Oct 04 2007

Thanks to Malaysia: Rasa Sayang Hey

Filed under: Wisdom

Before:

* kurangnya perhatian pemerintah terhadap warisan budaya (lihat kondisi perpustakaan dan museum2, serta kurangnya proteksi dan promosi)
* generasi muda yang lebih suka dengan budaya modern (lihat aja tarian2 di TV, berapa banyak yg menggunakan tarian dearah?)
* ndak sadar akan pentingnya mengelola dan mendata (baca: mendaftarkan) kekayaan budaya

After:

* pemerintah pusat, dpr, gubernur kini bersemangat membela warisan budaya
* anak-anak muda juga semakin bersemangat melihat kembali warisan budaya (lihat diskusi di forum detikcom), dengan membuka wacana untuk membuat database indonesian heritage
* seniman dkk kini mendapat sorotan, tantangan dan perhatian (lebih dari sebelumnya), dan semoga apresiasi kepada mereka juga meningkat
* …. dan mungkin masih ada banyak lagi dampak positifnya
* saya dan anak-anak di rumah jadi suka menyanyikan lagu Rasa Sayange (asyik juga ternyata) di tambah dengan pantun-pantun spontan yang berisi pesan moral (ini mah dampak pribadi hehehe.. siapa tahu juga ada yg begitu)

Read the rest of this entry »

Sep 12 2007

Licinnya Gunung Thursina

Filed under: Renungan, Wisdom, Ramadhan

climb.jpgPara nabi mengalami penderitaan dan kesulitan dalam hidupnya. Meskipun Allah telah membantu mereka melalui para malaikat, tetap saja mereka harus mengalami kesulitan demi kesulitan. Itulah jalan untuk mencapai tingkatan seorang nabi. Jika seorang manusia berjalan mendekati tingkatan itu, mereka pun akan mengalami kesulitan, kesulitan, dan kesulitan.

Nabi Musa ketika akan menerima Sepuluh Perintah Tuhan, mengalami banyak sekali kesulitan dalam mendaki gunung Thursina. Jalan yang dilalui licin sekali. Ketika seseorang mengangkat kakinya setapak, saat itu berbagai kesulitan akan menarik tubuhnya, hingga jatuh tujuh langkah ke bawah. Demikian seterusnya, sehingga jika dia tak bisa melalui kesulitan itu, tak akan mungkin gunung Thursina ditaklukkan.

Gunung Thursina ini bukanlah gunung yang berada di Timur Tengah. Jika hanya ini yang dimaksud dengan Gunung Thursina, tentu mudah sekali didaki. Gunung Himalaya, atau gunung tertinggi di dunia akan masih mudah didaki. Sedangkan gunung Thursina yang dimaksud, jauh lebih sulit didaki. Sinai berarti nafsu, itulah gunung nafsu yang bertengger di dalam diri.

Ketika seseorang melangkahkan kakinya sekali, misal bersodaqoh, berbagai kesulitan langsung menarik dia agar jatuh kebawah: rasa riya, kesombongan, keakuan, rasa lebih kaya, rasa lebih beruntung. Jatuhlah dia diinjak-injak oleh runtuhan bebatuan nafsunya.

Read the rest of this entry »

Jul 17 2007

Cahaya dan Bola Lampu

Filed under: Wisdom

light-bulb.jpgJika bola lampu itu masih padam, dan masih bisa melihat wujud dirinya, dengan cahaya apa dia akan menerangi sekitarnya? Dia sendiri masih gelap gulita.
Groningen, 17 Juli 2007

Bismillah arrohman arrohim.

Sebenarnya ada yang kontradiksi dengan tulisan ini. Dia berbicara tentang ‘cahaya’ dan ‘bola lampu’. Di satu sisi, pembicaraan tentang ini seyogyanya dilakukan di dalam diri dengan hening; bukan seperti yang dilakukan oleh seorang penabuh genderang di depan sebuah toko, mengundang orang-orang untuk membeli barang-barang yang sedang diobral. Ribut sekali. Namun di sisi lain, saya perlu menuliskan apa yang telah menyelinap dalam hati saya ketika tadi 15 menit duduk di tepi sungai Westerhaven membaca “Hajj: The Inner Pilgrimage.” Setelah saya renungkan, penting untuk menuliskan wisdom yang telah mencerahkan saya, sebagai pengingat jika kelak saya lengah. Saya merasa seperti penabuh genderang itu. Ribut sekali. Walau demikian, semoga hanya dinding-dinding hati saja yang merasakan getarannya. Tak lebih dan tak kurang.

