan membuat mereka mudah lupa diri. Nau’dzubilLahi min dzalika.

Kita muliakan para ustadz kita, antara lain dengan mengingatkan dan menegur mereka saat mereka berlaku silap.

“Ustadz juga manusia…!”

Jawaban di atas seperti menjawab pertanyaan dalam diskusi di rumah kami tadi pagi sebelum saya berangkat: “Bagaimana kita menyikapi tindakan orang lain, khususnya dia seorang tokoh yang menjadi panutan? Haruskah kita diam saja, karena takut jatuh pada ghibah atau fitnah (kalau ternyata dugaan salah)?”

Dari komentar Mas Tomi di atas, saya jadi berpikir: harus ada ruang untuk bertanya bagi nurani yang terusik. Kegundahan, kekecewaan, dan kebingungan adalah sinyal yang berasal dari dalam. Bisa jadi dari nafsu atau pikiran, namun juga tak menutup kemungkinan itu dari nurani yang merasa tidak pas dengan kejadian di luar dirinya.

Untuk mengenal diri, seorang pejalan (suluk-er) harus mempelajari dorongan yang keluar dari dalam diri, bukan mengabaikannya. Cari tahu sebenarnya dorongan itu berasal dari mana, apakah dari rasa kebaikan (taqwaaha) atau rasa keburukan (fujuuroha). Dan dia tidak akan pernah tahu siapa atau apa itu yang bersemayam dalam dirinya, jika mengabaikannya.

Ignorance, seharusnya tidak ada dalam kamus seorang yang berusaha berserah diri. Mengapa? Dalam Al-Quran, betapa sering Allah berpesan kepada manusia, agar mereka membaca kebesaranNya yang tampak di alam semesta. Misal dalam ayat di bawah ini (yang saya ambil dengan snap):

Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezeki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam.
AL MU’MIN (40:64)

Lihatlah bumi tempat kau berpijak. Lihatlah langit tempat kamu berteduh. Dan lihatlah dirimu, yang Aku baguskan. Dan di ujungnya, kita diajak untuk mengenalNya: Itulah Aku, Tuhan semesta alam.

Dalam lingkup yang lebih kecil, saya memahami ayat itu sebagai ajakan agar: melihat apa yang ada di luar diri dan di dalam diri. Untuk apa? Untuk mengenalNya.

Hal yang paling mudah dilihat di luar diri adalah kejadian sehari-hari. Berarti, di balik kejadian itu pasti ada maksud dari Allah yang mengijinkan sesuatu itu terjadi. Jika kita mengabaikan hal itu, maka kita tidak akan pernah bisa menangkap maksudNya.

Sedangkan di dalam diri, yang paling mudah kita tangkap adalah perasaan dan pikiran. Benar, ada dua jenis rasa di atas. Dan kita tidak tahu, rasa mana yang sedang muncul, kecuali kita mencari tahu. Kita hanya berusaha untuk mendapat penjelasan, agar jelas mana yang hitam dan mana yang putih.

Sesungguhnya, manusia itu hanyalah “mata-mata“. Tugasnya hanyalah menyaksi. Bersaksi. Bersyahadat. Menyaksikan Kebesaran Allah, dengan terus mengamati yang di luar dirinya, dan mengamati yang di dalam dirinya. Hingga akhirnya, dia bisa “melihat” kekuasaan Allah ada di mana-mana, di balik setiap yang dia lihat dan rasakan. Hingga tidak tampak lagi ada “Kehendak” lain di balik itu semua, kecuali Kehendak Allah. Hingga persaksian “Aku bersaksi tidak ada Tuhan kecuali Allah” itu berdiri tegak dalam dirinya.

Untuk itu, ruang bertanya harus selalu terbuka, hingga tak ada lagi yang perlu ditanyakan. Tidak ada pertanyaan bukan berarti mengabaikan apa yang dilihat dan dirasakan. Tidak ada pertanyaan, itu karena dirinya sudah mengenalNya. Siapa yang berani mengaku sudah mengenalNya?

Allah tidak memerintahkan manusia agar “sudah” mengenalNya. Kerena Dia tahu, kebanyakan manusia bahkan tidak mengenal dirinya sendiri. Tapi Dia memerintahkan manusia agar berusaha membersihkan dirinya, agar masuk petunjuk kebaikan ke dalam kalbunya.

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, ASY-SYAMS (91:9)

Tetaplah bertanya. Bertanya kepada manusia, kepada bumi, kepada langit, dan kepada hatimu. Hingga kamu tahu, rasa yang mana yang membuatmu bertanya. Hingga bersih jiwamu.

  READ MORE >>   Renungan.


4 Comments on “Terbuka Ruang untuk Bertanya”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Mohon kiranya bapak dapat memberikan kepada kami melalui email perihal tasawuf sebagai bahan referensi dalam penelitian kami perihal tasawuf, semoga Allah SWT dapat membalas kebaikan hati bapak. Terimakasih

  2. Bagaimana hubungan qlb & ‘aql

  3. bgmn kaitan qalb & ‘aql,

  4. January 24th, 2010 at 11:53 pm
    Ismail Fahmi says:

    @Obry: Qolb is from the heaven, Aql is from the earth.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>