Bola lampu

Minggu lalu ada sebuah mobil truk bermuatan pipa dan kabel listrik berhenti di depan rumah. Gardu listrik di kompleks flat saya sedang diperbaiki. Saya pun memberitahu anak-anak tentang mobil itu, apa yang akan dilakukan oleh para pekerja, bagaimana listrik bisa sampai di rumah, dan bagaimana bahayanya. Entah bagian mana dari cerita saya yang menempel di anak-anak, yang pasti setelah saya pergi kerja, anak-anak khususnya Lala menjadi takut dengan listrik. Apapun yang dia lihat bisa menghantarkan listrik, dan pengetahuan ini begitu menakutkan buat dia. Perlu kerja keras istri saya untuk memberi pemahaman tambahan bahwa hanya benda-benda yang menjadi sumber listrik dan yang mengalirkan arus listrik yang berbahaya.

Salah satu yang membuat Lala tenang dan bisa normal lagi adalah ketika ingat bahwa dengan listrik bola lampu bisa menyala, dan ruangan bisa terang. Dia tak takut apalagi membenci listrik, tetapi menerimanya.

Read the rest of this entry »

May 17 2007

Der Spiegel, Sang Cermin

Filed under: Renungan, Wisdom

Yang saya lihat bukan siapa-siapa.
Yang saya lihat adalah diri saya sendiri.
Hmm… cuma begini kualitas saya.
– 17 Mei 2007

mirror.jpgPukul 8 pagi. Ini adalah saat yang lumayan sibuk buat saya, karena harus bersiap-siap mengantar anak-anak ke sekolah. Setelah mandi dan mengenakan baju yang bersih, persiapan terakhir adalah menyisir rambut. Meskipun dengan sisir dan kedua tangan saya sudah bisa merapikan rambut, saya selalu memilih untuk menyisir rambut di depan cermin.

Ah, rambut saya sudah panjang. Bagian depan sudah mulai menutupi pandangan mata dan bagian samping juga sudah masuk ke telinga. Namun saya rasa masih bisa menunggu beberapa minggu sebelum akhirnya rambut ini harus dipotong biar rapi.

Hebat sekali penemu cermin ini. Sungguh berjasa kepada umat manusia, sehingga mereka bisa melihat wajah mereka sendiri. Di depan cermin, manusia bisa mengetahui dengan segera jika ada jerawat yang mulai tumbuh, seperti istri saya yang mulai totol-totol kalau ‘musim’nya tiba. Dengan membersihkan kotoran di wajah yang tak sedap di pandang mata, melapisi kulit dengan sun block dan pupur, atau menyisir dan mencukur rambut, seseorang akhirnya bisa tampil dengan cakep. Hati pun senang.

Sebentar. Bukankah manusia bukan hanya terdiri dari fisik saja? Bukan hanya dari wajah yang tampak di cermin saja? Bukankah manusia juga memiliki bagian yang tak tampak mata? Ibarat botol yang tak tembus pandang, kita tak pernah tahu apa isinya, sebelum kita menuangkan isi botol tersebut keluar. Demikian juga dengan manusia, kita tak pernah tahu isi dirinya, sebelum kita memaksa dia mengeluarkan isi hati dan pikirannya. Isi botol adalah bagian yang tak tampak dari botol itu. Dan pada manusia, isi hati dan pikirannya adalah bagian yang tak tampak dari dirinya.

Kalau mengeluarkan isi botol gampang, tinggal dibuka tutupnya dan dibalik, langsung keluar isinya. Untuk manusia bagaimana? Adakah cermin untuk mengetahui “inner beauty” manusia? Dan apakah kita bisa mengetahui “inner” orang lain?

Read the rest of this entry »

May 01 2007

On Meditation

Filed under: Renungan, Wisdom

Seorang pengikut Budha, dengan baju khasnya, menatap saya dan mengisyaratkan dia ingin berbicara dengan saya di Herestraat, sebuah jalan paling ramai di Groningen. Saya berhenti, ingin tahu apa yang ingin dia sampaikan. Setelah menanyakan kabar, dia memperkenalkan diri sebagai seorang pengikut Budha dari Amsterdam. Dia sedang menjalankan tugasnya, menyebarkan ajaran Budha, yang telah ditulis dalam sebuah buku oleh gurunya dari India. Dia perlihatkan buku itu kepada saya sambil menanyakan keadaan saya, pekerjaan saya, dan apakah saya bahagia.

Intinya dia ingin bilang bahwa manusia butuh bermeditasi, agar manusia menemukan siapa dirinya. Melalui meditasi, manusia akan mengetahui bahwa dirinya bukan siapa-siapa, hanya wadah saja, dan manusia akan bisa membersihkan dirinya dengan cara ini. Buku itu menjelaskan teknik meditasi yang bisa mengantarkan manusia ke sana.

Saya setuju dengan hakekat yang dia sampaikan, dan saya sampaikan bahwa saya muslim, setiap hari juga melakukan meditasi melalui shalat. Dan bukan hanya meditasi seperti ini saja yang dibersihkan dalam Islam, namun juga badan dibersihkan melalui puasa, harta dibersihkan melalui zakat, dst.

Dengan halus saya menolak membeli bukunya, dan saya sampaikan, “Semoga anda mendapatkan hari yang baik dan kebahagiaan.”

Selepas bertemu dengan orang itu, saya bertanya dalam diri tentang meditasi. Apa dan bagaimana sebenarnya meditasi itu. Pagi ini saya dapatkan jawabannya dari buku “Question of Life, Answers of Wisdom”. Dalam buku itu, seorang murid bertanya kepada seorang guru sufi.

Read the rest of this entry »

Apr 29 2007

Evil in ourselves

Filed under: Wisdom

Dalam sebuah jamuan minum teh, Okakura Kakuzo berkata dalam sebuah bukunya:

“Kita melihat keburukan dalam diri orang lain, karena kita melihat keburukan itu dalam diri kita. Kita tak pernah mengampuni mereka yang menyakiti kita, karena kita percaya bahwa kita tak akan pernah diampuni. Kita menceritakan hal-hal yang buruk kepada orang lain, karena kita kita ingin bersembunyi dari kenyataan itu. Kita memperlihatkan kekuatan kita, agar orang lain tak melihat kesalahan kelemahan kita. Oleh karena itu, jika anda menilai saudara anda, berhati-hati lah karena itu adalah diri anda yang sedang dinilai.”

Apr 25 2007

Langit tanpa mendung

Filed under: Renungan, Diary

Jangan pernah menyalahkan matahari yang tak pernah kau rasakan sinarnya di kala mendung. Dia selalu di sana. Selalu memberi, menanti, dan melihatmu.
–25 April 2007

Pagi, jam 8.45, saya sudah sampai di sebuah perempatan sungai Westerhaven. Tampak beberapa kapal pesiar dan rumah kapal berlabuh di tepiannya. Dan seorang lelaki tua, sendirian duduk di bibir sungai yang sudah dikeraskan, sambil memancing. Di tepian yang sama, ada tiga bangku panjang yang terbuat dari kayu. Pada musim semi dan musim panas yang lalu, saya sering duduk sebentar sebelum melanjutkan perjalanan ke kantor. Pagi ini, saya ingin menikmati kembali moment tersebut. Lima menit bersama hangatnya sinar matahari yang cerah dan kesejukan udara pagi.

Bangku itu menghadap ke sungai, dan ketika saya duduk, matahari tepat berada di depan wajah saya. Saya lupa tidak membawa sun glass, sehingga harus memejamkan mata untuk menghalau silau.

Dalam keterputusan pandangan mata dengan alam, kulitku yang selalu meradakan hangat dan dingin mulai berbicara. Biasanya mata yang dominan memberi informasi, sehingga sang kulit jarang mendapat bagian perhatian. Saat itu adalah bagiannya.

Perlahan-lahan rasa hangat di wajah yang berhadapan dengan matahari memasuki hati. Kurasakan kasih sayang yang luar biasa dari Sang Pencipta kepada seluruh makhluk ciptaanNya. Melalui matahari, Dia berikan kehangatan dan energi kepada segala yang di bumi. Jalanan yang semalam lengang, menjadi sibuk oleh mobil-mobil yang membawa tuannya ke tempat kerja. Dengan atau tanpa kesadaran, semua mengikuti jalannya matahari.

Read the rest of this entry »

Apr 23 2007

Thesis, dan bermain bola dengan anak-anak

Filed under: Renungan, Diary

Ternyata, ketika segala attachment (ikatan) telah diputus, dan segala indra disatukan ke pusat parabola di dalam diri, Dia akan membukakan hijab dalam hati, sehingga saya bisa melihat Dia ada di sana, dan di mana-mana. Dia ada bersama syukur, cinta dan kasih sayang.
– 23 April 2007

Hari ini adalah waktu yang sangat berharga. Sangat-sangat berharga untuk menulis thesis. Sudah beberapa minggu tidak ada kemajuan walau satu halaman, karena harus menganalisa 32 buah paper “previous works“. Analisa sudah selesai, data sudah diolah, dan grafik sudah dibuat. Dan sejak tadi pagi saya sudah menulis beberapa paragraph. Ide-ide lagi lancar, jadi ingin sekali bisa terus menulis hingga malam tiba.

Setelah menjemput anak-anak dari sekolah, saya mengajak mereka makan sore. Istri saya sendiri harus istirahat karena sakit. Lala pintar makannya, dan tampaknya bisa menghabiskan makanan yang sudah diambilkan. Sedangkan Malik agak susah. Baru beberapa suap matanya sudah menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Untuk memotivasi agar dia mau bertahan hingga selesai, saya menjanjikan mengajak dia main bola jam 5 sore. Ternyata dia bersemangat dan berusaha menyelesaikan makanannya.

Read the rest of this entry »

Apr 16 2007

Dicuci itu sakit, Jendral!

Filed under: Renungan, Wisdom

washing-machine-man.gifSetiap lebaran, saya selalu teringat kampung. Pasalnya, saya dan anak-anak yang lain, selalu menggunakan baju baru yang belum pernah dicuci sebelumnya. Jadi masih bau toko. Dan kesan ini selalu melekat hingga sekarang. Kalau ada baju baru yang masih bau toko, otomatis pikiran akan menyetel film lebaran masa kecil itu.

Ketika saya masih di Bandung, belum berangkat ke tanahnya Londo ini, saya beli sebuah baju koko warna putih. Bahannya bagus, halus, sejuk, pokoknya enak lah kalau dipake. Jadinya baju itu sering saya pake. Perlakuan terhadap baju koko dan baju sehari-hari berbeda. Kalau baju sehari-hari biasanya dipake sehari, terasa kotor, lalu dicuci. Tapi kalau baju koko, karena pinginnya dipake setiap hari ketika sholat, makanya dicucinya bisa seminggu atau dua minggu sekali. Rasanya selama belum ada daki dan belum bau, masih enak lah dipakenya.

Begitulah nasib si koko. Dia sering dipake, sering kotor, dan sering dicuci. Sekarang pun masih saya pake di rumah. Kemaren saya sempat perhatikan warnanya. Ternyata sudah tidak seputih ketika pertama kali saya beli. Warna putihnya sudah agak berubah, agak-agak kuning. Meskipun saya cuci dengan mesin cuci, dan sabun cuci khusus, tetap saja tidak bisa kinclong putih. Mungkin karena kecampur dengan baju-baju yang lain sehingga zat warnanya ikut nempel ke si koko. Read the rest of this entry »

Mar 10 2007

Kera itu bernama Pikiran

Filed under: Renungan, Wisdom

monkeymind.gifPernah ke hutan atau taman kera di Bali? Atau kalau ke Bali kan ada tempat yang buanyak sekali keranya. Apa yg akan terjadi kalau kita jalan-jalan ke sana? Peringatan buat pengunjung: hati-hati dengan barang berharga anda. Biasanya kera-kera itu akan mencuri barang-barang berharga kita sperti jam tangan, kacamata, anting-anting, tas, dll. Dia akan mencuri kesempatan setiap kita lengah, mengambil barang-barang tersebut, dan membawanya lari naik ke pohon. Tapi semua diambil. Diacak-acak. Abis itu dibuang. Padahal kera itu tidak butuh itu semua, dia hanya butuh pisang.

Kera-kera itu adalah pikiran kita sendiri. Betapapun berharga sesuatu disampaikan ke dalam diri kita, tentu akan diacak-acak oleh pikiran kita. Coba saja kalau kita memahami tulisan hikmah dari sebuah sumber dengan pikiran kita, bukan dengan hati. Kita mungkin akan menemukan buanyak sekali hal yg belum pernah pikiran ketahui, sehingga akan diacak-acak. Pikiran akan merasa lebih hebat dengan selalu membawa dalih sumber yg dia yakini. Itulah pikiran kita, itulah kera-kera di Bali itu. Jadi, biar selamat, kita harus jaga baik-baik perhiasan kita. Kita sembunyikan agar mereka tidak bisa mengacak-acaknya. Agar barang berharga itu menjadi bermanfaat buat diri.

Ingin mengetahui aksi para kera itu? Mudah sekali. Ketika sholat sendiri di tengah malam, perhatikan berapa sering pikiran melintas, membawa bayangan ini itu, mengikuti cabang-cabang bayangan tersebut ke sana dan kemari, hingga kita menjadi “lost in a jungle of mind”.

Read the rest of this entry »